Tampilkan postingan dengan label vajrayana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vajrayana. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Maret 2014

perkembangan tantrayana


PERKEMBANGAN TANTRAYANA
DAN AJARAN-AJARANNYA

Tantrayana memiliki arti secara harafiah jalan Tantra atau Jalan Petir (kilat). Dikatakan demikian karena Tantrayana merupakan kelanjutan dari Hinayana yang menekankan disipilin Dharma, dan Mahayana yang menekankan jalan Bodhisattva. Sehingga Tantrayana bukan saja menekankan disiplin Hinayana dan cita-cita Mahayana, lebih dari itu memiliki kajian dan pemahaman yang lebih dalam dan jauh didalam menghayati jalan serta mereaiisasikan tujuan, baik tujuan dari Hinayana untuk mencapai pembebasan maupun Mahayana yang menginginkan tujuan Bodhisattva. Dengan demikian Tantrayana merupakan perpaduan antara pelaksanaan Hinayana dan Mahayana disamping ajaran esoterik Tantrayana sendiri.

Selasa, 04 Februari 2014

MANFAAT JADI BHIKKHU

Tiap orang memiliki pandangan-pandangan berbeda tentang seorang bhikku. Jika ditinjau dari umur, pendapat remaja lain dengan pendapat orang dewasa. Remaja berpendapat bahwa menjadi bhikku berarti mencukur rambut mengenakan jubah, melaksanakan sila-sila, dan mengendalikan hawa nafsu. Ini tak sesuai dengan jiwa meraka. Jiwa yang penuh dengan gejolak nafsu. Sangat sulit bagi mereka yang mengendalikan nafsu keinginan. Bagi mereka, masa remaja harus diisi dengan kesenangan-kesenangan dan pergaulan. Menjadi bhikku adalah urusan di hari tua nanti.
Orang dewasa memiliki pandangan lain lagi. Mereka mungkin menyatakan, menjadi bhikku berarti berusaha menghindari kenyataan-kenyataan hidup. Menurut mereka, hidup adalah suatu tantangan yang harus mereka hadapi.
Cara seseorang memandang keadaan bhikku juga di pengaruhi oleh tingkat kesadaran yang dimilikinya. Pada umumnya, makin bertambah umur seseorang makin bertambah pula kesadarannya. Sehingga lama kelamaan ia dapat mengetahui hakekat untuk apa sebenar nya menjadi bhikku. Dalam kitab suci Dhammapada, Vagga II (Appamada Vagga = Kewaspadaan), ayat 21, sang Buddha menyatakan :
“Kesadaran adalah jalan menuju kehidupan, ketidaksadaran adalah jalan menuju kematian. Orang yang sadar tidak akan mati, yang tidak sadar seolah-olah telah masuk kubur.” Dalam menjalani proses kehidupan, seseorang memperoleh pengalaman-pengalaman hidup. Apabila ia tak dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan atas pengalaman-pengalaman yang dialami nya, ornag tersebut berada dalam keadaan”tak sadar”. Ia seakan-akan buta terhadap keadaan di sekelilingnya. Perasaannya tidak peka. Hal sebalik nya dialami oleh orang yang proses kesadarannya bertambah. Ia selalu mengamati perasaan-perasaan yang timbul. Berpikir tentang segala kejadian yang pernah di alaminya. Lalu ia merasa tidak puas atas apa yang pernah di peroleh nya. Ia bertanya,”inikah yang dikatakan hidup?”. Bila seseorang memiliki jalan pikiran seperti ini, ia dikatakan “ menuju kesadaran “.
Bila seseorang ingin menjadi bhikku, tentu ia dilandasi oleh dorongan-dorongan. Dari sekian banyak motivasi-motivasi, secara umum dapat dikelompokkan atas 3 bagian, yaitu :
1.      Dorongan (motivasi) yang berasal dari keinginan- keinginan rendah misalnya : karena ingin mendapat makanan secara gratis, karena ingin disanjung-sanjung, ataupun ingin dilihat sebagai seseorang yang taat beragama.
2.      Dorongan yang berasal dari sifat-sifat luhur terdiri dari :
·         Metta, cinta kasih yang menyeluruh, bebas dari sifat mementingkan diri sendiri. Bila seseornag memiliki sifat Metta, ia akan melihat bahwa menjadi bhikku memberikan peluang besar bagi dirinya untuk menyebarkan sifat metta kepada semua makhluk.
·         Karuna, belas kasihan melihat penderitaan makhluk hidup, sehingga ia ingin membebaskan mereka dari penderitaan. Perasaan ingin menolong makhluk hidup menyebabkan seseorang mencari cara untuk itu. Dan cara yang terbaik adalah menjadi bhikku.
·         Mudita, perasaan bahagia melihat orang lain berbahagia, sehingga timbul rasa simpati yang bebas dan iri hati.
·         Upekkha, suatu kejadian bathin yang seimbang dan tidak tergoncangkan. Dengan sikap ini, seseorang tidak akan ragu-ragu lagi untuk menjadi bhikku. Ia tidak mudah tergoda nafsu-nafsu duniawi.
3.      Dorongan-dorongan selain hal-hal diatas, misalnya: rasa ingin tahu, terdesak oleh keadaan, dan lain-lain.
Selanjutnya, akan kita tinjau apasebenarnya manfaat-manfaat yagn dapat diperoleh kalau seseorang bersungguh-sungguh menjalankan tugas sebagau seorang Bhikkhu. Sang Buddha telah menguraikan hal ini da;am “Samana Phala Sutta”.
Menurut Sang Buddha, faedah-faedah menjadi Bhikkhu antara lain:
1.      Setelah menjadi Bhikkhu, ia hidup mengejedalikan diri sesuai dengan Patimokkha (peraturan-peraturan Bhikkhu), sempurna kelakuan dan latihannya, dapat melihat bahayadalam kesalahan-kesalahan yagn paling kecil sekalipun. Ia menyesuailkan dan melatih dirinya dalamperaturan-peraturan. Menyempurnakan perbuatan-perbuatan dan ucapannya. Suci dalam cara hidupnya, sempruna silanya, terjaga pintu-pintu inderanya. Ia memiliki perhatian murni dan pengertian jelas dan hidup puas.
2.      Tugas utama seorang Bhikkhu adalah menyingkirkan lima rintangan (Panca Nivarana) dari dirinya. Lima rintangan tersebut adalah:
·         Kerinduan terhadap dunia (Kamachanda-Nivarana)
·         Itikad- itikad jahat (Vyapada-Nivarana)
·         Kemalasan dan kelambanan (Thinamiddha-Nivarana)
·         Kegelisahan dan kekhawatiran (Uddhacca-Kukkucca- Nivarana)
·         Keragu-raguan (Vicikiccha-Nivarana)
Bila ia menyadari bahwa lima rintangan ini telah disingkirkan dari dalam dirinya, maka timbulla kegembiraan, karena gembira maka timbullah kegiuran (piti), karena bathin tergiur, maka seluruh tubuhnya terasa nyaman. Kemudian ia akan merasa bahagia, karena bahagia maka pikirannya terpusat. Lalu setelah terpisah dari nafsu-nafsu, jauh dari kecenderungan-kecenderungan tidak baik, maka ia masuk dan berdiam dalam jhana pertama, suatu keadaan bathin yang tergiur dan bahagia (piti-sukha), yang timbul dari kebebasan, yang masih disertai Vitakka (pengarah pikiran pada obyek) dan Vicara (mempertahankan pikiran pada obyek). Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, dan diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari ‘kebebasan’. Semua bagian tubuhnya diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia.
3.      Seorang Bhikkhu yang telah membebaskan diri dari Vitakka dan Vicara, memasuki dan berdiam dalam jhana kedua, yaitu keadaan bathin yang tergiur dan bahagia, yang timbul dari ketenangan konsentrasi, tanpa disertai dengan Vitakka dan Vicara, keadaan batin yang memusat. Semua bagian dari tibuhnya diluputi oleh perasaan tergiur dan bahagia yang timbul dari ‘konsetrasi’.
4.      Seorang Bhikkhu yang telah membebaskan dirinya dari perasaan tergiur, berdiam dalam keadaan yang seimbang dan disertai dengan perhatian murni dan pengertian murni dan pengertian jelas. Tubuhnya diliputi dengan perasaan bahagia, yang dikatakan oleh para ariya sebagai ‘kebahagiaan yang dimiliki oleh mereka yang bathinmua seimbang dan penuh perhatian murni’, ia memasuki dan berdiam dalam jhana ketiga. Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaaan bahagia yang tanpa disertai perasaan tergiur.
5.      Dengan menyingkirkan perasaan bahagia dan tidak bahagia, dengan menghilangkan perasaan-perasaan senang dan tidak senang yang telah dirasakan sebelumnya, bhikkhu itu memasuki dan berdiam dalam jhana keempat, yaitu suatu keadaan yang benar-benar seimbang, yang memiliki perhatian murni (sati parisuddhi). Bebas dari perasaan bahagia dan tidak bahagia. Demikian ia duduk disana, meluuyti seluruh tubuhnya dengan perasaan bathin yang bersih dan jernih.
6.      Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya ke pandangan terang yang timbul dari pengetahuan (nana-dassana). Maka ia mengerti: ‘Tubuhku ini mempunyai bentuk terdiri aas 4 unsur pokok (unsur padat, cair, api dan angin), berasal dari ayah dan ibu, timbul dan berkembang karena perawatan yang terus-menerus, bersifat tidak kekal, dapat mengalami kerusakan, kelapukan, kehancuran dan kematian. Begitu pula dengan kesadaran (vinnana) yang terikat dengannya.
7.      Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada penciptaan ‘tubuh-ciptaan-bathin (mano-maya-kaya), yang memiliki bentuk, memiliki anggota-anggota dan bagian-bagian tubuh lengkap, tanpa kekurangan sesuatu organ apapun.
8.      Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada bentuk-bentuk iddhi (perbuatan-perbuatan gaib)
9.      Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan,, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada kemampuan-kemampuan dibbasoa (telinga dewa). Dengan kemampuan-kemampuan dibbasota yang jernih, yang melebihi telinga manusia, ia mendengarkan suara manusia dan dewa, yang jauh atau yang dekat.
10.  Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan,, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada ceto-pariyanana (pengetahuan untuk membaca pikiran orang lain). Dengan menembus pikirannya sendiri, ia mengetahui pikiran-pikiran makhluk lain.
11.  Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang ubenivasanusati (ingatan terhadap kelahiran-kelahiran lampau). Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia memperginakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang timbul dan lenyapnya makhluk-makhluk (cutupapata-nana), dan dengan kemampuan dibbacakkhu (mata dewa) yang jernih, melebihi mata manusia, ia melihat bagaimana setelah makhluk-makhluk berbalu dari satu perwujudan, muncul dalam perwujudan lain; rendah, mulia, indah, jelek, bahagia dan menderita. Ia melihat bagaimana makhluk-makhluk itu muncul sesuai dengan perbuatan-perbuatannya.
12.  Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan,, ia menpergunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang penghancuran noda-noda bathin (asava)…… ia mengetahui sebagaimana adanya “Inilah jalan yang menuju pada lenyapnya asava”.Dengan mengetahui, melihat demikian, maka pikirannya terbebaskan dari noda-noda nafsu (kamasava), noda-noda pewujudan (bhavasava), noda-noda ketidaktahuan 9avijjasava). Dengan terbebas demikian, maka timbullah pengetahuan tentang kebebasannya. Dan ia mengetahui; ‘Berakhirlah kelahiran kembali, terjalani kehidupan suci, selesailah apa yang harus dikerjakan, tiada lagi kehidupan sesudah ini.’
Faedah-faedah yang telah diterangkan diatas adalah faedah-faedah yang dapat diperoleh bhikkhu itu sendiri. Menjadi bhikkhu juga memberi manfaat kepada orang lain, misalnya:
Menjadi ladang bagi orang-orang yang hendak menanamkan karma baik. Bhikkhu adalah tempat berdana, yang akan menghasilak buah kekayaan/kemakmuran dalam satu kehidupan kepada orang itu. Bhikkhu juga sering berkhotbah tentang Dharma (Dharmadesana) dengan sungguh-sungguh akan mendapat pahala dengan bertambhanya kebijaksanaan. Ada pula orang-orang yang memiliki persoalan-persoalan hidup. Lalu ia menanyakan cara penyelesaiannya kepada seorang Bhikkhu. Berdasarkan sifat karuna, bhikkhu tersebut tentu akan berusaha untuk mencari jalan keluarnya.
Demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa manfaat menjadi Bhikkhu ini banyak sekali. Baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.


TRI RATNA

 

Untuk menjadi seorang Umat Buddha, kita tidak perlu menjalankan upacara khusus seperti pembaptisan,“mencukur rambut”, atau memakai jubah tertentu. Pengikut beberapa agama tertentu mengharuskan memelihara jenggot bagi pria dan model rambutnya pun ditentukan. Ada pula agama yang mengharuskan pemeluknya memakai tanda berwarna di kening mereka. Dalam agama Buddha hal seperti itu tidak ada. Satu-satunya cara yang paling nyata untuk menjadi seorang Buddhis adalah dengan mempelajari ajaran Sang Buddha, untuk kemudian mempraktekkannya. Tetapi umumnya, orang yang telah memutuskan untuk menjadi pemeluk Buddha lebih suka mengadakan sebuah perayaan kecil sebagai pernyataan bahwa ia telah menbuat keputusan yang penting ini. Perayaan yang biasanya kita lakukan dikenal sebagai “Berlindung pada Tiga Permata dan Menjalankan Lima Sila”. Sebenarnya apakah Tiga Permata itu dan apa arti Tiga Permata bagi kita?
Tidaklah penting perayaan atau upacara itu dilakukan dalam bahasa Pali, Sansekerta, Inggris, atau Indonesia. Yang paling penting adalah apa yang ada di hati. Ada makna yang sangat dalam yang dikandung pernyataan Berlindung ini dan kita dapat melihatnya dari beberapa segi, tiap segi ini menambahkan arti dan menambah nilai bagi kita. Dibawah ini merupakan pernyataan berlindung itu dalam bahasa Indonesia.
SAYA BERLINDUNG PADA BUDDHA
SAYA BERLINDUNG PADA DHARMA
SAYA BERLINDUNG PADA SANGHA
tetapi, untuk sementara orang pernyataan berlindung ini dapat diungkapkan dengan lebih berkesan, seperti berikut ini:
SAYA BERSUJUD MOHON BIMBINGAN PADA YANG TERANG SEMPURNA
SAYA BERSUJUD MOHON BIMBINGAN PADA AJARANNYA YANG SUCI
SAYA BERSUJUD MOHON BIMBINGAN PADA PERSAUDARAAN SUCI PARA SISWANYA
Ungkapan lainnya yang dapat digunakan untuk pernyataan berlindung ini adalah:
SAYA MENEMUKAN KEBENARAN DALAM SANG BUDDHA
SAYA MENEMUKAN KEBENARAN DALAM AJARANNYA
SAYA MENEMUKAN KEBENARAN DALAM PERSAUDARAAN SUCINYA
Perlu diingat bahwa sebaik apapun kata-kata itu diucapkan, namun tidak akan bermakna bila yang diucapkan tidak selaras dengan apa yang ada alam hati. Seseorang yang bertempat tinggal jauh dari masyarakat Buddhis dan tidak pernah melihat Bhikkhu, bisa saja merupakan pengikut Buddha sejati jika ia bertekad untuk menjadi siswa Sang Buddha dan mengikuti Ajaran-Nya.
Sang Buddha adalah Guru kita, Dharma adalah penawar derita kita, yang menunjukkan jalan menuju lenyapnya ketidak-bahagiaan, dan Sangha adalah sahabat kita. Setiap anak buddhis seygoyanya mempunyai doa yang diucapkan pada saat mau tidur maupun pada saat bangun tidur. Siapa saja dapat mengingat doa Tiga Perlindungna ini dengan sangat mudah. Dan, Tiga Perlindungan merupakan doa yang sangat baik dilaksanakan kapan saja dan dimana saja. Tetapi, dalam dunia Buddhis, diuakini bahwa palng baik memulai hari dengan mengingat Tiga Permata atau Tiga Perlindungan, dan menjadikannya sebagai penutup hari sebelum kita tidur. meskipun doa ini singkat, namun, perlu diingat bahwa Ia meliputi seluruh Ajaran Buddhis.
Buddha, Guru Agung kita dan penunjuk jalan kehidupan bagi kita. Dharma, merupakan Ajaran yang diwariskan-Nya kepada kita sebagai “Pedoman” dalam menempuh kehidupan ini. Sedangkan angha, atau persaudaraan para Bhikkhu, melambangkan penjaga Dharma dan merupakan sahabat kita.
Pada zaman dahulu, di Korea, hiduplah sebuah keluarga miskin yang hidup dari mengumpulkan kayu hutan untuk kemudian dibuat arang. keluarga ini mempunyai sepasang anak. Meskipun hidup mereka susah, mereka tetap bahagia. Hingga suatu hari, penyakit “Singgah” di gubuk mereka. Ayah dan ibu mereka mulai cemas. Tetangga yang terdekat berada beberapa mil dari tempat mereka, dan untuk meminta bantuan kesana, banyak gunung yang harus dilalui. Akhirnya, setelah beras habid dan tak ada lagi obat-obatan yang bisa digunakan, suami istteri itu meminta anak-anak mereka meminta pertolongan. Mereka dengan seksama memberikan petunjuk pada anak-anaknya agaimana melewato ginung-gunung yang tinggi, dan sebelum anak-anak itu berangkat, mereka tidak lupa berdoa pada Sang Buddha. Mereka memulai dan mengakhiri doa mereka dengan memanjatkan Tiga Perlindungan. Maka, berangkatlah kedua anak kecil itu mencari pertolongan untuk ayah ibu mereka yang sakit.
Akhirnya, setelah berjalan berjam-jam, dan dalam keadaan yang sangat lelah, mereka berhasil tiba di kampung terdekat. Orang-orang kampung yang baik memberikan mereka obat-obatan dan makanan, seorang ibu menawarkan diri untuk pulang bersama mereka agar bisa membantu merawat orang tua mereka yang sakit.
ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang, tiba-tiba muncul seorang merampok menghadap di tengah jalan, dengan golok ditangan, dan mengancam akan membunuh mereka. Wanita tua sangat ketakutan, ia lari terbiri-birit. Anak-anak tidak berdaya, mereka masih kecil, mereka tidak kuat berlari jauh. Akhirnya, mereka berlutu, memejamkan mata, dan memanjatkan doa Tiga Perlindungan.
Ketika perampok tersebut melihat hal ini, mendengar Tiga Perlindungan, badannya menjadi lemas. Ia teringat waktu masih kecil, ibunya juga mengajarkan doa Tiga Perlindungan kepadannya. Ia kemudian menangis. Doa Tiga Perlindungan telah menggugah hatinya. Sejak itu, ia berjanji untuk menjadi orang baik dan jujur. Ia mencari wanita tua yang lari tadi, kemudian memikul beras, obat-obatan, bersama anak-anak kembali ke gubuk mereka.
Ia tinggal di sana, dan membantu menebang kayu dan membuat arang hingga orang tua anak-anak itu sembuh. kemudian, orang yang pernah menjadi perampok buas ini tinggal disebuah vihara di gunung Intan di Korea, dan dalam usia tuanya dikenal sebagai orang suci.
Sampai saat ini, di atas batu nisannya terukir kata-kata “Perampok yang menjadi orang suci”. Tetapi mari kita ingat baik-baik, pertobatan perampok itu diawali oleh anak-anak yang memanjatkan doa Tiga Perlindungan dengan sepenuh hati mereka.