Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Februari 2014

agama buddha & metafisika

METAFISIKA DAN ELEMEN- ELEMENNYA
DALAM BUDDHIS

A.    Latar Belakang
Banyak orang menganggap metafisika berkaitan dengan hal- hal yang bersifat gaib. Atau juga ada yang menganggap metafisika sebagai ilmu yang mempelajari tentang alam- alam setan ataupun yang berhubungan dengan klenik. Persepsi tersebut sebenarnya tidak dapat disalahkan, karena dalam arena perebutan makna sebuah istilah, maka sebuah istilah termasuk metafisika seiring perubahan waktu dalam konteks sosial dan sejarah jelas mengalami pergeseran makna yang digunakan oleh masyarakat, terutama masyarakat awam. Memang hal-hal supranatural juga termasuk atau tercakup dalam definisi metafisika, namun metafisika tidak dapat diartikan sepenuhnya adalah mengenai supranatural, kian lama agaknya definisi metafisika tidak menunjuk pada objek definitif yang diwakilinya. Hal yang sama seperti ketika sekarang dalam mempelajari filsafat lebih familiar diketahui adanya ontologi, epistemologi, dan aksiologi sebagai batang tubuh atau elemen-elemen fundamental kajian filsafat, dan seakan melupakan metafisika.

B.     Pengertian Metafisika
Pada mulanya istilah metafisika digunakan di Yunani untuk merujuk pada karya-karya tertentu Aristoteles (384-322 SM). Namun sebenarnya istilah metafisika bukanlah dari Aristoteles, metafisika oleh Aristoteles disebut sebagai filsafat pertama atau theologia, dalam pandangan Aristoteles, metafisika belum begitu jelas dibedakan dengan fisika. Istilah metafisika yang kita kenal sekarang, berasal dari bahasa Yunani ta meta ta physika yang artinya “yang datang setelah fisik”. Istilah tersebut diberikan oleh Andronikos dari Rhodos (70 SM) terhadap karya-karya Aristoteles yang disusun sesudah (meta) buku fisika. (Loren Bagus, Matafisika, (Jakarta: Gramedia, 1991), hlm 18) 
Aristoteles dalam bukunya yang berjudul Metaphysica mengemukakan beberapa gagasannya tentang metafisika antara lain: Metafisika sebagai kebijaksanaan (sophia), ilmu pengetahuan yang mencari pronsip-prinsip fundamental  dan penyebab-penyebab pertama. Metafisika sebagai ilmu yang bertugas mempelajari yang ada sebagai yang ada (being qua    being) yaitu keseluruhan kenyataan. Metafisika sebagai ilmu tertinggi yang mempunyai obyek paling luhur dan sempurna dan menjadi landasan bagi seluruh adaan, yang mana ilmu ini sering disebut dengan theologia. Ketiga keterangan Aristoteles tentang metafisika tersebut,  sebenarnya terdapat dua obyek yang menjadi metafisis Aristoteles yaitu,
(a)  yang ada sebagai yang ada being qua being dan
(b)  yang Ilahi. Namun demikian Aristoteles sendiri tidak menjadikan dua obyek kajian sebagai obyek bagi dua disiplin ilmu yang berbeda. Seorang filosof  Jerman bernama Christian Wolff cenderung meyakini bahwa pembicaraan tentang yang ada sebagai yang ada dan yang Ilahi harus dipisahkan dan tidak dapat dibicarakan bersama-sama. Oleh karenanya, Wolff memilah filsafat pertama Aristoteles menjadi metaphysica generalis (metafisika umum) atau juga sering disebut ontologi dan methapysica specialis (metafisika khusus). 

Pengertian Metafisika Dalam Filsafat Menurut Para Ahli
Menurut Cristian Wolf (1679-1754), metafisika terbagi menjadi dua jenis. Pertama, metafisika generalis, yakni ilmu yang membahas mengenai yang ada atau pengada atau yang lebih dikenal sebagai ontologi, dan kedua, metafisika spesialis yang terbagi menjadi tiga bagian besar,  antropologi, yang menelaah mengenai hakikat manusia, tentang diri dan kedirian, tentang hubungan jiwa dan raga, kosmologi, yang membahas asal-usul alam semesta dan hakikat sebenarnya, da teologi, membahas mengenai Tuhan secara rasional. Bahasan yang terdapat dalam metafisika secara umum antara lain meliputi,
(1) yang-ada (being),    
(2) kenyataan (reality),             
(3) eksistensi (existence),          
(4) esensi (essence),      
(5) substansi (substance),          
(6) materi (matter),       
(7) bentuk (form),         
(8) perubahan (change),
(9) sebab-akibat (causality), dan           
(10) hubungan (relation). 

C. Elemen- elemen Metafisika         
a. Secara Umum
Elemen- elemen metafisika secara umum adalah sebagai berikut:
Elemen Sejati, yaitu Cahaya dan Kegelapan (disebut juga Keteraturan dan Kekacauan).
Elemen Alam, yaitu Api, Air, Angin, dan Tanah.
Elemen Campuran, yang merupakan hasil penggabungan dari Elemen Sejati dan Elemen Alam; terdiri dari:
1.            Gravitasi (Api + Angin + Cahaya)
2.            Petir (Api + Angin + Kegelapan)
3.            Es (Air + Angin + Cahaya)
4.            Kabut (Air + Angin + Kegelapan)
5.            Isara (Api + Tanah + Cahaya)
6.            Meteor (Api + Tanah + Kegelapan)
7.            Kayu (Air + Tanah + Cahaya)
8.            Logam (Air + Tanah + Kegelapan)
9.            Elemen Individu, yaitu elemen-elemen yang membentuk seorang individu; terdiri dari Persona/Karakter, Raga, Ruh, dan Akal/Pikiran.
b. Secara Buddhis
Dilihat dari elemennya secara umum, maka dalam agama Buddha tepatnya dalam Abhidhamma, dijelaskan juga mengenai unsur- unsur tersebut dalam Rupa 28. Rupa adalah keadaaan yang dapat berubah dan bercerai dengan kedinginan dan kepanasan. Rupa terbagai menjadi 2 yaitu: Mahabhutarupa 4: 4 unsur dasar yang besar.
1.            Pathavi Dhatu: unsur tanah atau padat.
2.            Apo Dhatu: Unsur Air atau Cair.
3.            Tejo Dhatu: Unsur Api atau Panas.
4.            Vayo Dhatu: Unsur Angin atau Gerak.
Upadayarupa 24: 24 macama berasal dari materi
1.    Pasadarupa 5: 5  materi yang mampu menerima obyek.
a.         Cakkhu Pasada: Landasan Mata.
b.        Sota Pasada: Landasan telinga.
c.         Ghana Pasada: Landasan hidung.
d.        Jivha Pasada: Landasan Lidah.
e.         Kaya Pasada: Landasan jasmanni.
2.   Visayarupa 4: 4 yang menjadi objek panca indera.
a.       Ruparammana: Obyek bentuk.
b.      Saddarammana: Obyek Suara.
c.       Gandharammana: Obyek bau.
d.      Rasarammana: Obyek rasa.
3.   Bhavarupa 2: 2 macam  kelamin.
a.          Itthibhava: unsur betina
b.         Purisabhava: Unsur jantan
4.    Hadayarupa 1:
a.       Hadayarupa: unsur batin sanubari
5.      Jivitarupa 1
a.       Jivitarupa: unsur kehidupan
6.      Ahararupa 1
a.       Kabalikarahara: unsur makanan
7.      Paricchedarupa 1
a.       Paricchedarupa: unsur dari ruangan
8.      Vinnatirupa 2: 2 bentuk perhubungan
a.       Kaya vinnati: unsur isyarat dengan gerakkan badan.
b.      Vaci vinnatti: unsur isyarat dengan kata- kata.
9.      Vikararupa 3: 3 macam gaya plastis.
a.       Lahuta: unsur gaya ringan.
b.      Muduta: Unsur gaya menurut.
c.       Kammannata: unsur  gaya menyesuaikan diri.
10.  Lakkhana rupa 4: 4 corak yang khas.
a.       Upacaya: unsur sempurna.
b.      Santati: Unsur bergantung terus.
c.       Jarata: unsur kelapukkan.
d.      Aniccata: Unsur tidak kekal.

D.    Kesimpulan
Elemen- elemen metafisika secara umum tidak jauh berbeda dengan apa yang terdapat dalam Rupa 28. Hanya saja memang pada Rupa 28 ada beberapa unsur yang kalau dipahami kurang sesuai. Tepatnya elemen-  elemen metafisika sama dengan unsur utama yang besar (Mahabhuta rupa 4). Yang dalam elemen metafisika unsur tersebut digabungkan sehingga ada elemen yang disebut dengan elemen campuran.Mahabhuta rupa 4 lebih sesuai dengan elemen alami pada elemen umunya sedangkan elemen individu lebih cenderung ke Upadaya rupa 24.


Selasa, 28 Januari 2014

3 CIRI KEBERADAAN


 
TIGA CIRI KEBERADAAN
Dalam bab 3 telah ditunjukkan bahwa penjelasan Sang Buddha menyinggung dua aspek realitas, yakni kausalitas dan fenomena yang terjadi secara bersyarat. Menurut ajarannya, tidak ada didunia ini yang tidak tercakup oleh hukum sebab akibat. Kausalitas menerangkan muncul dan lenyapnya segala sesuatu. Karena itu, sebagai akaibat langsung dari kausalitas ini, segala sesuatu didalam dunia adalah:
(1) tidak kekal (anicca),
(2) tidak memuaskan (dukkha), dan
(3) tidak berinti (anatta).
Ketiga ciri ini ditegaskan karena teori kaum eternalis, yang menguasai udara filsafat pada masa kehidupan Sang Buddha, menyatakan bahwa realitas dalam fenomena adalah “diri” atau “inti” (atman) yang kekal.
Teori ketidak kekalan seperti yang dinyatakan dalam sutta-sutta terdahulu dapat dipastikan merupakan teori empirik. Kalimat-kalimat yang ditemukan dalam penjelasan tersebut  berbunyi sebagai berikut :” tidak kekal sesungguhnya segala sesuatu yang terbentuk, mereka mengalami kemunculan dan kehancuran. Setelah menjadi sesuatu, mereka punah kembali. Kedamaiaan muncul bila timbul keseimbangan.”( Anicca vata sankhara uppadavayadhamino, upajjitva nirujjhanti tesam vupasamo sukho). Menurut pernyataan ini, segala sesuatu tidak kekal bukan karena mereka hanya muncul sesaat, tetapi kerena mereka berciri muncul (uppada) dan hancur (vaya). Assutava sutta dari samyutta nikaya menampilkan pendapat tentang perubahan secara empirik dalam pernyataan,” badan ini terdiri dari empat unsur utama yang ada untuk satu, dua, tiga, empat, lima, sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, lima puluh, seratus atau lebih tahun. Ini jelas merupakan pendapat empirik tentang perubahan.
Berdasarkan kenyataan akan ketidak kekalan dunia, dapat dipahami bahwa segala sesuatu juga tidak memuaskan (dukkha). Kata “dukkha” dipakai secara beraneka ragam untuk menunjukkan “sakit”, “penderitaan”, “nyeri” dan sebagainya yang boleh jadi benar untuk konteks tertentu. Kelima kelompok kemelekatan (Panc’upadanakkhandha) juga merupakan Dukkha. Sifat manusia selalu menginginkan kebahagiaan yang kekal atau abadi. Padahal segala sesuatu yang diharapkannya dapat memberikan kebahagiaan itu ternyata tidak kekal, kebahagiaan tersebut hanya bertahan sebentar saja, dan bersifat sementara karena tidak dapat memenuhi harapannya, yaitu kebahagiaan abadi.  Akibatnya terjadilah penderitaan.
Karena alasan diatas teori Upanisad tentang “diri” yang kekal dan tidak dapat mati itu, rupanya dimaksudkan untuk memuaskan keinginan manusia akan kebahagiaan abadi yang terpendam amat dalam. Namun untuk Sang Buddha yang telah menyadari bahwa segala sesuatu didunia ini tidak kekal, jawaban demikian tidak sedikitpun memuaskannya. Dengan menyadari bahwa tidak ada sesuatupun yang kekal dan tidak berubah yang dapat disebuat “diri” itu, beliau menemukan bahwa kepercayaan terhadap sesuatu yang demikian bahkan akan membimbing orang kependeritaan yang lebih dalam. Kepercayaan akan sesuatu yang kekal, seperti atman,  sering kali mengarah kesifat keakuan atau mementingkan diri sendiri (ahamkara ). Hal ini menurut beliau merupakan akar penyebab bagi keinginan, dan juga penyertanya yaitu penderitaan. Menurut Sang Buddha, penanaman paham kebaikan akan ketidakakuan yang berlandaskan kepercayaan akan diri (atman), seperti yang dipraktekan guru-guru upanisad, bukan pula merupakan hal yang memuaskan atau pun benar.
Hal diatas membawa kita sampai ke ciri yang ketiga, yaitu, “tanpa inti” atau tanpa “diri” (anatta). Tidak ada doktrin yang lebih disalah artikan dan salah tafsirkan dari pada doktrin tentang tanpa inti ini. kebanyakan orang nampak berfikir bahwa penerimaan akan doktrin kelahiran kembali dan tanggung jawab moral dipihak yang satu, dan penolakan diri yang kekal  dipihak lain, memimpin situasi yang bertentangan yang tak dapat dihindari oleh Buddhisme terdahulu. Kepercayaan ini antara lain berakar pada kesalah pahaman akan teori tanpa inti.
Telah disebutkan bahwa konsepsi upanisad tentang ‘diri’ yang kekal (atman) merupakan hasil penafsiran rasional dari isi pengalaman mistik, khususnya bagi mereka yang tergolong pada tradisi yang menduniawi seperti kepunyaan kaum aryan. Menurut Sang Buddha (dan berabad-abad kemudian, juga menurut freud) prilaku manusia begitu juga pandangannya terhadap kehidupan, ditentukan oleh beberapa naluri seperti “keinginan untuk hidup” (jivitukama), “ Keinginan untuk menghindari kematian (amaritukama), “Keinginan kuat terhadap kebahagiaan (sukhakama) dan “menghindar dari kenyerian” (dukkhapatikkula). Teori upanisad tentang diri jelas diarahkan untuk memuaskan keinginan terpendam ini agar kelangsungan hidup manusia dapat dipertahankan. Penerimaan akan diri yang kekal dan tak berunah ini membuat pemikir upanisad ini mampu menerangkan banyak persoalan tanpa banyak kesukaran, seperti kelahiran kembali, kesinambungan, dan tanggung jawab moral. Namun bagi Sang Buddha, suatu teori yang hanya bersesuaian dengan kecenderungan pandangan seseorang (ditthinijjhanakhanti) atau yang hanya konsisten atau kelihatanya saja benar (bhabbarupa) tidak benar dengan sendirinya. Ini bukanlah kriteria untuk kebenaran. Kebenaran untuk beliau, merupakan sesuatu yang harus sesuai dengan kenyataan (yathabhuta), bukan yang hanya dapat melayani kesuakaan seseorang. Dengan demikian, beliau tidak mau menyumbangkan sesuatu kepada teori yang hanya dapat melayani naluri seseorang. Aspek lain dari teori ‘diri’ yang ditolak Sang Buddha adalah gagasan tentang kekekalan yang berhubungan dengan teori ini. ada beberapa halaman dari nikaya pali dan agama mandarin yang menunjukkan bahwa Sang Buddha sedang mengacu kepada kepercayaan tentang “diri yang tak berubah, kekal, abadi, dan permanen” (atta nicco dhuvo sassato aviparinamadhammo). Dengan memeriksa setiap faktor yang membangun kepribadian seseorang, yaitu; bentuk material (rupa), perasaan (vedana), pencerapan (sanna), bentuk-bentuk mental (sankhara), dan kesadaran (vinnana), Sang Buddha menunjukkan bahwa tidak satupun dari faktor-faktor tersebut dapat diidentikan sebagai semacam ‘diri’ seperti yang diuraikan diatas.
Sekolah kaum materialis menyatakan dengan tegas bahwa jika seseorang ingin percaya akan ‘diri’ lebih baik memandang badan fisik ini, yang mempertahankan identitas sejak lahir hingga mati, sebagai ‘diri’ dari pada mencarinya dalam pribadi kejiwaan. Oleh karena pribadi fisik lebih nyata dari pada pribadi kejiwaan. Kekususan sekolah materialis ini yang mengidentikkan ‘diri’ dengan badan material (sarira), dikenal sebagai Tajjivatacchariravada (tam jivam tam sariram). Tetapi menurut Sang Buddha, ‘diri’ apakah ia diidentikkan dengan badan atau berbeda dari badan, merupakan suatu kesatuan metafisik. Disebut kesatuan metafisik karena sama sekali tak terbuktikan, baik melalui persepsi indria biasa ataupun melalui persepsi indria luar biasa. Kesatuan ini tidak mencakup kedalam pengalaman (avisaya), dan oleh karena itu Sang Buddha meninggalkan pernyataan ini tak terungkapkan. Kediamannya terhadap pertanyaan ini ada yang menafsirkan sebagai tersirat bahwa ada realitas ‘diri’ yang transedental, tetapi tidak tercakup dalam alam pemikiran logis (atakkavacara). Menurut Sang Buddha, bahkan apa saja yang dipandang merupakan pengalaman mistik tidak dapat memberikan kepada kita pengetahuan tentang diri transedental. Oleh karena itu, ia adalah suatu kesatuan metafisik yang tak terbuktikan.



FILSAFAT BUDDHIS

 
Pengalaman pencerahan (Penerangan Sempurna) secara garis besar ada dua pendekatan. Yaitu: pendekatan objektif dan pendekatan subjektif. Pendekatan obyektif adalah untuk mengetahui apa-apa yang dinyatakan oleh Sang Buddha setelah memperoleh pengalaman itu dan memahaminya sebagai pembentukan dasar-dasar ajaran beliau. Pendekatan secara subjektif adalah mempelajari (examine) sabda-sabda Sang Buddha sebagai refleksi yang bersifat metafisika, maka pendekatan subjektif bersifat psikologi atau eksistensi.
Dalam pendekatan objektif dapat diberikan contoh tentang pendapat yang beraneka ragam mengenai ajaran anatta (anatman) dari Sang Buddha yang merupakan ajaran tentang bukan-aku (non ego).
Ajaran anatta tersebut menyatakan bahwa:

(1) Segala sesuatu adalah tidak kekal (transient) dan hanya terdiri dari unsur-unsur (composite) yang disebut skanda atau khanda; yang senantiasa hancur (disinte-gratting), bahwa tidak ada yang kekal (permanent).
(2) Oleh karena itu tidak ada satu tempat di alam semesta ini ke mana manusia dapat menuju untuk menghapus kesedihan dan penderitaannya.

Dalam Magga-magga kita suci Dhammapada kita membaca pada vagga 277 s/d 279:

Sabbe sankhara anicca ti
yada pannaya passati
atha nibbindati dukkhe
esa mango visubhiya
Sabbe sankhara dukkhati
yada pannaya passati
atha nibbindati dukkhe
esa mango visubhiya
Sabbe dhamma anatta ti
yada pannaya passati
atha nibbindati dukkhe
esa mango visubhiya

Artinya

Semua dumadi tidak kekal
yang menyadari dengan kebijaksanaan
ia telah memberantasnya
itu jalan yang benar

Semua itu adalah penderitaan
yang menyadaridengan kebijaksanaan
ia telah memberantasnya
itu jalan yang benar

Semua makhluk tanpa "aku"
yang menyadaridengan kebijaksanaan
ia telah memberantasnya
itu jalan yang benar

Dalam filsafat agama Buddha ini terdapat satu istilah yang penting yaitu Panna (Pali) atau Prajna (Sansekerta). Dalam Bahasa Inggris: "kebijaksanaan'", makna yang terkandung dalam istilah di atas adalah melihat atau memahami pencerahan/penerangan sempurna itu dilakukan melalui "mata/panna/prajna". Pengalaman Pencerahan (Penerangan Sempurna), Dalam bahasa kias dikatakan bahwa untuk dapat mencapai pantai seberang dari samsara, diperlukan "mata panna/prajna". Dan pantai seberang itu akan terlihat sebagai Kusunyataan (Ultimatum Reality). Segala sesuatu dilihat sebagai sedemikian atau secara murni dan benar. Hal tersebut akan dicapai oleh siapapun juga yang pikirannya terbebas dari segala sesuatu (sabbattha vimuttamanasa), tidak terikat pada kelahiran dan kematian, tidak lagi hanyut dalam ketidak-kekalan masa lalu-kini-yang akan datang.

Dalam Kitab suci Dhammapada Syair 153-154 yang berisi tentang kemenangan Sang Buddha yang telah bebas dari penderitaan. Beliau telah menemukan "gahakaraka" (pembuat rumah) yang berada di belakang semua kegiatan jasmani dan rohani manusia. Gahakaraka tadi tidak pernah mati, ia senantiasa hidup apabila jasmani (manusia) itu berfungsi. Tubuh ini diibaratkan sebagai budak dari gahakaraka. Melihat gahakaraka tidaklah berarti 'melihat keinginan yang terakhir'.

Pengalaman pencerahan (penerangan sempurna) tidaklah menghapuskan sesuatu melainkan melihat atau memandang dengan ``mata panna atau praja" sehingga dapat melihat bagaimana gahakaraka membuat rumah".

"Melihat" atau "Memandang" merupakan dasar atau landasan untuk mengetahui ajaran Sang Buddha. Hal ini dikatakan sebagai inti filsafat agama Buddha. Dhamma (Dharma) hanya dapat diketahui secara "ehipasiko" (silahkan Anda datang untuk melihatn_ya); tidak dengan cara yang lain.

Pencerahan atau Penerangan Sempurna yang berupa "melihat" itu adalah melihat arti kehidupan sebagai ego yang relatif atau nisbi dan bukan kehidupan sebagai ego yang absolut atau mutlak. Dengan kata lain, Pencerahan atau Penerangan sempurna adalah melihat ego absolut (mutlak) seperti yang tercermin (refleksi) dari ego relatif (nisbi). Absolut ego dalam kernutlakanya itu tidak memiliki makna. Ia memerlukan adanya gahakaraka supaya
eksistensinya (keberadaannya) terlihat. Gahakaraka melainkan "atas perintah" Atta (Atman). Demikian penafsiran pengertian "Atta" atau "Atman" dalam Nirvana Sutra. Sehubungan dengan dua hal absolut-relatif tersebut, pandangan Sunyata juga mengemukakan dua jenis kebenaran atau satya (truth), yaitu (1) samvrti, kebenaran yang relatif/nisbi dan (2) paramartha, kebenaran absolut _yang transedental. Hal itu dapat dipahami dalam hubungan ketika Sang Buddha membabarkan Saddharmapun-darika Sutra, Beliau menguraikan pengalamannya yang tidak dapat dibandingkan atau dipahami oleh para pendengarkan yang terdiri dari manusia biasa. Demikian pula dalam Lankavatara Sutra diceritakan tentang negeri (alam) para Buddha, di sini manusia sulit untuk memahami karena mereka ini tidak mempunvai pengalaman dan karenanya tidak memahaminva.

Pengalaman pencerahan atau penerangan sempurna dengan demikian adalah manifestasi dari kekuatan yang tertinggi, yang melihat segala sesuatu sebagai apa atau sebagai sedernikian, yang berarti kesedemikian yang absolut atau Sunya mutlak (absolute fullness). Filsafat agama Buddha (present ahsfsCut) yang berisi pengalaman murni, pengalaman _yang tidak membedakan antara subjek dan objek. Pengertian Sunya atau Kesedemikian (Tathata) mengatasi segalanya. Tak ada konsep yang dapat menjamahnya atau memahaminya. Karna ia disebut pengalaman sejati atau murni.