Tampilkan postingan dengan label karya ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karya ilmiah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Februari 2014

PENELITIAN KUNTITATIF

Metode Penelitian Kuantitatif
A. Pengantar
Metode penelitian kuantitatif memiliki cakupan yang sangat luas. Secara umum, metode penelitian kuantitatif dibedakan atas dua dikotomi besar, yaitu eksperimental dan noneksperimental. Eksperimental dapat dipilah lagi menjadi eksperimen kuasi, subjek tunggal dsb. Sedangkan noneksperimental berupa deskriptif, komparatif, korelasional, survey, ex post facto, histories dsb.
Makalah ini membatasi pembahasan metode penelitian kuantitatif pada tiga aspek. Ketiga aspek tersebut adalah bagian dari noneksperimental, yaitu deskriptif, historis, dan ex post facto.
Ada beberapa istilah yang sering dirancukan di dalam penelitian. Istilah tersebut adalah pendekatan, ancangan, rencana, desain, metode, dan teknik. Di dalam makalah ini disinggung mengenai perbedaan istilah tersebut untuk didiskusikan dan dicarikan simpulan bersama-sama.
B. Pembahasan
1. Berbagai istilah di dalam penelitian
Secara umum, jenis penelitian berdasarkan pendekatan analisisnya dibedakan menjadi dua, yaitu kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan ini lazim juga disebut sebagai pendekatan, ancangan, rencana atau desain.
Rancangan atau desain penelitian dalam arti sempit dimaknai sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis penelitian. Dalam arti luas rancangan penelitian meliputi proses perencanaan dan pelaksanaan penlitian. Dalam rancangan pereperencaan dimulai dengan megadakan observasi dan evaluasi rerhadap penelitian yang sudah dikerjakan dan diketahui, sampai pada penetapan kerangka konsep dan hipotesis penelitian yang perlu pembuktian lebih lanjut.
Rancangan pelaksanaan penelitian meliputi prose membuat prcobaan ataupun pengamatan serta memilih pengukuran variable, prosedur dan teknik sampling, instrument, pengumpulan data, analisis data yang terkumpul, dan pelaporan hasil penelitian.
Metode penelitian lebih dekat dengan teknik. Misalnya, penelitian dengan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Dengan kata lain, metode deskriptif tersebut dapat dikatakan juga sebagai teknik deskriptif.
PENELITIAN DESKRIPTIF
1.      Pengertian
Metode deskripsi adalah suatu metode dalam penelitian status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.
Whitney (1960) berpendapat, metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.
Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. Adakalanya peneliti mengadakan klasifikasi, serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu, sehingga banyak ahli meamakan metode ini dengan nama survei normatif (normatif survei). Dengan metode ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan memilih hubungan antara satu faktor dengan faktor yang lain. Karenanya mentode ini juga dinamakan studi kasus (status study).
Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standar-standar sehingga penelitian ini disebut juga survei normatif. Dalam metode ini juga dapat diteliti masalah normatif bersama-sama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandingan-perbandingan antarfenomena. Studi demikian dinamakan secara umum sebagai studi atau penelitian deskritif. Perspektif waktu yang dijangkau, adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden.
2.      Tujuan
Penelitian deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.
3.      Ciri-ciri Metode Deskriptif
Untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian, sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka.(secara harafiah) Mencakup penelitian yang lebih luas di luar metode sejarah dan eksperimental. Secara umum dinamakan metode survei. Kerja peneliti bukan saja memberi gambaran terhadap fenomena-fenomena, tetapi : menerangkan hubungan, menguji hipotesis-hipotesis membuat prediksi, mendapatkan makna, dan implikasi dari suatu masalah yang ingin dipecahkan Mengumpulkan data dengan teknik wawancara dan menggunakan schedule qestionair/interview guide.
4.      Jenis-jenis Penelitian Deskriptif
Ditinjau dari segi masalah yang diselidiki, teknik dan alat yang digunakan dalam meneliti, serta tempat dan waktu, penelitian ini dapat dibagi atas beberapa jenis, yaitu:
Metode survei, Metode deskriptif berkesinambungan (continuity descriptive), Penelitian studi kasus Penelitian analisis pekerjaan dan aktivitas, Penelitian tindakan (action research), Peneltian perpustakaan dan dokumenter.
5.      Kriteria Pokok Metode Deskriptif
Metode deskriptif mempunyai beberapa kriteria pokok, yang dapat dibagi atas kriteria umum dan khusus. Kriteria tersebut sebagai berikut: kriteria umum Masalah yang dirumuskan harus patut, ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas. Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum Data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini. Standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas. Harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan.
Hasil penelitian harus berisi secara detail yang digunakan, baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta serta study kepustakaan yang dilakukan. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoritis yang digunakan jika kerangka teoritis untukitu telah dikembangkan. Kriteria Khusus Prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value). Fakta-fakta atupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status Sifat penelitian adalah ex post facto, karena itu, tidak ada kontrol terhadap variabel, dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manupulasi terhadap variabel. Variabel dilihat sebagaimana adanya.
6.      Langkah-langkah Umum dalam Metode Deskriptif
Dalam melaksanakan penelitian deskripif, maka langkah-langkah umum yang sering diikuti adalah sebagai berikut:
                      1             Memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada.
                      2             Menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. Tujuan dari penelitian harus konsisten dengan rumusan dan definisih dari masalah.
                      3             Menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan.
                      4             Merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji baik secara eksplisit maupun implisit.
                      5             Melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data, gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian.
                      6             Membuat tabulasi serta analisis statistik dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan. Kuranggi penggunaan statistik sampai kepada batas-batas yang dapat dikerjakan dengan unit-unit pengukuran yang sepadan.
                      7             Memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi sosial yang ingin diselidiki serta dari data yang diperoleh dan referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan.
                      8             Mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. Berikan rekomendasi-rekomendasi untuk kebijakan yang dapat ditarik dari penelitian.
                      9             Membuat laporan penelitian dengan cara ilmiah. Pada bidang ilmu yang telah mempunyai teori-teori yang kuat, maka perlu dirumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual yang kemudian diturunkan dalam bentuk hipotesis-hipotesis untuk diverivikasikan. Bagi ilmu sosial yang telah berkembang baik, maka kerangka analisis dapat dijabarkan dalam bentuk-bentuk model matematika.
PENELITIAN HISTORIS (HISTORICAL RESEARC)
1.      Pengertian dan Tujuan
Tujuan penelitian histories adalah untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memferivikasi, serta mensistensiskan bukti-bukti untukmenegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat. Seringkali penelitian yang demikian itu berkaitan dengan hipotesis-hipotesis tertentu.
Contoh penelitian histories adalah studi mengenai praktek “bawon” di daerah pedesaaan di Jawa Tengah, yang dimaksud memahami dasar-dasarnya diwaktu yang lampau serta relevansinya untuk waktu kini; studi ini dimaksudkan juga untuk mentest hipotesis bahwa nilai-nilai social tertentu serta rasa solidaritas memainkan peranan penting dalam berbagai kegiatan ekonomi pedesaan. Ciri yang menonjol dari penelitian histories adalah;
Penelitian histories lebih bergatung pada data yang diobservasi orang lain dari pada yang diobsevasi oleh peneliti sendiri. Data yang baik akan dihasilkan oleh kerja yang cermat yag menganalisis keotentikan, ketepatan, dan peningnya sumber-sumbernya.
Berlainan dengan anggapan yang popular, penelitian haruslah tertib ketat, sistematis, dan tutas; seringakali penlitian yang dikatakan sebagai suatu penelitiaan histories hanyalah koleksi informasi-informasi yang tak layak, tak reliable, dan berat sebelah.
Penelitian histories tergantung kapada dua macam data, yaitu primer dan datasekunder. Data primer dipoleh dari sumberprimer, yaitu si peneliti (peneliti) secara langsung meakukan observasi atau menyaksikan kejadian-kejadian yang dituliskan. Dan data sekunder diperoleh dan sumber skunder, yaitu peneliti melaporkan hasil obsevasi orang lain yang satu kali atau lebih telah lepas dari kejadian aslinya. Dianatara kedua sumber itu, sumber primer dipandang sebagai memiliki otoritas sebagai bukti tangan pertama, dan diberi prioritas dalam pengumpulan data.
Untuk menentukan bobot data, biasa dilakukan dua macam kritik, yaitu kritik eksternal dan kritik internal. Kritik eksternal menanyakan dokumen relic itu otentik, sedang kritik internal menanyakan apabila data itu otentik, apabila data otentik, apabila data tersebut akurat dan relevan. Kritik internal harus menguji motif, keberat sebelahan, dan keterbatasan si penulis yang mngkin melebih-lebihkan atau mengabaikan sesuatu da memberikan informasi yang terpalsu. Evaluasi kritis inilah yang menyebbkan penelitian histories itu sangat tertib-ketat, yang dalam bayak hal lebih disbanding dari pada studi eksperimental.
Walaupun penelitian histories mirip dengan penelaahan kepustakaan yang mendahului lain-lain bentuk rancangan penelitian, namun cara pendekatan histories adalah tuntas, mencari informasi dan sumber yang lebih luas. Penelitian histories jga menggaliinformasi-informasi yang lebih tua dari pada yang umum dituntut dalam penelaahan kepustakaan, dan banyak juga menggali bahan-bahan tak diterbitkan yang tak dikutip dalam bahan acuan yang standar.
Langkah Pokok Untuk Melaksanakan Penlitian Histories Atau Rancangan Penelitian Historis Definisi masalah. Ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut kepada diri sendiri: Rumusan tujuan penelitian dan jika mungkin, rumuskan hipotesis yang akan memberi arahdan focus bagi kegiatan penelitian itu. Kumpulan data, denganselalu mengingat perbedaan anatara sumber primer dan sumber sekunder. Suatu keterampilan yangsangat penting dalam penelitian histories adalah cara pencatatan data: dengan system kartu atau dengan system lembaran, kedua-duanya dapat dilakukan. Evaluasi data yng diperoleh dengan melakukan kritik eksternal dan kritik internal.
2. Rancangan Ex Post Facto
1.  Pengertian Ex Post Facto
Penelitian dengan rancangan ex post facto sering disebut dengan after the fact. Artinya, penelitian yang dilakukan setelah suatu kejadian itu terjadi. Disebut juga sebagai restropective study karena penelitian ini merupakan penelitian penelusuran kembali terhadap suatu peristiwa atau suatu kejadian dan kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut.Dalam pengertian yang lebih khusus, (Furchan, 383:2002) menguraikan bahwa penelitian ex post facto adalah penelitian yang dilakukan sesudah perbedaan-perbedaan dalam variable bebas terjadi karena perkembangan suatu kejadian secara alami.
Penelitian ex post facto merupakan penelitian yang variabel-variabel bebasnya telah terjadi perlakuan atau treatment tidak dilakukan pada saat penelitian berlangsung, sehingga penelitian ini biasanya dipisahkan dengan penelitian eksperimen. Peneliti ingin melacak kembali, jika dimungkinkan, apa yang menjadi faktor penyebab terjadinya sesuatu.
2.      Perbandingan Antara Ex post Facto dengan Eksperimen
Dalam beberapa hal, penelitian ex post facto dapat dianggap sebagai kebalikan dari penelitian eksperimen. Sebagai pengganti dari pengambilan dua kelompok yang sama kemudian diberi perlakuan yang berbeda. Studi ex post facto dimulai dengan dua kelompok yang berbeda kemudian menetapkan sebab-sebab dari perbedaan tersebut. Studi ex post facto dimulai dengan melukiskan keadaan sekarang, yang dianggap sebagai akibat dari faktor yang terjadi sebelumnya, kemudian mencoba menyelidiki ke belakang guna menetapkan faktor-faktor yang diduga sebagai penyebabnya.
Penelitian ex post facto memiliki persamaan dengan penelitian eksperimen. Logika dasar pendekatan dalam ex post facto sama dengan penelitian eksperimen, yaitu adanya variabel x dan y. Kedua metode penelitian tersebut membandingkan dua kelompok yang sama pada kondisi dan situasi tertentu. Perhatiannya dipusatkan untuk mencari atau menetapkan hubungan yang ada di antara variabel-variabel dalam data penelitian. Dengan demikian, banyak jenis informasi yang diberikan oleh eksperimen dapat juga diperoleh melalui analisis ex post facto.
Dalam penelitian eksperimen, pengaruh variabel luar dikendalikan dengan kondisi eksperimental. Variabel bebas yang dianggap sebagai penyebab dimanipulasi secara langsung untuk meminimalkan pengaruh terhadap variabel terikat. Melalui eksperimen, peneliti dapat memperoleh bukti tentang hubungan kausal atau hubungan fungsional di antara variabel yang jauh lebih menyakinkan daripada yang dapat diperoleh menggunakan studi ex post facto.
Peneliti dalam penelitian ex post facto tidak dapat melakukan manipulasi atau pengacakan terhadap variabel-variabel bebasnya. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan dalam variabel-variabelnya sudah terjadi. Peneliti dihadapkan kepada masalah bagaimana menetapkan sebab dari akibat yang diamati tersebut. Furchan (383:2001) menyatakan bahwa dengan tidak adanya kemungkinan peneliti untuk melakukan manipulasi atau pengacakan.
Contoh perbedaan antara penelitian ex post facto dengan eksperimen adalah sebagai berikut. Sebuah penelitian berjudulPengaruh Kecemasan Siswa pada Waktu Mengerjakan Ujian Terhadap Hasil Ujian Mereka dapat didekati dengan dua metode, yaitu eksperimen dan eks post facto.
3.      Pendekatan Eksperimen
Dalam judul di atas terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam judul di atas adalah kecemasan siswa dan ujian nasional. Variabel terikatnya adalah hasil ujian.
Ciri dari penelitian eksperimen adalah adanya manipulasi terhadap variabel bebas. Dari kondisi di atas, variabel bebas dapat dimanipulasi menjadi cemas dan tidak cemas. Konkritnya, sebuah kelas terdiri dari kelas A dan B. Masing-masing kelas dimanipulasi kondisinya menjadi kelas A menjadi kelas yang cemas, sementara kelas B menjadi kelas yang netral (pengendali).
Pengkondisian kelas dapat dilakukan dengan memberikan sugesti kepada kelas A bahwa ujian yang diberikan akan berpengaruh terhadap kenaikan kelas. Artinya, siswa yang memiliki nilai yang rendah bisa dimungkinkan tidak naik kelas. Sementara kelas B dikondisikan netral. Dengan pengertian bahwa ujian di kelas B hanyalah untuk mengukur kemampuan pemahaman terhadap suatu kompetensi tanpa adanya pengaruh dari hasil dengan kenaikan kelas.
Setelah kelas sudah terkondisikan, maka diberikan soal dengan tingkat kuantitas dan kualitas kesulitan yang sama. Pada waktu yang bersamaan, lembar jawaban dikumpulkan bersama dan dilakukan pengoreksian terhadap hasil jawab dari kelas A dan B. Apabila terjadi perbedaan nilai, semisal, nilai kelas A lebih tinggi daripada kelas B, maka dapat disimpulkan bahwa dengan adanya kecemasan ternyata mampu meningkatkan nilai ujian. Anggapan lain, bahwa dengan adanya kecemasan membuat siswa semakin berpacu untuk mendapatkan yang terbaik.
4.      Pendekatan Ex post Facto
Hal penting dalam pendekatan ex post facto adalah tidak adanya manipulasi terhadap variabel. Dalam kasus di atas, dapat didekati dengan ex post facto dengan melihat situasi kelas A dan B yang sebelumnya tidak diadakan manipulasi. Artinya, kelas tersebut berjalan secara alami. Misalnya, hasil ujian kelas A dan B menunjukkan perbedaan dari satu siswa ke siswa lainnya. Dari hasil tersebut, dilakukan klasifikasi antara siswa yang memiliki nilai tinggi dengan siswa yang memiliki nilai rendah. Kemudian dihubungkan antara kecemasan dengan hasil nilai. Misalnya ditemukan kesimpulan bahwa nilai di atas rata-rata dikerjakan oleh siswa yang memiliki kecemasan. Oleh karena itu, pengaruh kecemasan siswa memang berpengaruh terhadap hasil ujian, yaitu menjadi lebih baik.
Penelitian dengan menggunakan pendekatan ini tentu saja memiliki kekurangan. Dari kasus di atas dapat terlihat satu celah kelemahan bahwa bisa jadi adanya faktor ketiga selain kecemasan yang membuat nilai ujian meningkat. Hal ini dimungkinkan adanya faktor ketiga, yaitu kecerdasan. Selain kecemasan, bisa dimungkinkan bahwa kecemasan adalah situasi lain, sedangkan kecerdasan menjadi penunjang utama.
5.      Kekurangan Pendekatan Ex Post Facto
Pendekatan ex post facto memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut adalah sebagai berikut. Tidak adanya kontrol terhadap variabel bebas.
Oleh karena tidak adanya kontrol terhadap variabel bebas, maka sukar untuk memperoleh kepastian bahwa faktor-faktor penyebab yang relevan telah benar-benar tercakup dalam kelompok faktor-faktor yang sedang diselidiki. Kenyataan bahwa faktor penyebab bukanlah faktor tunggal, melainkan kombinasi dan interaksi antara berbagai faktor dalam kondisi tertentu untuk menghasilkan efek yang disaksikan, menyebabkan soalnya sangat kompleks. Suatu gejala mungkin tidak hanya merupakan akibat dari sebab-sebab ganda, tetapi dapat pula disebabkan oleh sesuatu sebab pada kejadian tertentu dan oleh lain sebab pada kejadian lain. Apabila saling hubungan antar dua variabel telah diketemukan, mungkin sukar untuk menentukan mana yang sebab dan mana yang akibat. Kenyataan bahwa dua, atau lebih, faktor saling berhubungan tidaklah mesti memberi implikasi adanya hubungan sebab akibat. Menggolongkan-golongkan subjek ke dalam kategori dikotomi (misalnya golongan pandai dan golongan bodoh) untuk tujuan perbandingan, menimbulkan persoalan-persoalan, karena kategori-kategori itu sifatnya kabur, bervariasi, dan tak mantap.
Studi komparatif dalam situasi alami tidak memungkinkan pemilihan subyek secara terkontrol. Menempatkan kelompok yang telah ada yang mempunyai kesamaan dalam berbagai hal kecuali dalam hal dihadapkannya kepada variabel bebas adalah sangat sukar.
Keunggulan Penelitian dengan Pendekatan Ex Post Facto Metode ini baik untuk berbagai keadaan kalau metode yang lebih kuat, yaitu metode eksperimental, tak dapat digunakan. Apabila tidak selalu mungkin untuk memilih, mengontrol, dan memanipulasikan faktor-faktor yang perlu untuk menyelidiki hubungan sebab akibat secara langsung. Apabila pengontrolan terhadap semua variabel kecuali variabel bebas sangat tidak realistik dan dibuat-buat, yang mencegah interaksi normal dengan lain-lain variabel yang berpengaruh. Apabila control di laboratorium untuk berbagai tujuan penelitian adalah tidak praktis, terlalu mahal, atau dipandang dari segi etika diragukan atau dipertanyakan. Studi kausal-komparatif menghasilkan informasi yang sangat berguna mengenai sifat-sifat gejala yang dipersoalkan: apa sejalan dengan apa, dalam kondisi apa, pada perurutan dan pola yang bagaimana, dan sejenis dengan itu.Perbaikan-perbaikan dalam hal teknik, metode statistik, dan rancangan dengan kontrol parsial, pada akhir-akhir ini telah membuat studi kausal komparatif itu lebih dapat dipertanggungjawabkan.
C. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa ketiga metode penelitian kuantitatif memiliki perbedaan jika ditilik dari tujuannya. Perbedaan tersebut tampak sebagai berikut. Penelitan deskriptif yang biasa juga disebut dengan penelitian survay adalah penelitian yang mencoba Untuk membuat pencandraan/gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat pada suatu obyek penelitian tertentu
Penelitian historis untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif,dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi, serta mensintesakan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat Penelitian ex post facto bertujuan untuk melacak kembali, jika dimungkinkan, apa yang menjadi faktor penyebab terjadinya sesuatu.


METODE PENELITIAN

Penelitian deskriptif adalah salah satu jenis metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya ( Best,1982 : 119). Penelitian Deskriptif ini juga sering disebut noneksperimen, karena pada penelitian ini peneliti tidak melakukan kontrol dan manipulasi variabel penelitian. Dengan penelitian metode deskriptif, memungkinkan peneliti untuk melakukan hubungan antar variabel, menguji hipotesis, mengembangkan generalisasi, dan mengembangkan teori yang memiliki validitas universal (west, 1982). Di samping itu,penelitian deskriptif juga merupakan penelitian dimana pengumpulan data untuk mengetes pertanyaan penelitian atau hipotesis yang berkaitan dengan keadan dan kejadian sekarang. Mereka melaporkan keadaan objek atau subjek yang diteliti sesuai dengan apa adanya.
 

Pada umumnya tujuan utama penelitian deskriptif adalah untuk menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan subjek yang diteliti secara tepat. Dalam perkembangannya, akhir-akhir ini metode penelitian deskriptif banyak digunakan oleh peneliti karena dua alasan. Pertama, dari pengamatan empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian dilakukan dalam bentuk deskriptif. Kedua, metode deskriptif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia.

Di samping kedua alasan tersebut di atas, penelitian deskriptif pada umumnya menarik bagi para peneliti muda, karena bentuknya sangat sederhana dengan mudah dipahami tanpa perlu memerlukan teknik statiska yang kompleks. Walaupun sebenarnya tidak demikian kenyataannya. Karena penelitian ini sebenarnya juga dapat ditampilkan dalam bentuk yang lebih kompleks, misalnya dalam penelitian penggambaran secara faktual perkembangan sekolah, kelompok anak, maupun perkembangan individual. Penenelitian deskriptif juga dapat dikembangkan ke arah penenelitian naturalistic yang menggunakan kasus yang spesifik malalui deskriptif mendalam atau dengan penelitian seting alami fenomenologis dan dilaporkan secara thick description (deskripsi mendalam) atau dalam penelitian ex-postfacto dengan hubungan antarvariabel yang lebih kompleks.

Penelitian deskriptif yang baik sebenarnya memiliki proses dan sadar yang sama seperti penelitian kuantitatif lainnya. Disamping itu, penelitian ini juga memerlukan tindakan yang teliti pada setiap komponennya agar dapat menggambarkan subjek atau objek yang diteliti mendekati kebenaranya. Sebagai contoh, tujuan harus diuraikan secara jelas, permasalahan yang diteliti signifikan, variabel penelitian dapat diukur, teknik sampling harus ditentukan secara hati-hati, dan hubungan atau komparasi yang tepat perlu dilakukan untuk mendapatkan gambaran objek atau subjek yang diteliti secara lengkap dan benar.

Dalam penelitian deskriptif, peneliti tidak melakukan manipulasi variabel dan tidak menetapkan peristiwa yang akan terjadi, dan biasanya menyangkut peristiwa-peristiwa yang terjadi saat ini. Dengan penelitian deskriptif, memungkinkan peneliti untuk menjawab pertanyaan penelitian yang berkaitan dengan hubungan variabel atau asosiasi, dan juga mencari hubungan komparasi antar variabel.

Keunikan yang ada pada metode penelitian deskriptif antara lain seperti berikut:
  1. Penelitian deskriptif menggunakan kuesioner dan wawancara, seringkali memperoleh responden yang sangat sedikit, akibatnya bias dalam membuat kesimpulan.
  2. Penelitian deskriptif yang menggunakan observasi, terkadang dalam pengumpulan data tidak memperoleh data yang memadai. Untuk itu diperlukan para observer yang terlatih dalam observasi, dan jika perlu membuat chek list lebih dahulu tentang objek yang perlu dilihat, sehingga peneliti memperoleh data yang diinginkan secara objektif dan reliable.
  3. Penelitian deskriptif juga membutuhkan permasalahan yang harus diindentifikasi dan dirumuskan dengan jelas, agar peneliti tidak mengalami kesulitan dalam menjaring data ketika di lapangan.

Selasa, 28 Januari 2014

PANDUAN SKRIPSI



BAB I
PENDAHULUAN

Penulisan karya ilmiah merupakan salah satu ciri kegiatan perguruan tinggi. Karya ilmiah adalah karya tulis atau bentuk lainnya yang telah diakui dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi atau seni yang ditulis atau dikerjakan sesuai dengan tata Cara ilmiah, dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan. Melalui pembuatan karya ilmiah, anggota masyarakat akademik pada suatu perguruan tinggi dapat mengkomunikasikan informasi baru, gagasan, kajian, dan/atau hasil penelitian. Pela­poran karya ilmiah diperlukan suatu pedoman tentang pembuatan karya ilmiah, khususnya karya ilmiah tertulis. Pedoman penulisan karya ilmiah ini memberikan petunjuk tentang cara menulis karya ilmiah yang berupa skripsi, artikel, makalah, dan laporan pene­litian.

A. Skripsi
Skripsi merupakan karya ilmiah dalam suatu bidang study yang ditulis oleh mahasiswa program Sarjana   (S1), pada akhir studinya. Karya ilmiah ini merupakan salah satu persyaratan untuk menyelesaikan             program study yang dapat ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan, hasil kajian pustaka, atau hasil kerja pengembangan (proyek).
Penelitian  penelitian lapangan adalah jenis penelitian yang berorientasi pada pengumpulan data empiris di lapangan. Ditinjau dari pende­katan yang digunakan, penelitian lapangan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu pe­nelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif adalah suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktif-induktif. Pendekatan ini berangkat dari su­atu kerangka teori, gagasan para ahli, ataupun pemahaman peneliti berdasarkan pengalaman­nya, kemudian dikembangkan menjadi permasalahan-permasalahan beserta pemecahan­-pemecahannya yang diajukan untuk memperoleh pembenaran (verifikasi) dalam bentuk du­kungan data empiris di lapangan. Sedangkan penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimak­sudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistik-kontekstual melalui pengumpulan data dan latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrument kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analysis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspective subject) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan ciri-ciri naturalistik yang penuh keontentikan.
Penelitian Kajian pustaka adalah telaah yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang bertumpu pada penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan. Telah pustaka semacam ini biasanya dilakukan dengan cara mengumpulkan data atau informasi dari berbagai sumber pustaka yang kemudian disajikan dengan cara baru atau untuk keperluan baru. Bahan-bahan pustaka itu diperlakukan sebagai sumber ide untuk menggali pemikiran atau gagasan baru, sebagai bahan dasar untuk melakukan deduksi dari pengetahuan yang telah ada, sehingga kerangka teori baru dapat dikembangkan, atau sebagai dasar pemecahan masalah.
Penelitian kerja pengembangan adalah kegiatan yang menghasilkan rancangan atau produk yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah-masalah aktual. Kegiatan pengembangan ditekankan pada pemanfaatan teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip, atau temuan-temuan penelitian untuk memecahkan masalah. Skripsi yang ditulis berdasarkan hasil kerja pengèmbangan menuntut format dan sistematika yang berbeda dengan skripsi yang ditulis berdasarkan hasil penelitian, dimana karakteristik kegiatan pengembangan dan kegiatan penelitian tersebut berbeda. Kegiatan penelitian pada dasarnya berupaya mencari jawaban terhadap suatu permasalahan, sedangkan kegiatan pengembangan berupaya menerapkan temuan atau teori untuk memecah­kan suatu permasalahan.

B. Artikel, Makalah, dan Laporan Penelitian
        Artikel ilmiah adalah karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal atau buku kumpulan artikel yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan. Artikel ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa, dosen, pustakawan, peneliti, dan penulis lainnya dapat diangkat dan hasil penelitian lapangan, hasil pemikiran dan kajian pustaka, atau hasil pengembangan projek. Dan segi sistematika penulisan dan isinya, artikel dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu artikel hasil penelitian dan artikel nonpenelitian. Setiap mahasiswa penulis skripsi,  sangat dian­jurkan menuliskan kembali karyanya dalam bentuk artikél untuk diterbitkan dalam jurnal. Tata cara penulisan artikel ilmiah diuraikan pada Bagian III buku pedoman ini. Sedangkan contoh format artikel untuk jurnal dapat dilihat pada Lampiran 14.
Makalah adalah karya tulis yang memuat pemikiran tentang suatu masalah atau topik tertentu yang ditulis secara sistematis dan runtut dengan disertai analisis yang logis dan objektif. Makalah ditulis untuk memenuhi tugas terstruktur yang diberikan oleh dosen atau ditu­lis atas inisiatif sendiri untuk disajikan dalam forum ilmiah. Contoh sampul makalah dapat dilihat pada Lampiran.
Laporan penelitian adalah karya tulis yang berisi paparan tentang proses dan hasil-hasil yang diperoleh dari suatu kegiatan penelitian. Contoh sampul laporan penelitian dapat dilihat pada Lampiran.


BAB II
SKRIPSI

Skripsi dalam pedoman ini dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu yang disusun berdasarkan hasil penelitian kuantitatif, hasil penelitian kualitatif, hasil kajian pustaka, dan hasil kerja pengembangan.

A. Skripsi Hasil Penelitian Kuantitatif          

Hal-hal yang disajikan dalam laporan penelitian kuantitatif pada umumnya bersifat kompleks, mulai dari isi kajian terhadap berbagai teori yang bersifat substantif dan mendasar sampai kepada hal-hal yang bersifat operasional teknis. Karena kompleksnya materi yang disajikan, maka laporan penelitian kuantitatif perlu diatur sedemikian rupa sehingga pembaca laporan dapat dengan mudah menemukan setiap bagian yang dicarinya dan dapat mema­haminya secara tepat.
Laporan hasil penelitian yang ditulis dalam bentuk skripsi, terutama ditujukan untuk kepentingan masyarakat akademik. Laporan untuk masyarakat akademik cenderung bersifat teknis, berisi apa yang diteliti secara lengkap, mengapa hal itu diteliti, cara melakukan penelitian, hasil-hasil yang diperoleh, dan kesimpulan penelitian. lsinya disajikan secara lugas dan objektif. Format laporan cenderung baku, mengikuti ketentuan dari perguruan tinggi atau suatu kelompok masyarakat akademik.
Berdasarkan pemikiran di atas, isi dan sistematika skripsi sebagai laporan hasil penelitian kuantitatif dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir. Masing-masing bagian dapat dirinci sebagai berikut:

1. Bagian Awal
Hal-hal yang termasuk dalam bagian awal adalah:
a.   Halaman Sampul
b.   Lembar Logo STIAB Smaratungga
c.   Halaman Judul
d.   Lembar Persetujuan
1) Lembar persetüjuan pembimbing
2) Lernbar pensetujuan dan pengesahan
e. Abstrak (untuk disertasi perlu ditambahkan abstrak dalam bahasa lnggris)
1)   Kata Pengantar    
2)   Daftar Isi    
3)   Daftan Tabel
4)   Daftar Gambar
5)   Daftar Lampiran
6)   Daftar Lainnya
2. Bagian Inti
Bagian ini berisi inti isi skripsi, yang meliputi:
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Hipotesis Penelitian (jika ada)
E. Kegunaan Penelitian
F. Asumsi Penelitian (jika diperlukan)
G. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
H. Definisi Istilah atau Definisi Operasional

BAB II LANDASAN TEORI
A. ………………..
B. ………………..
C. ………………..
BAB Ill METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
B. Populasi dan Sampel
C. lnstrumen Penelitian
D. Pengumpulan Data
E. Analisis Data
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Data
2. Pengujian Hipotesis
B. Pembahasan
1. …………….          
2. …………….
3. …………….
BABV PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran

3. Bagian Akhir
Pada bagian akhir ini termuat:
a.   Daftar Rujukan
b.   Lampiran-lampiran
c.   Riwayat Hidup

B. Skripsi Hasil Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif berusaha mengungkapkan gejala secara menyeluruh dan sesuai dengan konteks (holistik-kontekstual) melalui pengumpulan data dari latar alami dengan meman­faatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian semacam ini bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna dari sudut pandang subjek lebih ditonjolkan dalam penelitian ini. Ciri-ciri penelitian kualitatif tersebut me­warnai sifat dan bentuk laporannya. Oleh karena itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan ciri-ciri alamiahnya.
Laporan penelitian kualitatif harus memiliki fokus yang jelas. Fokus dapat berupa masalah, objek evaluasi, atau pilihan kebijakan. Laporan penelitian kualitatif harus memiliki struktur dan bentuk yang koheren yang dapat memenuhi maksud yang tercermin dalam fokus
Gaya penulisan laporan penelitian kualitatif tidak menggunakan model tunggal. Gaya penulisan dapat bersifat formal, informal, atau gabungan keduanya. Laporan yang ditulis dengan gaya formal memuat hal-hal pokok pada bagian awal, kemudian menunjukkan aspek­-aspek yang dianggap penting yang dipaparkan beserta contoh-contoh dan data. Laporan bergaya informal, misalnya berisi paparan sebuah cerita yang diakhiri dengan kesimpulan.
Sistematika skripsi, hasil penelitian kualitatif pada dasarnya terdiri dari tiga bagian utama: bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir.

1. Bagian Awal          
Hal-hal yang termasuk dalam bagian awal adalah:
a.   Halaman Sampul
b.   Lembar Logo STIAB Smaratungga
c.   Halaman Judul
d.   Lembar Persetujuan
1) Lembar persetüjuan pembimbing
2) Lernbar pensetujuan dan pengesahan
e. Abstrak (untuk disertasi perlu ditambahkan abstrak dalam bahasa lnggris)
1)   Kata Pengantar    
2)   Daftar Isi    
3)   Daftan Tabel
4)   Daftar Gambar
5)   Daftar Lampiran
6)   Daftar Lainnya

2. Bagian Inti

Penulisan bagian ini dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu dan tiga alter­natif format berikut. Alternatif 1 (format tetap 1), alternatif 2 (format tetap 2),dan alternatif 3 (format bebas).

Alternatif 1 (Format Tetap 1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian atau Latar Belakang
B. Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Landasan Teoni
E. Kegunaan Penelitian

BAB  II   METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
B. Kehadiran Peneliti
C. Lokasi Penelitian
D. Sumber Data
E. Prosedur Pengumpulan Data
F. Analisis Data
G. Pengecekan Keabsahan Temuan
H. Tahap-tahap PeneUtian

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

BAB IV PEMBAHASAN

BAB V PENUTUP

Alternatif 2 (Format Tetap 2)

BAB I PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian atau Latar Belakang
B. Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah
            C. Tujuan Penelitian
            D. Kegunaan Penelitian

BAB II              KAJIANPUSTAKA
BAB III METODE PENELITIAN
BAB IV PAPARAN DATA DAN TEMUAN PEN ELITIAN
BAB V PEMBAHASAN
BAB VI PENUTUP

Alternatif 3 (Format Bebas)

BAB I PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian atau Latar Belakang
B. Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah
            C. Tujuan Penelitian
            D. Kegunaan Penelitian
            E. Metode Penelitian
F. Landasan Teori

BAB II                      
( Bab ini dan seterusnya memuat hasil-hasil peneiltian yang diperoleh. Judul dan   isi masing-masing bab disesuaikan dengan topik dan hasil penelitian, termasuk pembahasannya.)
Bagian Inti dan skripsi,  hasil penelitian kualitatif diakhiri dengan bab Penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

Bagian Akhir
Pada bagian akhir ini termuat:
Daftar Rujukan
Pernyataan Keaslian Tulisan
Lampiran-lampiran
Riwayat Hidup

C. SKRIPSI HASIL KAJIAN PUSTAKA
Skripsi hasil kajian pustaka merupakan penampilan argumentasi atau penataran keilmuan yang memaparkan hasil kajian pustaka dan hasil olah pikir, peneliti mengenai suatu masalah/topik kajian. Skripsi jenis ini berisi satu topik yang memuat beberapa gagasan dan/atau proposisi yang berkaitan yang harus didukung oleh data yang diperoleh dari sumber pustaka.   .           . .
Sumber pustaka untuk bahan kajian dapat berupa jurnal penelitian, skripsi, laporan penelitian, buku teks, makalah, laporan seminar, diskusi ilmiah, àtau terbitan-­terbitan resmi pemerintah dan lembaga-lembaga lain. Bahan-bahan pustaka harus dibahas secara kritis dan mendalam dalam rangka mendukung gagasan dan / atau proposisi untuk menghasilkan kesimputan dan saran.
Sistematika skripsi, hasil kajian pustaka terbagi atas tiga bagian utama, yaitu bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir. Masing-masing bagian dapat dirinci sebagai berikut :

Bagian Awal
Hal-hal yang termasuk dalam bagian awal adalah:
Halaman Sampul
Lembar Logo
Halaman Judut
Lembar Persetujuan
a)Lembar persetujuan pembimbing
b)Lembar persetujuan dan pengesahan
Abstrak (untuk disertasi pertu ditambahkan abstnak dalam bahasa Inggris)
Kata Pengantar
Daftar tsi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Daftar Lampiran
Daftar Lainnya


Bagian Inti

BAB I             PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masatah
B.Rumusan Masalah
C.Tujuan Kajian
D.Kegunaan Kajian
E.Metode Kajian
F.Definisi Istilah

BAB II dan Bab-bab selanjutnya masing-masing berisi gagasan pokok diteruskan dengan. kajian mendalam dan diakhiri dengan rangkuman pembahasan dan implikasi. Judul bab disesuaikan dengan materi yang dibahas. Bab inti dan skripsi,  diàkhiri dengan Bab Penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

Bagian Akhir
Pada bagian akhir ini termuat:
Daftar Rujukan
Pernyataan Keaslian Tulisan
Lampiran-lampiran
Riwayat Hidup

D. SKRIPSI dan HASIL KERJA PENGEMBANGAN

Skripsi yang disusun berdasarkan hasil kerja pengembangan (projek) terdiri atas dua bagian, yaitu:
Bagian I :        Memuat kajian analitis pengembangan projek. Kajian analitis ini dituangkan dalam 5 bab seperti terlihat dalam format Bagian I.
Bagian II :       Memuat produk yang dihasilkan dan kegiatan pengembangan seperti telah dispesifikasi dalam Bagian I.
Bagian I dan Bagian II disusun dalam naskah terpisah, sedangkan penjilidannya dapat disatukan.

Format Bagian I

Bagian Awal
Hal-hal yang termasuk dalam bagian awal adalah:
Halaman Sampul
Lembar Logo
Halaman Judul
Lembar Persetujuan
a)Lembar persetujuan pembimbing
b)Lembar persetujuan dan pengesahan
Abstrak (untuk disertasi perlu ditambahkan abstrak dalam bahasa lnggnis)
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftan Gambar
Daftar Lampiran
Daftar Lainnya

Bagian Inti

BAB    I           PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
B.Rumusan Masalah
C.Tujuan Pengembangan
D.Spesifikasi Produk yang Diharapkan
E.Pentingnya Pengembangan
F.Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan
            G. Definisi lstilah
                        H Sistematika Penulisan
BAB    II         KAJIANPUSTAKA
                        A …..
                        B …..                   
                        C …..                   
BAB III          METODE PENGEMBANGAN
                        A. Model Pengembangan
                        B. Prosedur Pengembangan
                        C. Uji Coba Produk
-Desain Uji coba                                
-Subjek Coba                         
                                    -Jenis Data
                                    - lnstnumen Pengumpulan Data
                                    -Teknik Analisis Data            
               
BAB IV          HASIL PENGEMBANGAN                       
                        A. Penyajian Data Uji Coba
                        B. Analisis Data
                        C. Revisi Produk

BAB V            KAJIANDANSARAN
A.Kajian Produk yang Telah Dinevisi
B.Saran Pemanfaatan, Diseminasi,dan Pengembangan Produk Lebih Lanjut

Bagian Akhir
Daftar Rujukan
Pernyataan Keaslian Tulisan
Lampiran-Lampiran
Riwayat Hidup

E. ARTIKEL NONPENELITIAN

Istilah artikel nonpenelitian mengacu kepada semua jenis artikel ilmiah yang bukan merupakan laporan hasil penelitian. Artikel yang termasuk kategori artikel nonpenelitian antara lain berupa artikel yang menelaah suatu teori, konsep, atau prinsip; mengembangkan suatu model, mendeskripsikan fakta atau fenomena tertentu, menhlai suatu produk, dan masih banyakjenis yang lain. Karena beradaanya jenis artikel ini, maka cara penyajiannya di dalam jurnal sangat bervariasi.
Ketentuan untuk penulisan artikel nonpenelitian pada dasarnya berlaku juga untuk pe­nulisan makalah pendek (yaitu makalah yang panjangnya tidak lebih dan 20 halaman), kecuali dalam makalah pendek abstrak dan kata kunci tidak harus ada.

Isi dan Sistematika
Penulisan artikel menggunakan sistematika tanpa angka ataupun abjad. Penjelasan lebih rinci disajikan pada Bagian IV pedoman ini.
Sebuah artikel nonpenelitian berisi hal-hal yang sangat esensial; karena itu biasanya jumlah halaman yang disediakan tidak banyak (antara 10-20 halaman). Unsur pokok yang harus ada dalam artikel nonpenelitian dan sistematikanya adalah
(1) judul artikel,
(2) nama penulis,
(3) abstrak dan kata kunci,
(4) pendahuluan,
(5) bagian inti,
(6) penutup, dan
(7) daftar rujukan.

Judul
Judul artikel berfungsi sebagai label yang mencerminkan secara tepat inti isi yang ter­kandung dalam artikel untuk itu, pemilihan kata yang dipakai dalam judul artikel hendaknya dilakukan secara cermat di samping aspek ketepatannya, pemilihan kata-kata untuk judul perlu juga mempertimbangkan pengaruhnya terhadap daya tank judul bagi pembaca judul artikel sebaiknya terdiri atas 5-15 kata

Nama Penulis
Nama penulis artikel ditulis tanpa disertai gelar akademik atau gelar lain apapun. Nama lembaga tempat bekerja penulis ditulis sebagai catatan kaki di halaman pertama. Jika Iebih dan dua penulis, hanya nama penulis utama saja yang dicantumkan di bawal judul nama penulis lain ditulis dalam catatan kaki.

Abstrak dan Kata Kunci
Untuk artikel nonpenelitian, abstrak berisi ringkasan dan isi artikel yang dituangkan se­cara padat, bukan komentar atau pengantar dan penyunting atau redaksi. Abstrak hendaknya ditulis dalam bahasa lnggris. Terjemahan judul artikel berbahasa Indonesia dimuat pada baris pertama abstrak berbahasa lnggris. Panjang abstrak 50-75 kata dan ditulis dalam satu para­graf. Abstrak diketik dengan spasi tunggal dengan menggunakan format yang lebih sempit dan teks utama (margin kanan dan kin menjorok masuk 1,2 cm).
Kata kunci adalah kata pokok yang menggambarkan daerah masalah yang dibahas dalam artikel atau istilah-istilah yang merupakan dasar pemikinan gagasan dalam karangan asli, berupa kata tunggal atau gabungan kata. Jumlah kata kunci sekitar 3-5 buah. Kata kunci diperlukan untuk komputerisasi sistem informasi ilmiah. Dengan kata kunci dapat ditemukan judul-judul tulisan beserta abstraknya dengan mudah.

Pendahuluan
Berbeda dengan isi pendahuluan di dalam artikel hasil penelitian, bagian pendahuluan dalam artikel nonpenelitian berisi uraian yang mengantarkan pembaca kepada topik utama yang akan dibahas. Oleh karena itu, isi bagian pendahuluan menguraikan hal-hal yang mampu menarik pembaca sehingga mereka “tergiring” untuk mendalami bagian selanjutnya. Selain itu, bagian pendahuhuan hendaknya diakhini dengan rumusan singkat (1-2 kalimat) tentang hal-hal pokok yang akan dibahas. Bagian pendahuluan tidak diberi judul.

Bagian Inti
Judul, judul bagian, dan isi bagian inti sebuah artikeh nonpenelitian sangat bervariasi, tergantung pada topik yang dibahas. Hal yang perlu mendapat penhatian pada bagian Intl adalah pengonganisasian isinya. Uraian yang lebih rinci mengenai cara pengorganisasian isi dibahas pada paparan berikutnya.

Penutup
Istilah penutup digunakan sebagai judul bagian akhir dan sebuah artikel nonpenelitian, jika isinya hanya berupa catatan akhir atau yang sejenisnya. Jika uraian pada bagian akhir berisi kesimpulan hasil pembahasan pada bagian sebelumnya, perlu dimasukkan pada bagian kesimpulan. Kebanyakan artikel nonpenelitian membutuhkan kesimpulan.
Ada beberapa artikel nonpenelitian yang dilengkapi dengan saran. Sebaiknya, saran ditempatkan dalam bagian tersendini.

Daftar Rujukan
Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam batang tubuh artikel. Dàftar rujukan harus Lengkap, mencakup semua bahan pustaka yang telah disebutkan dalam batang tubuh artikel. Tata cara penulisan daftar rujukan dibahas pada Bagian IV, Teknik Penulisan.

F. MAKALAH

Ciri Pokok

Salah satu tujuan pokok penulisan makalah adalah untuk meyakinkan pembaca bahwa topik yang dituhis dengan dilengkapi .penalanan logis dan pengorganisasian yang sistematis memang perlu diketahul dan dipenhatikan. Makalah yang merupakan salah satu jenis karangan ilmiah memiliki ciri atau karakten seperti berikut. Secara umum, ciri-ciri makalah ter­letak pada sifat keilmiahannya. Artinya, sebagai karangan ilmiah, makalah memiliki sifat objektif, tidak memihak, berdasarkan fakta, sistematis, dan logis. Berdasarkan kriteria ini, baik tidak­nya suatu makalah dapat diamati dan smgnmfmkansi masalah atau topik yang dibahas, kejelasan tujuan pembahasan, kelogisan pembahasan, dan kejelasan pengonganisasian pembahasannya.
Berdasarkan sifat dan jenis penalaran yang digunakan, makalah dapat dibedakan menjadi tiga macam makalah deduktif, makahah induktif, dan makalah campuran. Makalah deduktif merupakan makalah yang penulisannya didasankan pada kajianteoretis(pustaka) yang nelevan dengan masalah yang dibahas. Makalah induktif merupakan makalah yang disusun bendasarkan data empinis yang diperoleh dan lapangan yang relevan dengan masalah yang dibahas. Sedangkan makalah campunan merupakan makalah yang penulisan­nya didasarkan pada kajian teonetis digabungkan dengan data empiris yang relevan dengan masalah yang dibahas. Dalam pelaksanaannya, jenis makalah pertama (makalah deduktif) merupakan jenis makalah yang paling banyak digunakan. Dan segi jumlah halaman, dapat dibedakan makalah panjang dan makalah pendek. Makalah panjang adalah makalah yang jumlah halamannya lebih dan 20 halaman. Bagian ini menyajikan ketentuan tentàng penulisan makalah panjang, sedangkan ketentuan tentang penulisan makalah pendek pada dasannya sama dengan ketentuan penulisan artikel non­penelitian, kecuali abstrak dan kata-kunci yang tidak harus ada.

Isi dan Sistematika
Secara ganis besan makalah panjang tendini atas tiga bagian: bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir. Isi ketiga bagian tersebut dipaparkan sebagai berikut.

Bagian Awal
            Halaman Sampul
            Daftan Isi
Daftar Tabel dan Gamban (jika ada)

Bagian Inti
Pendahuluan
Latan Belakang Penulisan Makalah
Masalah atau Topik Bahasan
Tujuan Penulisan Makalah Teks Utama
Penutup

Bagian Akhir
Daftar Rujukan
Lampiran (jika ada)

G. LAPORAN PENELITIAN
Laporan penelitian di tulis dalam suatu format laporan, format di artikan sebagai bentuk susunan, atau organisasi suatu laporan, yaitu bagaimana bagian bagian laporan itu diurutkan dan disusun. Biasanya format laporan penelitian di tentukan oleh lembaga pemberi dana. Penelitian harus mengugunakan format penulisan laporan sesuai dengan permintaan lembaga  pemberian dana atau sesuai dengan jenis penelitian yang di setujui untuk di danai. Pedoman penulisan laporan ini berlaku untuk penyusunan laporan penelitian yang dananya dikelola langsung oleh Sekolah Tinggi Agama Buddha Smaratungga.
Laporan penelitian dapat di sajikan dengan format bebeas atau format tetap. Laporan yang di tulis dengan format bebas tidak di batasi jumlah babnya serta isi masing-masing babnya. Laporan penelitian dengan format tetap harus mengikuti aturan tertentu mengenai jumlah bab dan isi tiap-tiap bab.
Pedoman ini di kemukakan dua cara penulisan laporan, yaitu berdasarkan hasil penelitian kuantitatif dan hasil penelitian kualitatif.

Laporan Penelitian Kuantitatif
            Laporan penelitian kuantitatif disajikan secara lugas, objektif dan apa adanya. Isi pokoknya adalah apa yang diteliti, bagaimana penelitian di lakukan, hasil hasil, serta kesimpulan penelitian. Laporan penelitian kuantitatif terdiri atas tiga bagian utama yaitu bagian awal bagian inti, dan bagian akhir.

Bagian Awal
            Hal Hal yang termasuk dalam bagian awal adalah:
            Halaman Sampul
            Halaman Judul
            Abstrak
            Kata Pengantar
            Daftar Isi
            Daftar Tabel
            Daftar Gambar
            Daftar lampiran
            Daftar Lainnya
Bagian Inti
            Bagian Inti Meliputi:

BAB I             PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
B.  Rumusan Masalah
C.  Tujuan Penelitian
D.  Hipotensis Penelitian
E.   Keguanaan Penelitian
F.   Asumsi
G.  Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
H.  Definisi Istilah Atau Definisi Operasional

BAB II            KAJIAN PUSTAKA
A.  ………………
B.  ………………
C.  ………………

BAB III METODE  PENELITIAN
A.  Rancangan Penelitian
B.  Populasi dan Sample
C.  Instrumen Penelitian
D.  Pengumpulan Data
E.   Analisis Data

BAB IV HASIL PENELITIAN
A.  Deskripsi Data
B.  Pengujian Hipotesis

BAB  V PEMBAHASAN
A.  …………….
B.  .……………
C.  …………….
BAB VI  PENUTUP
A.  Kesimpulan
B.  Saran

Bagian Akhir
Pada Bagian Akhir Termuat:
Daftar Rujukan
Lampiran – Lampiran
Ada 3 model format yang dapat di gunakan dalam menulis laporan penelitian kualitatif, yaitu format tetap 1, format tetap 2 dan format bebas.

Alternatif 1 ( format tetap 1 )

BAB  I  Pendahuluan
A.  Konteks penelitian atau Latar Belakang
B.  Fokus penelitian atau rumusan Masalah
C.  Tujuan Penelitian
D.  Landasan Teori
E.   Keguanaan Penelitian
BAB II  Metode Penelitian
A.  Pendekatan Dan Jenis Penelitian
B.  Kehadiaran Peneliti
C.  Lokasi penelitian
D.  Sumber Data
E.   Prosedur Pengumpulan Data
F.   Analisis Data
G.  Pengecekan Keabsahan Temuan
H.  Tahap – tahap Penelitian
BAB III Paparan Data dan temuan Penelitian
BAB IVPembahasan
BAB V Penutup

Alternatif 2 (format tetap 2)
BAB I Pendahuluan
A.  Konteks penelitian atau Latar Belakang
B.  Fokus penelitian atau rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Kegunaan Penelitian
BAB II Kajian Pustaka
BAB IIIMetode Penelitan
BAB IV          Paparan Data Dan Temuan Penelitian
BAB V            Pembahasan
BAB VI          Penutup

Alternatif 3 (format bebas)
BAB I PENDAHULUAN
A.  Konteks penelitian atau Latar Belakang
B.  Fokus penelitian atau rumusan Masalah
C.  Tujuan Penelitian
D.  Landasan Teori
E.   Keguanaan Penelitian

BAB II
(Bab ini dan Bab-bab selanjutnya memuat hasil-hasil penelitian yang di perolehnya. Judul dan isi masing-masing bab di sesuaikan dengan topik dan hasil penelitiannya, termasuk pembahasannya.)

Bagian inti laporan penelitian kualitatif diakhiri dengan bab penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

Secara Garis besar, penulisan laporan penelitian kualitatif dilakukan melalui dua tahap:
Tahap perencanaan (prapenilisan) dan tahap penulisan. Ada tiga hal pokok yang perlu diperhatikan dalam tahap prapenulisan.
1.   Menyusun atau menata data kedalam susunan yang “baik” yang dapat memudahkan penyusunan laporan sewaktu memerlukannya. Penataan data dapat dilakukan sewaktu pemrosesan data berlangsung. Penataan dapat di lakukan dengan model klasifikasi atau dalam bentuk indeks.
2.   Membuat kerangka laoran, Pembuatan keranka laporan perlu dilakukan sedini mungkin. Laporan yang dirancang dengan menggunakan format tetap memerlukan penataan data yang tidak sama dengan laporan yang di susun dengan mengunakan format bebas.
3.   Melakukan uji silang (check) antara indeks data dengan kerangka laporan yang disusun. Dalam Uji Silang ini ada kemungkinan kerangka laporan yang telah disusun akan mengalami perubahan-perubahan. Kegiatan uji silang akan sangat membantu kelancaran penulisan laporan penelitian.
Untuk dapat menghasilkan laporan penelitian yang baik perlu di perhatikan hal-hal berikut.
  1. Penulisan laporan penelitian kualitatif hendaknya berpegang pada perinsip emik, yakni lebih mengutamakan sudut pandang subjet dalam memahami realita.
  2. Penulisan hendaknya tidak bersifat penafsiran atau evaluatif, kecuali pada bagian yang mempersoalkan hal tersebut. Penulisan laporan harus dapat secara tepat membedakan bagian mana yang merupakan penyajian data dan bagian mana yang merupakan penafsiran peneliti terhadap data.
  3. Jangan terlalu banyak penyajikan data. Pada Tahap awal penulisan biasanya data penelitian yang dimasukkan sangat banyak, sehingga laporan penelitian menjadi sangat tebal. Pada TAhap-tahap slanjutnya, penulis laporan akan mengeluarkan data yang tidak penting, sehingga akhirnya hanya data yang di perlukan saja yang dimasukan dalam laporan penelitian.
  4. Penulisan laporan hendaknya menyusun jadwal penyusunan laporan penelitian secara rinci dan melaksanakan jadwal yang telah disusun secara ketat.