Tampilkan postingan dengan label mahayana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mahayana. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Februari 2014

bodhisattva sila

BODHISATTVA SILA

  1. Latar belakang
Secara historis kemunculan Mahayana dimulai sejak Sang Buddha Parinirvana (544 atau 487 SM), dan menjadi hampir lengkap pada abad pertama. Selama setelah Parinirvanannya Sang Buddha dan menjelang abad tersebut bermunculah aliran-aliran pikiran dalam agama Buddha. Oleh karenannya kemunculan mahayana perlu dilihat dari adanya konsili-konsili.
Dikatakan bahwa sebab diadakan konsili ini menyagkut perbaedaan soal penafsiran ajaran, yang menjadikan sanggh aterpecah menjadi dua golaongan: Mahasangika dan sthaviravada.
Tradisi Theravada yang berleluhur pada golongan Sthaviravada lebih menekankan pada perbedaan-perbedaan vinaya, sedangkan mahasangika yang menjadi leluhur mahayana menekankan pada soal perbedaan penafsiran pada ajran.
Golongan sthaviravada menyebut golongan Mahasangika sebagai Bhikkhu papa (Bhikkhu amoral). Golongan Mahasanghika menagkis tuduhan sebagai pelunak vinaya, dan menyatakan bahwa vinaya yang pegangnya adalah sesuai dengan pemahamannya terhadap jalan tengah buddha yang merupakan budaya spritual buddhis yakni sebagai metoda untuk menghindari dua bentuk keekstriman, sikap hedonistik (pemanjaan diri dalam kesenagan-kesenagan indera) dan aktisme (praktek penyiksaan diri yang berlebihan). Dalam vinaya, metoda jalan tengah menyiratkan tekanan kepada disiplin mental ketimbang pada disiplin fisik, atau disiplin vinaya secara harafiah.
Setelah konsilii kedua sampai kira-kira abad I Masehi merupakan masa dari kemunculan aliran-aliran atau sekte-sekte dalam agama Buddha. Priode ini sering  sebagai priode The scullof  Buddhisema atau masa munculnya aliran-aliran pikiran dalam agama buddha, sedangkan masa sebelum itu yaitu semasa hidupnya Sang Buddha disebut The Primitiv Buddhism atau masa Buddhism Dasar.

  1. Rumusan Masalah
a.      Sejarah vinaya mahayana
b.      Pokok-pokok vinaya mahayana
c.       Boddhisatvasila

  B. Bodhisattva-Sila

Peraturan Bodhisattva berasal dari Tapasilavrata yang diuraikan di dalam Mahasimbhanada Sutra, dan salah satu pasalnya menuntut memakan sayuranis.
Bodhisattva Sila adalah suatu perpaduan (gabungan) antara Pratimoksa dengan peraturan kebhikshuan untuk tata kelakuan umum dari bhikshu yang mengabdikan dirinya pada Buddhisme Utara demi memperkembangkan mereka sendiri ke dalam suatu Bodhisattva-Sangha.
Peraturan ini tidak hanya diperuntukkan bagi anggota Bodhisattva Sangha, tetapi juga untuk perumah tangga yang disebut Grastha-Bodhisattva.
Peraturan Bodhisattva diambil dari Teks Tionghoa Brahmajala Sutra yang diterjemahkan loleh Kumarajiva yang berisi 58 Pasal dan diklasifikasikan dalam 2 bagian, yaitu:
1.        Garukapatti 10
2.        Lahukapatti 48

Garukapatti 10
(Kesalahan berat)
  1. Membunuh
  2. Mencuri
  3. Mengumbar diri dalam hubungan kelamin
  4. Penyombongan diri palsu
  5. Berniaga dalam minuman keras
  6. Membuat tuduhan palsu
  7. Membanggakan diri sendiri
  8. Mengotori moral
  9. Kosong dari rasa hati nurani.
  10. Menjelek-jelekkan Tri Ratna
Lahukapatti 48
  1. Seorang Bhikshu yang tidak sopan terhadap pendiksanya, sesame pendiksanya atau seniornya.
  2. Seorang Bhikshu yang meminum minuman keras atau sesuatu yang memabukkan
  3. Seorang Bhikshu yang memakan daging hewan
  4. Seorang Bhikshu yang memakan 5 macam akar pedas yang terlarang, yang menimbulkan Raga (Nafsu dan sebagainya)
  5. Seorang Bhikshu yang tidak menasehati sesame Bhikshu agar melakukan pengakuan kesalahan secara teratur.
  6. Seorang Bhikshu yang menolak permintaan upaca pemberian amal atau upacara kepada pengkhotbah Buddha Dharma.
  7. Seorang Bhikshu yang melalaikan pelajaran Buddha Dharma
  8. Seorang Bhikshu yang menjelek-jelekkan atau menentang Buddha Dharma
  9. Seorang Bhikshu yang tidak memberikan bantuan kepada orang sakit yang meminta bantuannya
  10. Seorang Bhikshu yang memiliki senjata yang dapat menyebabkan pembunuhan makhluk lain atau hewan.
  11. Seorang Bhikshu yang mengembangkan diri sebagai diplomat, duta atau utusan dalam urusan perundingan internasional.
  12. Seorang Bhikshu yang denga diri sendiri atau melalui petunjuknya melakukan perbuatan immoral yang menyebabkan penderitaan makhluk lain ( perbudakan, pembantaian hewan, dll)
  13. Seorang Bhikshu yang menyebabkan menurunnya nama baik orang lain dan meningkatkan nama baik sendiri.
  14. Seorang Bhikshu yang membakar hutan yang dapat menyebabkan kebakaran besar
  15. Seorang Bhikshu yang berbicara secara mengutuk atau menyindir
  16. Seorang Bhikshu yang dengan samara-samar berbicara demi keuntungannya sendiri
  17. Seorang Bhikshu yang menggunakan gaya bicara yang memaksa agar diberi pemberian
  18. Seorang Bhikshu yang dengan tidak benar menyombongkan kepintarannya atau pahala-pahalanya.
  19. Seorang Bhikshu yang tidak dapat dipercaya ucapannya (tidak dapat diandalkan)
  20. Seorang Bhikshu yang tidak mempunyai belas kasihan kepada binatang dan tidak  menyelamatkan mereka dari bahaya maut.
  21. Seorang Bhikshu yang melakukan balas dendam
  22. Seorang Bhikshu yang congkak dan tinggi hati
  23. Seorang Bhikshu yang membanggakan pengetahuannya
  24. Seorang Bhikshu yang malas mempelajari Buddha Dharma
  25. Seorang Bhikshu yang merusak keselarasan dari sesama Bhikshu.
  26. Seorang Bhikshu yang serakah dan mementingkan diri sendiri
  27. Seorang Bhikshu yang mengalihkan kekayaan seseorang kepada dirinya sendiri
  28. Seorang Bhikshu yang mengalihkan kekayaan seseorang kepada orang lain yang disenanginya
  29. Seorang Bhikshu yang minuman pengasih
  30. Seorang Bhikshu yang bertindak sebagai perantara jodoh
  31. Seorang Bhikshu yang tidak membebaskan seseorang dari perbudakan meskipun dia bias berbuat demikian
  32. Seorang Bhikshu yang berniaga senjata, baik melalui tangannya sendiri maupun dengan petunjuknya
  33. Seorang Bhikshu yang pergi untuk melihat suatu pasuka besar bersenjata yang siap untuk berperang
  34. Seorang Bhikshu yang tidak mempunyai kesabaran dalam menjalankan peraturan
  35. Seorang Bhikshu yang melanggar janji kebhikshuannya
  36. Seorang Bhikshu yang gagal untuk menjalankan aturan kebhikshuan.
  37. Seorang Bhikshu yang melakukan Dhutanga-vrata (hidup dihutan untuk perenungan keagamaan) atau Aranyaka (hidup di hutan) dan tinggal di suatu tempat yang berbahaya
  38. Seorang Bhikshu yang tidak membawa diri dengan kerendahan hati serta tidak menghormati Bhikshu yang tua.
  39. Seorang Bhikshu yang tidak menanam suatu sebab yang baik untuk suatu akibat yang baik
  40. Seorang Bhikshu yang dalam melakukan pentahbisan (pendiksaan) dengan pikiran condong pada keuntungan
  41. Seorang Bhikshu yang mengajarkan Dharma untuk keuntungan uang
  42. Seorang Bhikshu yang melakukan Sangha Karma (Pengakuan kesalahan) kepada seorang penjahat
  43. Seorang Bhikshu yang sengaja berbuat bertentangan dengan Vinaya
  44. Seorang Bhikshu yang tidak menghormati Kitab Suci Buddhis
  45. Seorang Bhikshu yang tidak memberitahukan pengetahuan Dharma demi membebaskan orang dari penderitaan
  46. Seorang Bhikshu yang duduk di suatu tempat yang lebih rendah dan mengajarkan Dharma kepada mereka yang duduk di suatu tempat yang lebih tinggi
  47. Seorang Bhikshu yang menyerah pada permintaan atasannya yang menurut Dharma tidak benar
  48. Seorang Bhikshu yang melanggar Vinaya.


Rabu, 12 Februari 2014

bodhisattva avalokitesvara

BODHISATTVA AVALOKITESVARA
  
Avalokittesvara adalah Bodhisattva pemancar berkah Maitri (Cinta Kasih) dan Karuna (kasih sayang) yang memiliki kebesaran yang tiada tara. Ia memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menolong para Makhluk yang menderita di dunia ini. Banyak yang memujaNya, termasuk di Indonesia, umat Buddha sejak Wangsa Sailendra telah memujaNya, terbukti dengan adanya Candi Borobudur dan Mendut, dimana Candi Mendut terdapat Rupang (patung) Avalokittesvara Bodhisattva. Dalam kepercayaan jawa ia dikenal juga sebagai Dewi Sri, dikalangan kepercayaan Tionghoa ia dikenal sebagai Dewi Kwan Se Im Poo Sat.

Pemujanya banyak yang telah menerima berkahnya, tetapi diantaranya ada yang tidak tahu sama sekali tentang asal-usulNya, bahkan ada yang tidak mau mempersoalkanNya, yang penting bagi mereka dapat memujanya dan mohon pertolonganNya. Ada yang berpendapat Avalokittesvara Bodhisattva adalah Miau San Kung Cu dari legenda Cina. Pendapat ini adalah tidak benar.

Asal mula Avalokittesvara Bodhisattva.
(Kwan Se Im Poo Sat) Pada beberapa kalpa yang lalu, ada Pratyeka Buddha bernama : Saddharma Virya Tatagatha Buddha. Saat ia memasuki tingkat kesempurnaan mencapai tingkat kesucian Pratyeka Bodhi terdengar olehNya keluh kesah penderitaan para makhluk yang berasal/akibat dari hasil perbuatan/buah karma dari makhluk itu sendiri yang tidak baik. Saddharma Virya Tatagatha melihat bahwa pada dasarnya setiap makhluk memiliki benih ke-Buddha-an dan memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai tingkat kebuddhaan. Semua makhluk manusia mempunyai kesempatan yang sama untuk mencapai tingkat ke- Buddha-an. Semua makhluk manusia mempunyai kesempatan yang sama untuk mencapai tingkat Ke-Buddha-an, asalkan ia mau berjuang dengan melaksanakan Sad Paramita (Dana Paramita, Sila Paramita, Ksanti Paramita, Virya Paramita, Dhayana Paramita, Prajna Paramita).

Melihat kesunyataan ini, timbullah rasa belas kasihan dari Saddharma Virya Tatagatha dan ia bertekad dengan Maha Maitri Karuna (Kekuatan Cinta Kasih dan Kasih Sayang) Nya menolong para makhluk agar terbebas dari penderitaan dunia, Prasetya/Kaul diujarkan, saat itu juga di udara muncul para Buddha dan para Bodhisattva Mahasattva yang memuji kebesaran tekad dari saddharma Virya Tatagatha, sambil mengucapkan mantra “Maha Maitri Karuna Sahashera Bhujerah Sahashera Netra Dharani”.

Referensi: Kitab Suci “Maha Karuna Dharani Sutra” .
Mantra ini merupakan dasar pokok kekuatan dari saddharma Virya Tatagatha Buddha (kwan Im Poo Sat) dalam menolong para makhluk dari penderitaan dunia loka ini. Jasa dan pahala Saddharma Virya Tatagatha Buddha tiada taranya, ia dengan memperhatikan dan menolong suara keluh kesah penderitaan makhluk di dunia ini, maka oleh Sakyamuni Buddha ia diberi nama: AVALOKITTESVARA BODHISATTVA dengan memperhatikan keluh kesah penderitaan para makhluk dan menolongnya). Pengertian ajaran dan kegaiban serta cara menolong Avalokittesvara Bodhisattva terdapat dalam kitab suci Saddharma Pundarika Sutra, bagian XXV tentang “AVALOKITTESVARA BODHISATTVA SAMANTHA-MUKHA PARIVARTA”Sutra Avalokittesvara Bodhisattva Samantha-mukha Parivarta/Kitab Suci mengenai Kwan Se Im Poo Sat.

Bunyi Saddharma Pundarika Sutra bagian XXV ini antara lain adalah:
Waktu itu Akohayamati Bodhisattva Mahasattva bangkit dari tempat duduknya, dengan jubah terbuka bahu kananNya menyembah kepada Sang Buddha, seraya berkata: “Sang Tatagatha, apakah sebabnya sehingga Saddharma Virya Tatagatha disebut Avalokittesvara Bodhisattva?” Sang Buddha memberikan penjelasan sebagai berikut: “Siswa pria yang berbudi, jikalau terdapat, para makhluk, ratusan, ribuan, laksaan, jutaan tiada taranya, menderita berbagai penderitaan, mendengar nama Avalokittesvara Bodhisattva segera memusatkan perhatiannya kepada nada suara tersebut: terbebaslah semua penderitaannya.

Penjelasan singkat:
Buddha adalah nama yang telah mencapai tingkat kesempurnaan, yang telah bebas dari segala penderitaan: dan yang dapat membimbing semua makhluk keluar dari roda samsara/alam penderitaan.
Buddha ada tiga jaman: dahulu, sekarang dan yang akan datang.
Buddha jaman dahulu banyaknya tiada terkira, yang umum dikenal ada 7 Buddha:
Namo Bhagavate Dridadasurasenapraharanarajaya Tathagataya Arhate Samyaksambuddhaya.
Namo Bhagavate Amitabhaya Tathagataya Arhate Samyaksambuddhaya.
Namo Bhagavate Akshobyahya Tathagataya Arhate Samyaksambuddhaya.
Namo Bhagavate  Bhaishajaguru Tathagataya Arhate Samyaksambuddhaya.
Namo Bhagavate Sampuspitasalendrarajaya Arhate Samyaksambuddhaya.
Namo Bhagavate Sakyamunaye Tathagataya Arhate Samyaksambuddhaya.
Namo Bhagavate Ratnakusumaketurajaya Tathagataya Arhate Samyaksambuddhaya.

Buddha jaman sekarang adalah Sakyamuni Buddha (Sidharta Gautama Buddha) atau lebih dikenal Dengan sebutan “Sang Buddha” Buddha yang akan datang disebut “Maitreya”. “Siswa pria yang berbudi” artinya murid Sang Buddha yang mendengarkan dan melaksanakan Buddha Dharma dalam kehidupannya sehari-hari. (pria = jiwa besar, jadi bukanlah pengertian laki-laki). “Jikalau terdapat para makhluk, ribuan, laksaan, jutaan tiada taranya” artinya jumlah para makhluk yang hidup pada 6 alam tumimbal lahir yaitu:
Alam Dewa,
Alam Asura,
Alam Manusia,
Alam Binatang,
Alam Setan kelaparan
Alam Neraka.

Setiap manusia sebelum ia memperoleh tingkat kesucian (kesempurnaan yang sejati) dalam penghidupannya. Setelah ia meninggal akan dilahirkan disalah satu 6 alam tumimbal lahir yang penuh penderitaan ketidak kekalan, hasil buah karma yang buruk, yang disebabkan oleh perbuatannya yang lalu. “Mendengar nama Avalokittesvara Bodhisattva, dengan sujud hati memuja namaNya, Avalokittesvara Bodhisattva segera memusatkan perhatiannya kepada nada suara tersebut artinya para penderita, baik akibat karma yang lalu maupun sekarang, asalkan dengan sujud hati (konsentrasi) memuja namanya, Avalokittesvara Bodhisattva akan menolong penderitaan makhluk itu.

“Terbebaslah semuanya” artinya terbebaslah/lenyaplah semua penderitaan yang dimohonkan/dimintakan oleh si penderita kepada Avalokittesvara Bodhisattva; timbulnya kebahagiaan.

Berkah memuja nama Avalokittesvara Bodhisattva:
Dari isi sabda Sang Buddha ini, dapat kita tarik kesimpulan bahwa Sang Buddha mengajarkan kepada umatNya untuk memuja nama Avalokittesvara Bodhisattva agar terbebas/tertolong dari penderitaan dunia. Timbul pertanyaan: apakah dengan hanya memuja saja nama Avalokittesvara Bodhisattva kita akan terbebas dari buah karma buruk?.

Kita hidup dialam manusia yang penuh dengan aneka macam percobaan dari kehidupan ini, baik yang menyenangkan dan tidak menyenangkan (yang dapat membuat diri kita lupa daratan, dendam, irihati maupun benci). Semua yang terjadi dalam kehidupan kita ini, semuanya adalah hasil dari pikiran kita yang lalu, yang dilakukan oleh ucapan, pikiran, dan badan.

Dengan ucapan, pikiran dan badan kita melakukan perbuatan jahat yang mengakibatkan karma buruk atau sebabnya penderitaan. Jika kita ingin bebas dari penderitaan, dariNya juga kita merubahnya, asalkan kita yakin: apa yang kita lakukan pasti dapat berubah, manis atau pun pahit, tergantung dari bentuk peruatan kita tersebut.

Dengan sujud hati dan memuja nama Avalokittesvara Bodhisattva, berarti kita selalu melakukan karma baik, karena: mulut menyebut/memuja namaNya, pikiran konsentrasi kepadanya dan badan bersujud kepadaNya. Terbebaslah/lenyaplah penderitaan. Karenanya, kepada siapa yang selalu melaksanakan Dharma (ajaran) Nya dalam kehidupan sehari-hari, melaksanakan ibadah/kebaktian/sembahyang, puja bakti dan memuja nama para Buddha dan para Bodhisattva Mahasattva selalu berada didekatnya dan memberkahinya, ia akan memperoleh keadaan batin yang seimbang dan bersih, bebas dari rasa gelisah, jauh dari penyakit, rasa kekurangan dan kesusahan, bertambahnya karma baik, selalu sukses dalam kehidupan, yang akhirnya timbul kebahagiaan dan berkembangnya jiwa keBuddhaan bebas dari segala penderitaan.

“Namo Avalokittesvara Bodhisattva”  “Segala Puji Dipersembahkan kepada Avalokittesvara Bodhisattva yang maha penolong”.

Sarva Buddha Bodhisattvabhaya Sukhiastu Bhavantute Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Para Buddha dan Boddhisattva Mahasattva memberikan Berkah dan Kebahagiaan bagi Anda sekalian.


MANTRA AVALOKITESVARA (TA PEI COU)
MAHA KARUNA DHARANI

Mantra Maha Karuna Dharani telah dikenal oleh umat Buddhis Mahayana selama berabad-abad lamanya. Setiap hari mantra tersebut dibaca berulang kali oleh berjuta umat Buddhis Mahayana. Begitupula telah banyak naskah dari mantra tersebut yang telah dikenal oleh umat Buddhis Mahayana dengan bermacam-macam aksen dan suara, namun yang terpenting adalah pemusatan pikiran tingkah laku dan orang yang mengulang mantra tersebut. Akan lebih banyak membantu apabila seseorang telah mengerti tentang Trikaya di dalam ajaran Mahayana, yaitu:

Dhamakaya
Dapat diartikan sebagai tubuh Dharma, sebagai suatu yang absolut dan sesuatu yang Maha Esa, sulit untuk menjabarkannya dalam bahasa manusia, tubuh ini secara filosofis di dalam ajaran Mahayana dimiliki oleh para Buddha dan Bodhisattva sebagai manifestasi dari kekuatan untuk memberkati.
Sambhogakaya Dapat diartikan sebagai tubuh sinar, berkah dan kekuatan tubuh ini secara filosofis di dalam ajaran Mahayana dimiliki oleh para Buddha dan Bodhisattva sebagai manifestasi dari kekuatan untuk memberkati.

Nirmanakaya
Adalah tubuh aktual dan nyata yang dimiliki oleh para Buddha dan Bodhisattva untuk menyampaikan Dharma. Hal tersebut juga dapat termanifestasi di dalam bentuk arca atau gambar dari para Buddha dan Bodhisattva, karena begitu sulitnya bagi anusia untuk mengerti dan membayangkan sesuatu yang absolut dan yang maha esa. Demikianlah bila pengertian tentang Trikaya telah dapat dimengerti, maka pengulangan mantra Maha Karuna Dharani akan lebih banyak membantu. Berikut ini adalah terjemahan singkat yang dikutip dari terjemahan bahasa Inggris dari buku “Popular Deities of Chinese Buddhism” yang disusun oleh Kuang Ming, terbitan Kuan Yin Contemplative Order, Malaysia 1985.

1.    Namo Ratnatrayaya aku berlindung kepada Triratna
2.    Namo Aryavalokitesvara Aku berlindung kepada Yang Maha Esa
3.    Bodhisattva Mahasattva Mahakarunikaya Di dalam makhluk yang agung telah mencapai penerangan, di dalam yang penuh welas asih dan kasih sayang.
4.    Om Sava Abhayah Sunadhasya Om didalam perlindungan yang tak merasa takut dan gentar
5.    Namo Sukrtvemana Aryavalokiteshragarbha Semoga aku dapat berlindung didalam yang maha esa
6.    Namo Nilakantha Siri Mahabhadrasrame Aku berlindung kepadamu, didalam kewelas-asihan
7.    Sarvathasubham Ajeyam Sarvasattvanavarga Mahadhatu Yang penuh dengan pengertian dari semua cara dan jalan yang suci, yang membuat semua makhluk berupaya dan mensucikan semua alam kehidupan.
8.    Tadyata Im Avaloke Lokite Karate Kepadanya om, yang maha esa, yang transenden di dunia.
9.    Hari Mahabodhisattva Sarva Sarva Mala Mala Oh hari makhluk agung yang terang/semuanya dari lingkaran bunga
10.  Masi Maharrdayam Kuru Kuru Karmam Inti dari dunia/buatlah sukses
11.   Kuru Kuru Vijayati Mahavijayati Pekik kemenangan yang sukses/maha besar/pekik kemenangan
12.   Dhara Dhara Dharin Suraya Berdirilah!berdirilah dan tegak oh indera!
13. Chala Chala Mama Brahmara Muktir Bergeraklah! Bergeraklah! Bebaskan saya dari gangguan pikiran.
14.  Ehi Ehi Chinda Chinda Harsham Prachali Datanglah, datanglah, Dengarlah , dengarlah, dengarlah, suka cita yang timbul
15.   Basha Basha Presava Hulu Hulu Mala Berbicaralah, berbicaralah berilah seruan!
16.   Hulu Hulu Hile Sara Sara Siri Siri Suru Suru Suara-suara untuk permohonan di dalam doa
17.    Bodhiya Bodhiya Bodhaya Bodhaya Bangkit, bangkit!
18.     Maitreya Nilakantha Dharshinina Oh yang penuh dengan kasih! Dia yang patut didambakan.
19.   Payamama Svaha Siddhaya Svaha Maha Siddhaya Svaha Kepada yang tak gentar, svaha! Kepada yang penuh kekuatan, svaha! Kepada yang penuh kekuatan yang maha besar, svaha!
20. Siddhayogesvaraya Svaha Nilakantha Svaha Kepada yang penuh kekuatan dari kesatun dan kesatuan, dari kesatuan, svaha! Kepada yang agung, svaha!
21. Varahanaya Svaha Simhashiramukkhaya Svaha Kepada yang kelihatan berwajah seram, svaha! Kepada yang berwajah singa,svaha!
22.  Sarvamahasiddhaya Svaha Cahkrasiddhaya Svaha Kepada yang memiliki semua kekuatan besar, svaha! Kepada yang memiliki chakra, svaha!
23.         Padmahastya Svaha Nilakanthavikaraya Svaha Kepada yang memegang teratai, svaha! Kepada yang agung, svaha!
24.                        Mahasishankaraya Svaha Kepada yang maha esa dan memberkati, svaha!
25.                        Namo Ratnatrayaya Aku berlindung kepada Triratna!
26.                        Namo Aryavalokiteshvaraya Svaha Aku berlindung kepada yang maha esa, svaha!
27.                         Om Siddhayantu Mantrapadaya Svaha Om! Semua hasil dari mantra ini terlaksana!

KETERANGAN
TENTANG MAHA KARUNA DHARANI

Maha Karuna Dharani adalah mantra Sang Avalokitesvara Bodhisattva (Kuan Yin Phu Sa), yang disabdakan oleh Sang Sakyamuni Buddha, sebagaimana disebutkan dalam “The Sutra of Vast, Great, Perfect, Full, Unimpeded, Great Compassion Heart Dharani of The Thousand Handed, Thousand – Eyed Bodhisattva Who Regards The World Sounds”

Dharani atau mantara adalah kumpulan suku kata atau kata gaib/mistik yang mempunyai kekuatan luar biasa. Bila mantra dipergunakan dengan tepat dan benar, tiada hal yang tidak mungkin. Dalam karya terkenal “The India Buddhist Iconography”, Benoytosh Bhatta Charya menulis “dengan membaca mantra berulang-ulang akan timbul suatu kekuatan yang luar biasa, yang akan mengejutkan seluruh dunia”. Karuna artinya welas asih, rasa ingin membebaskan orang dari penderitaan. Jadi Maha Karuna Dharani adalah Dharani maha welas asih atau mantra maha welas asih, artinya: mantra yang dapat membebaskan umat dari semua penderitaan dan kesusahan serta dapat memberikan kebahagiaan. Dalam “The Dharani Sutra” disabdakan bahwa manfaat Maha Karuna Dharani antara lain adalah untuk memperoleh:
Kegembiraan dan kedamaian
Kebebasan dari segala penyakit
Umur panjang
Kemakmuran
Penghapusan karma berat
Hilangnya halangan dan kesusahan
Timbulnya dalam semua Dharani murni serta semua pahala dan kebajikan
Lenyapnya segala rasa takut
Pencapaian tujuan

Meskipun keampuhan mantra ini terdapat dalam banyak bidang, namun bagi orang awam kegunaannya lebih dikenal luas dalam bidang pengobatan.

Dalam usaha penyembuhan pada umumnya terdapat tiga hal:
inisiatif pengobatan oleh penderita dan keluarganya
sarana pengobatan melalui dokter, ahli pengobatan tradisional ataupun sarana lain.
pelaksanaan pengobatan dengan minum obat, mematuhi pantangan/anjuran dan sebagainya

bila mantra ini dipergunakan untuk pengobatan, ketiga hal tersebut dapat dilakukan oleh orang yang sama. Kunci terpenting adalah kemurnian hati dan kesujudan si pengucap mantra. Dalam Mantra Sacred word of Powers” mendiang john Blofeld : mantra luar biasa efektifnya, jika kondisi mental benar-benar dipenuhi”. Dalam “Shambala Reviews of The Books and Ideas” ia menulis: untuk melaksanakan standar moral yang agung, hal-hal yang diperlukan dalam pengucapan Maha Karuna Dharani adalah:

Fisik
Badan bersih, jauhi makanan hewan selama masa pengucapan mantra

Rohani
Hati sujud, tidak tamak, tidak membenci/mendendam, menjalankan pancasila Buddhis (yaitu; tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzinah, tidak berdusta, dan tidak minum/makan sesuatu yang memabukkan).

Alat
Dupa wangi (antara lain: mawar dan melati) dan air untuk pengobatan.

Tempat
Vihara, kuil atau altar di rumah, terutama di hadapan Avalokitesvara Bodhisattva (lebih ideal yang dalam wujud banyak tangan), bila keadaan tidak memungkinkan, bisa dirumah dengan menghadap ke langit.

Cara
Nyalakan tiga batang dupa wangi, berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sanghyang Adi Buddha, nyalakan tiga batang dupa wangi lagi dan berdoda kepada Avalokitesvara Bodhisattva, ucapkan mantra ini 7 kali, atau 14 kali, 21 kali sampai 108 kali, air di altar di mohon untuk diminum, ulangi cara ini setiap hari.

Uraian yang lebih rinci tentang pengobatan, misalnya bagi orang yang penglihatannya kabur, tuli, demam, sulit melahirkan, luka bakar, rasa takut mencekam terus menerus, insomnia(susah tidur), banyak kecelakaan dan kesusahan dalam keluarga, suami isteri cekcok terus, badan mati sebelah, gangguan setan atau roh jahat, menghilangkan rasa benci/dendam kepada orang dan lain-lain. Tiada penyakit yang tidakdapat disembuhkan bila dengan sujud dan menjalankan sila, tiap hari orang mengucapkan mantra ini 108 kali selama 1000 hari tanpa berhenti”.

Semula Maha Karuna Dharani tergolong dalam mantra-mantra yang hanya diturunkan terbatas oleh guru kepada siswanya yang telah diinisiasi, sehingga jelas tidak mudah mendapatkannya. Dalam sutra empat puluh dua bagian Sang Buddha bersabda: adalah sulit menjumpai sutra-sutra Buddhis” dan apabila seseorang benar-benar menjumpai Sang Jalan (kebenaran/Buddha Dharma), masih sulit dalam dirinya timbul keyakinan,” tentunya karena kita mempunyai Afinitas (pertalian, tumpuan ikatan, affinity) dengan Buddha Dharma, memiliki karma baik dan akar-akar kebajikan (Good Roots). Karena itu simpanlah mantra ini sebagai mustika dan ucapkanlah mantra ini sebagai bagian dari puja bhakti selama masa nabati (wujud dari puja bhakti selama nabati, wujud nyata metta karuna kepada semua makhluk hidup) serta pergunakanlah untuk menolong diri dan sesama umat pada waktu dibutuhkan dengan keimanan yang teguh dan semangat kewelas asihan sesuai dengan nama mantra ini.

 *****
SEMOGA DAPAT MEMBERIKAN ANDA SEMUA INSPIRASI
SADHU...SADHU...SADHU...

bodhisattva mahasthamaprapta

BODHISATTVA MAHASTHAMAPRAPTA
(TA SHE CE PHU SA/TA SI CI PO SAT)

 Bodhisattva Mahasthamaprapta merupakan salah satu Bodhisattva yang dipuja dan dihormati oleh umat Buddha Mahayana, dan juga merupakan salah satu Bodhisattva terkemuka dalam aliran, Sukhavati (tanah suci). Namanya berasal dari bahasa sansekerta yang mengandung arti “yang telah mencapai kekuatan universal”, atau dihormati dan dipuja sebagai manifestasi dari maitri karuna (cinta kasih dan belas kasihan). Bodhisattva Mahasthamaprapta atau Ta She Ce Phu Sa merupakan pencerminan dari sifat Ah Mi Thuo Fo (Amitabha Buddha), yaitu: kebijaksanaan, sedangkan Kuan Yin Phu Sa mencerminkan kewelas asihannya. Ta She Ce Phu Sa mencapai tingkatan Bodhisattva setelah melewati dan melaksanakan praktek Dharma dan selalu menyebut nama Buddha pada masa itu.

Pada waktu Ah Mi Thuo Fo menjadi Buddha, ia bersama Kuan Yin Phu Sa menjadi muridnya dan bertugas membimbing para penganutnya ke tanah suci Sukhavati pada waktu mereka meninggal dunia. Dalam kitab suci (sutra) Shuranggama disebut “ketika Amitabha mengundurkan diri sebagai pengajar di Sukhavati, Kuan Yin akan menggantikan kedudukannya. Dan bila saatnya tiba Kuan Yin mengundurkan diri, maka Ta Se Ce adalah sebagai penggantinya. Ta She Ce konon memiliki kekuatan yang sangat besar, kalau ia mengangkat tangannya atau menggerakkan salah satu anggota tubuhnya, bumi ini akan berguncang. Meskipun Bodhisattva ini populer dikalangan Tionghoa, tapi penganutnya tak banyak dan hampir tidak ada satu kuil pun yang diperuntukkan penghormatan kepadanya. 

Umumnya ia dipuja dalam bentuk tiga serangkai dengan Amitabha dan Kuan Yin yang memberikan pertolongan kepada siapa saja yang menderita, Ta She Ce mengulurkan tangannya hanya kepada mereka yang betul-betul menerapkan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari dan berusaha keras untuk mencapai kesempurnaan. Sebab itu penganutnya tidak sebanyak Kuan Yin. Konon, Ta She Ce mempunyai altar teratai yang akan dipinjamkan kepada mereka yang menyebut namanya, supaya dapat dikendarai untuk mencapai tanah suci Sukhavati. Sebab itu para penganut Buddhis yang taat beribadat tak ragu-ragu menyebut namanya dalam usaha untuk memperoleh pencerahan. Hari lahir Ta She Ce Phu Sa diperingati pada ranggal 13 bulan 7 Imlek. Ta She Ce ini biasanya di dalam gambar atau bentuk arca beliau selalu berada di sebelah kiri dari Amitabha Buddha.

Bodhisattva Mahasthamaprapta
Makna Maha-sthama-prapta (Dashizhi)
Kekuatan seorang bodhisattva sungguh tidak terkirakan. Kekuatan untuk selalu semangat mencapai kebuddhaan, kekuatan kebijaksanaan menaklukkan Mara dan kegelapan batin, kekuatan kasih sayang dan welas asih menyebrangkan semua makhluk ke Pantai Seberang, Nirvana, itulah kekuatan agung Bodhisattva Mahasattva.

Salah satu Bodhisattva Mahasattva yang memiliki kekuatan luar biasa itu adalah Bodhisattva Maha-sthama-prapta (Mahasthamaprapta), atau dalah Mahayana Tiongkok dikenal dengan nama Dashizhi Pusa.

Nama Bodhisattva Mahasthamaprapta memiliki arti: "Bodhisattva yang Mencapai Kekuatan Agung". Seperti yang diutarakan dalam Sutra Amitayur Dhyana (Guan Wu Liang Shou Jing): "Dengan kekuatan kebijaksanaan, mencabut penderitaan tiga alam rendah (neraka, setan, hewan) agar memperoleh kebahagiaan tertinggi, karena itu disebut sebagai Maha-sthama-prapta." Sedang Sutra Visesacintabrahma-pariprccha (Si Yi Jing) mencantumkan: "Saya menapakkan kaki di satu tempat, bergetarlah alam tiga ribu maha ribu dan istana Mara, sebab itu disebut sebagai Maha-sthama."

Makna nama Maha-sthama-prapta (Dashizhi) dapat diartikan pula sebagai berikut. Maha (Da) menunjukkan arti pencapaian Tubuh Dharma (Dharma-kaya) yang besar dan agung; Sthama (Shi) adalah kekuatan pencapaian kebijaksanaan yang menghancurkan kegelapan batin (internal) dan menundukkan godaan Mara (eksternal); sedang Prapta (Zhi) adalah pencapaian Pencerahan yang mendekati kebuddhaan.

Amitabha Buddha, Avalokitesvara dan Mahasthamaprapta Bodhisattva adalah Tiga Suciwan Pembabar Dharma di Tanah Suci Sukhavati. Setelah Buddha Amitabha mahaparinirvana, maka Bodhisattva Avalokitesvara akan menjadi Buddha menggantikan Amitabha membabarkan Dharma di Sukhavati. Setelah Avalokitesvara Mahaparinirvana, akan digantikan oleh Mahasthamaprapta dengan nama Shanzhu Gongde Baowang Rulai. Supratishthita-guna-ratnaraja Tathagata) yang berarti "Tatagatha Raja Kebajikan dalam Permata Pahala Moralitas."

Mahasthamaprapta digambarkan mengenakan mahkota dengan sebuah botol berisi cahaya kebijaksanaan di tengahnya, kedua tangan memegang setangkai bunga teratai (lotus) yang mekar, membuka hati setiap insan menerima Buddha.

Vipasyana Bodhisattva Mahasthamaprapta
Nama Mahasthamaprapta muncul dalam berbagai Sutra. Sutra Saddharmapundarika menyebutkan Mahasthamaprapta termasuk dalam kumpulan besar yang mendengarkan Dharma Buddha di Puncak Grdhakuta, Rajagriha. Sedang dalam Sutra Amitayur Dhyana, Buddha menjelaskan tentang Mahasthamaprapta sebagai berikut:

Buddha bersabda lagi: "Selanjutnya kita melaksanakan Vipasyana Bodhisattva Mahasthamaprapta! Ketahuilah, tinggi dan besar Bodhisattva ini sama dengan Bodhisattva Avalokitesvara. Lingkaran sinar empat penjuru masing-masing mencapai 125 yojana dan memancar sejauh 250 yojana. Seluruh tubuh memancarkan cahaya ungu keemasan yang juga menerangi 10 oenjuru alam, para makhluk yang berjodoh akan dapat melihatnya.

O, Arya Ananda! Ketahuilah, asal dapat melihat cahaya yang terpancar dari satu pori saja, identik dengan melihat cahaya murni dan menakjubkan dari para Buddha di 10 penjuru! Karena itu, Bodhisattva Mahasthamaprapta juga disebut Bodhisattva Anantavamprabha (Cahaya Tanpa batas). Sebab cahaya dari satu pori itu sama seperti cahaya para Buddha yang tak terhitung banyaknya yang menyinari secara luas tiada batas. Seperti halnya Bodhisattva Avalokitesvara menyinari semua makhluk dengan cahaya kasih sayang dan welas asih, Bodhisattva ini menyinari segala tempat dengan cahaya kebijaksanaan, agar para makhluk dapat memiliki cahaya kekuatan tak terhingga yang dapat membebaskan diri dari penderitaan tiga alam rendah. Karena itu arti nama Bodhisattva Mahasthamaprapta adalah kekuatan dahsyat dari kebijaksanaan memenuhi sepuluh penjuru.

Di atas mahkota Bodhisattva Mahasthamaprapta terdapat 500 teratai mustika. Di setiap teratai mustika terdapat 500 takhta mustika, setiap takhta menampakkan panjang dan lebar wilayah sepuluh puluhan penjuru Tanah Suci Mengagumkan dari para Buddha. Usnisa di dahi Bodhisattva Mahasthamaprapta seperti bunga teratai merah dan di atas usnisa itu terdapat sebuah kundika (botol mustika) yang berisikan cahaya kebijaksanaan, yang digunakan untuk menyelamatkan semua makhluk. Tanda-tanda agung lainnya tidak berbeda dengan Bodhisattva Avalokitesvara.

Ketika Bodhisattva Mahasthamaprapta mengayunkan langkah, sepuluh penjuru alam akan bergetar, dan pada setiap tempat yang bergetar di masing-masing alam itu muncullah 500 koti bunga teratai mustika. Setiap teratai mustika itu tampak anggun dan agung. Keagungannya mirip alam Sukhavati! Saat Bodhisattva Mahasthamaprapta duduk, tanah tujuh permata di Alam Sukhavati akan terlebih dulu bergoyang, lalu menyebar hingga Tanah Buddha di bagian bawah yaitu Negeri Buddha Suvarnaprabha. Di antara dua alam Buddha tersebut tertampak Nirmanakaya (Badan penjelmaan) dari Buddha Amitayus (Buddha Amitabha), Bodhisattva Avalokitesvara dan Bodhisattva Mahasthamaprapta yang tak terhitung jumlahnya. Kesemuanya berkumpul di Alam Sukhavati, memenuhi seluruh langit, dan duduk bersila di atas takhta teratai, membabarkan Dharma yang menakjubkan dan dalam maknanya demi menyelamatkan para makhluk yang menderita. Metode tersebut disebut Vipasyana Bodhisattva Mahasthamaprapta", juga dinamakan Vipasyana ke sebelas."

Dikisahkan dalam Sutra Shurangama, Mahasthamaprapta mencapai pencerahan melalui pengendalian landasan indera dan pelafalan nama Buddha secara tiada henti sehingga mencapai kondisi Samadhi. Sesepuh ke-13 tradisi Tanah Suci (Sukhavati), Master Yin-guang (1861-1941), menetapkan Dashizhi Pusa Nianfo Yuantong Zhang (Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafalkan Nama Buddha secara Sempurna dan Tiada Halangan - bagian dari Sutra Shurangama) sebagai salah satu dari Sutra acuan tradisi Sukhavati.

Kalangan Mahayana Tiongkok meyakini Master Yin-guang sebagai badan penjelmaan Bodhisattva Mahasthamaprapta. Sedang tempat pembabaran Dharma di Tiongkok dari Mahasthamaprapta yang kelahirannya diperingati setiap tanggal 13 bulan 7 Imlek ini ditetapkan di Vihara Guangjiaosi di Gunung Langshan, Nantong, Propinsi Jiangsu.
Mahasthamaprapta juga diyakini beberapa kali mewujudkan dirinya di negara Jepang. Di sana, Mahasthamaprapta berwujud sebagai seorang perempuan yaitu istri dari pangeran Shotoku, juga sebagai seorang pria, yaitu Honen Shonin (1133-1212), pendiri aliran Jodo (Sukhavati) di negara matahari terbit. Uniknya, nama asli Honen (Chinese: Faran) adalah Seishi-maru. "Seishi" adalah terjemahan bahasa Jepang untuk Mahasthamaprapta. Bahkan tidak hanya beremanasi sebagai seorang manusia saja, Mahasthamaprapta juga muncul sebagai seorang dewa bernama Dewa Candra (bulan), yang menerangi kegelapan "malam" samsara dan memberikan kebijaksanaan pada semua makhluk.

Bodhisattva Vajrapani tradisi Vajrayana
Di negara atap dunia (Tibet), Mahasthamaprapta lebih dikenal dengan nama Bodhisattva Vajrapani (Tibet: Chana Dorje, Chinese: Jin-gangshou Pusa). Sebagai emanasi dari Dhyani Buddha Akshobya, Vajrapani menempati posisi sebagai pemimpin keluarga Vajra. Bersama Avalokitesvara dan Manjusri, merupakan 3 bodhisattva utama tradisi Vajrayana yang melambangkan 3 aspek utama dari Bodhi (pencerahan) yaitu cinta kasih (mahamaitrikaruna), kebijaksanaan (mahaprajna) dan kekuatan (mahabala). Ketiga Bodhisattva tersebut juga menyimbolkan tubuh, ucapan dan pikiran para Buddha. Selain itu, dalam paham wilayah, Vajrapani adalah pelindung Mongolia, Manjusri pelindung dataran Tiongkok dan Avalokitesvara pelindung Tibet.

Sebagaimana Ananda sebagai siswa "Penjaga Dharma" yang mengingat dan mengucapkan ulang wejangan Buddha dalam konsili pertama, demikian juga di saat yang sama di Gunung Vimalasvabhava, Vajrapani mengucapkan ulang ajaran-ajaran Buddha, yang kemudian dikenal sebagai Sutra-sutra Mahayana. Konsili tersebut dikepalai oleh Bodhisattva Samantabhadra, beserta Maitreya mengucapkan kembali Abhidharma. Keseluruhannya dikumpulkan menjadi Tripitaka Mahayana.

Vajrapani dikenal juga dengan sebutan Guhyapati, "Penguasa Rahasia", penjaga semua Tantra yang diajarkan oleh Buddha. Vajrapanilah yang memohon Buddha untuk memutar roda dharma sekali lagi yaitu ajaran Tantra, dan memimpin pertemuan para Bodhisattva di Surga Tusita untuk merangkai dan menyusun kembali ajaran Tantra (Kriya, Carya dan Yoga) yang telah dibabarkan oleh Buddha. 
Dalam Seni Gandhara (Seni Buddha Yunani), Vajrapani digambarkan sebagai Hercules (Herakles), sang tokoh legendaris penemu Olimpiade dan putra dari Zeus, karena melambangkan kekuatan yang maha dasyat. Penggambaran ini kemudian turut mempengaruhi wujud dua emanasi Vajrapani di Asia Timur, yaitu Misshaku dan Narayana. Keduanya ditampilkan di kedua sisi gerbang vihara dengan tubuh berotot dan memegang vajra. Para pelindung tersebut berada dalam posisi beladiri layaknya posisi pratayalidha (prajurit) Vajrapani sendiri.
Vajrapani berarti Tangan Vajra (Petir) atau Pemegang Vajra, adalah satu-satunya bodhisattva Mahayana yang disebutkan dalam naskah Pali, selain Maitreya (Metteyya) dan Svetaketu (Setaketu). Beliau muncul sebagai sebagai Yakkha Vajirapani (Pali), atau Vajrapani (Sanskrit) di Ambattha Sutta, Digha Nikaya. Seorang brahmana bernama Ambatta berkata tidak layak kepada Buddha serta menolak untuk menjawab pertanyaan Buddha sebanyak dua kali. Saat itu juga Yakkha Vajrapani muncul di atas kepala Ambatta, berdiri di udara dengan membawa pemukul besi besar (Vajra) yang menyala-nyala bersiap memecahkan kepala Ambatta sampai berkeping-keping apabila tidak menjawab pertanyaan Buddha untuk ketiga kalinya. Ambattha menjadi sangat ketakutan, kemudian ia mengakui kesalahannya dan memohon perlindungan pada Sang Bhagava. Buddhagosa, komentator Tipitaka Pali yang terkemuka, menyebutkan, bahwa Yakkha Vajirapani adalah Sakka (Shakra), raja para deva di alam Trayastrimsa (Tavatimsa).

Selain sebagai Bodhisattva, Vajrapani juga merupakan Dharmapala (Pelindung Dharma). Ia adalah Dharmapala dari Sakyamuni Buddha dan selalu bersama Buddha (Abhyantaraparivara), layaknya Ananda. Dalam Sutra Astasahasrika Prajnaparamita dikatakan, "Maka sekarang, Vajrapani, Yaksha yang agung, terus menerus mengikuti bodhisattva yang teguh! Tidak tertandingi, Bodhisattva tidak dapat dikalahkan oleh manusia maupun hantu." Demikian juga Sutra Lankavatara pun menyebutkan bahwa Buddha selalu diikuti oleh Vajrapani.

Ketika Buddha melalui Bukit Gridhakuta, tempat Buddha membabarkan Prajnaparamita, Devadatta, sepupu Buddha, hendak membunuh Buddha dengan menggulingkan sebuah batu besar. Tepat ketika batu tersebut hampir mengenai Buddha, Vajrapani muncul dan menghancurkannya menjadi berkeping-keping sehingga hanya sedikit melukai jari kaki Buddha. Selain melindungi Buddha, Vajrapani juga pernah melindungi para naga Uddiyana dari serangan garuda ketika para naga itu sedang mendengarkan pembabaran Dharma dari Buddha.

Sewaktu tiba di Kusinagara, India, Faxian (227-422) dan Xuanzang (sekitar 662-664) menemukan sebuah stupa Vajrapani, yang dipercaya sebagai lokasi tempat Vajrapani menjatuhkan vajranya ketika menyaksikan Buddha Sakyamuni Mahaparinirvana.
Selain itu, raja-raja seperti Raja Suchandra dari Shambhala dikenal sebagai emanasi Vajrapani. Guru Padmasambhava meramalkan bahwa Vajrapani akan beremanasi sebagai Raja Raipavhen dan sebagai seorang perempuan yaitu Konchok Paldron, putri dari Chokgyur Lingpa, Terton agung sekaligus nenek dari Tulku Urgyen Rinpoche.
Jadi, Vajrapani atau Mahasthamaprapta tidak mewujudkan diri beliau di Tiongkok dan Jepang saja, namun juga di Tibet, India dan Shambala.
Amanat Mahasthamaprapta
Dari berbagai bentuk tubuh penjelmaan yang ada, sebenarnya hanya satu hal yang diamanatkan oleh Mahasthamaprapta kepada kita semua, yaitu tekunlah kita mengendalikan enam landasan indera dan berfokuslah pada pelafalan nama Buddha secara tiada henti, itulah kekuatan agung Bodhisattva Mahasattva. Itulah salah satu metode terbaik dalam membangkitkan kekuatan agung hakekat sejati kita.
Kekuatan agung itu bukan menjadi hak milik atau hak paten Bodhisattva Mahasthamaprapta atau para Bodhisattva Mahasattva dan Buddha, melainkan semua makhluk dapat mencapainya asal mampu menerapkan Dharma yang indah. Konsisten dalam Dharma, itulah kekuatan agung yang sejati.

 *****
GOOD LUCK