Rabu, 29 Januari 2014

AGAMA BUDDHA TERAVADA

Aliran Theravada adalah aliran yang memiliki sekolah Buddha tertua yang tinggal sampai saat ini, dan untuk berapa abad mendominasi Sri Langka dan wilayah Asia Tenggara (sebagian dari Tiongkok bagian barat daya, Kamboja, Laos, Myanmar, Malaysia, Indonesia dan Thailand) dan juga sebagian Vietnam. Selain itu populer pula di Singapura dan Australia.  

 Gramatika

      Theravada berasal dari bahasa Pali yang terdiri dari dua kata yaitu thera dan vada. Thera berarti sesepuh khususnya sesepuh terdahulu , dan vada berarti perkataan atau ajaran. Jadi Theravada berarti Ajaran Para Sesepuh. Istilah Theravada muncul sebagai salah satu aliran agama Buddha dalam Dipavamsa, catatan awal sejarah Sri Lanka pada abad ke-4 Masehi. Istilah ini juga tercatat dalam Mahavamsa, sebuah catatan sejarah penting yang berasal dari abad ke-5 Di yakini Theravada merupakan wujud lain dari salah satu aliran agama Buddha terdahulu yaitu Sthaviravada (Bahasa Sanskerta: Ajaran Para Sesepuh) , sebuah aliran agama Buddha awal yang terbentuk pada Sidang Agung Sangha ke-2 (443 SM). Dan juga merupakan wujud dari aliran Vibhajjavada yang berarti Ajaran Analisis (Doctrine of Analysis) atau Agama Akal Budi (Religion of Reason).

Sejarah

Sejarah Theravada tidak lepas dari sejarah Buddha Gotama sebagai pendiri agama Buddha. Setelah Sang Buddha parinibbana (543 SM), tiga bulan kemudian diadakan Sidang Agung Sangha (Sangha Samaya). Diadakan pada tahun 543 SM (3 bulan setelah bulan Mei), berlangsung selama 2 bulan Dipimpin oleh Y.A. Maha Kassapa dan dihadiri oleh 500 orang Bhikkhu yang semuanya Arahat. Sidang diadakan di Goa Satapani di kota Rajagaha. Sponsor sidang agung ini adalah Raja Ajatasatu. Tujuan Sidang adalah menghimpun Ajaran Sang Buddha yang diajarkan kepada orang yang berlainan, di tempat yang berlainan dan dalam waktu yang berlainan. Mengulang Dhamma dan Vinaya agar Ajaran Sang Buddha tetap murni, kuat, melebihi ajaran-ajaran lainnya. Y.A. Upali mengulang Vinaya dan Y.A. Ananda mengulang Dhamma. Sidang Agung Sangha ke-2, pada tahun 443 SM , dimana awal Buddhisme mulai terbagi menjadi 2. Di satu sisi kelompok yang ingin perubahan beberapa peraturan minor dalam Vinaya, disisi lain kelompok yang mempertahankan Vinaya apa adanya. Kelompok yang ingin perubahan Vinaya memisahkan diri dan dikenal dengan Mahasanghika yang merupakan cikal bakal Mahayana. Sedangkan yang mempertahankan Vinaya disebut Sthaviravada. Sidang Agung Sangha ke-3 (313 SM), Sidang ini hanya diikuti oleh kelompok Sthaviravada. Sidang ini memutuskan untuk tidak merubah Vinaya, dan Moggaliputta Tissa sebagai pimpinan sidang menyelesaikan buku Kathavatthu yang berisi penyimpangan-penyimpangan dari aliran lain. Saat itu pula Abhidhamma dimasukkan. Setelah itu ajaran-ajaran ini di tulis dan disahkan oleh sidang. Kemudian Y.M. Mahinda (putra Raja Asoka) membawa Tipitaka ini ke Sri Lanka tanpa ada yang hilang sampai sekarang dan menyebarkan Buddha Dhamma di sana. Di sana ajaran ini dikenal sebagai Theravada.

Kitab Suci

Kitab Suci yang dipergunakan dalam agama Buddha Theravada adalah Kitab Suci Tipitaka yang dikenal sebagai Kanon Pali (Pali Canon). Kitab suci Agama Buddha yang paling tua, yang diketahui hingga sekarang, tertulis dalam Bahasa Pali, yang terbagi dalam tiga kelompok besar (yang disebut sebagai “pitaka” atau “keranjang”) yaitu: Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka, dan Abhidhamma Pitaka. Karena terdiri dari tiga kelompok tersebut, maka Kitab Suci Agama Buddha dinamakan Tipitaka (Pali).

Ajaran

Ajaran dasar dikenal sebagai Empat Kebenaran Arya, meliputi:
Dukkha Ariya Sacca (Kebenaran Arya tentang Dukkha),
Dukkha Samudaya Ariya Sacca (Kebenaran Ariya tentang Asal Mula Dukkha),
Dukkha Nirodha Ariya Sacca (Kebenaran Ariya tentang Terhentinya Dukkha),
Dukkha Nirodha Ariya Sacca (Kebenaran Ariya tentang Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha).
Secara umum sama dengan aliran agama Buddha lainnya, Theravada mengajarkan mengenai pembebasan akan dukkha (penderitaan) yang ditempuh dengan menjalankan sila (kemoralan), samadhi (konsentrasi) dan panna (kebijaksanaan). Agama Buddha Theravada hanya mengakui Buddha Gotama sebagai Buddha sejarah yang hidup pada masa sekarang. Meskipun demikian Theravada mengakui pernah ada dan akan muncul Buddha-Buddha lainnya. Dalam Theravada terdapat 2 jalan yang dapat ditempuh untuk mencapai Pencerahan Sempurna yaitu Jalan Arahat (Arahatship) dan Jalan Kebuddhaan (Buddhahood).

Waisak

Penganut Buddha merayakan Hari Waisak yang merupakan peringatan 3 peristiwa. Yaitu, hari kelahiran Pangeran Siddharta (nama sebelum menjadi Buddha), hari pencapaian Pencerahan Sempurna Pertapa Gautama, dan hari Sang Buddha mangkat mencapai Nibbana/Nirwana. Tempat ibadah agama Buddha disebut vihara Penganut Buddha merayakan Hari Waisak yang merupakan peringatan 3 peristiwa. Yaitu, hari kelahiran Pangeran Siddharta (nama sebelum menjadi Buddha), hari pencapaian Pencerahan Sempurna Pertapa Gautama, dan hari Sang Buddha mangkat mencapai Nibbana/Nirwana. Tempat ibadah agama Buddha disebut vihara Aliran Theravada adalah aliran yang memiliki sekolah Buddha tertua yang tinggal sampai saat ini, dan untuk berapa abad mendominasi Sri Langka dan wilayah Asia Tenggara (sebagian dari Tiongkok bagian barat daya, Kamboja, Laos, Myanmar, Malaysia, Indonesia dan Thailand) dan juga sebagian Vietnam. Selain itu populer pula di Singapura dan Australia.  

 Gramatika

      Theravada berasal dari bahasa Pali yang terdiri dari dua kata yaitu thera dan vada. Thera berarti sesepuh khususnya sesepuh terdahulu , dan vada berarti perkataan atau ajaran. Jadi Theravada berarti Ajaran Para Sesepuh. Istilah Theravada muncul sebagai salah satu aliran agama Buddha dalam Dipavamsa, catatan awal sejarah Sri Lanka pada abad ke-4 Masehi. Istilah ini juga tercatat dalam Mahavamsa, sebuah catatan sejarah penting yang berasal dari abad ke-5 Di yakini Theravada merupakan wujud lain dari salah satu aliran agama Buddha terdahulu yaitu Sthaviravada (Bahasa Sanskerta: Ajaran Para Sesepuh) , sebuah aliran agama Buddha awal yang terbentuk pada Sidang Agung Sangha ke-2 (443 SM). Dan juga merupakan wujud dari aliran Vibhajjavada yang berarti Ajaran Analisis (Doctrine of Analysis) atau Agama Akal Budi (Religion of Reason).

Sejarah

Sejarah Theravada tidak lepas dari sejarah Buddha Gotama sebagai pendiri agama Buddha. Setelah Sang Buddha parinibbana (543 SM), tiga bulan kemudian diadakan Sidang Agung Sangha (Sangha Samaya). Diadakan pada tahun 543 SM (3 bulan setelah bulan Mei), berlangsung selama 2 bulan Dipimpin oleh Y.A. Maha Kassapa dan dihadiri oleh 500 orang Bhikkhu yang semuanya Arahat. Sidang diadakan di Goa Satapani di kota Rajagaha. Sponsor sidang agung ini adalah Raja Ajatasatu. Tujuan Sidang adalah menghimpun Ajaran Sang Buddha yang diajarkan kepada orang yang berlainan, di tempat yang berlainan dan dalam waktu yang berlainan. Mengulang Dhamma dan Vinaya agar Ajaran Sang Buddha tetap murni, kuat, melebihi ajaran-ajaran lainnya. Y.A. Upali mengulang Vinaya dan Y.A. Ananda mengulang Dhamma. Sidang Agung Sangha ke-2, pada tahun 443 SM , dimana awal Buddhisme mulai terbagi menjadi 2. Di satu sisi kelompok yang ingin perubahan beberapa peraturan minor dalam Vinaya, disisi lain kelompok yang mempertahankan Vinaya apa adanya. Kelompok yang ingin perubahan Vinaya memisahkan diri dan dikenal dengan Mahasanghika yang merupakan cikal bakal Mahayana. Sedangkan yang mempertahankan Vinaya disebut Sthaviravada. Sidang Agung Sangha ke-3 (313 SM), Sidang ini hanya diikuti oleh kelompok Sthaviravada. Sidang ini memutuskan untuk tidak merubah Vinaya, dan Moggaliputta Tissa sebagai pimpinan sidang menyelesaikan buku Kathavatthu yang berisi penyimpangan-penyimpangan dari aliran lain. Saat itu pula Abhidhamma dimasukkan. Setelah itu ajaran-ajaran ini di tulis dan disahkan oleh sidang. Kemudian Y.M. Mahinda (putra Raja Asoka) membawa Tipitaka ini ke Sri Lanka tanpa ada yang hilang sampai sekarang dan menyebarkan Buddha Dhamma di sana. Di sana ajaran ini dikenal sebagai Theravada.

Kitab Suci

Kitab Suci yang dipergunakan dalam agama Buddha Theravada adalah Kitab Suci Tipitaka yang dikenal sebagai Kanon Pali (Pali Canon). Kitab suci Agama Buddha yang paling tua, yang diketahui hingga sekarang, tertulis dalam Bahasa Pali, yang terbagi dalam tiga kelompok besar (yang disebut sebagai “pitaka” atau “keranjang”) yaitu: Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka, dan Abhidhamma Pitaka. Karena terdiri dari tiga kelompok tersebut, maka Kitab Suci Agama Buddha dinamakan Tipitaka (Pali).

Ajaran

Ajaran dasar dikenal sebagai Empat Kebenaran Arya, meliputi:
Dukkha Ariya Sacca (Kebenaran Arya tentang Dukkha),
Dukkha Samudaya Ariya Sacca (Kebenaran Ariya tentang Asal Mula Dukkha),
Dukkha Nirodha Ariya Sacca (Kebenaran Ariya tentang Terhentinya Dukkha),
Dukkha Nirodha Ariya Sacca (Kebenaran Ariya tentang Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha).
Secara umum sama dengan aliran agama Buddha lainnya, Theravada mengajarkan mengenai pembebasan akan dukkha (penderitaan) yang ditempuh dengan menjalankan sila (kemoralan), samadhi (konsentrasi) dan panna (kebijaksanaan).Agama Buddha Theravada hanya mengakui Buddha Gotama sebagai Buddha sejarah yang hidup pada masa sekarang. Meskipun demikian Theravada mengakui pernah ada dan akan muncul Buddha-Buddha lainnya.Dalam Theravada terdapat 2 jalan yang dapat ditempuh untuk mencapai Pencerahan Sempurna yaitu Jalan Arahat (Arahatship) dan Jalan Kebuddhaan (Buddhahood).

Waisak

Penganut Buddha merayakan Hari Waisak yang merupakan peringatan 3 peristiwa. Yaitu, hari kelahiran Pangeran Siddharta (nama sebelum menjadi Buddha), hari pencapaian Pencerahan Sempurna Pertapa Gautama, dan hari Sang Buddha mangkat mencapai Nibbana/Nirwana. Tempat ibadah agama Buddha disebut vihara Penganut Buddha merayakan Hari Waisak yang merupakan peringatan 3 peristiwa. Yaitu, hari kelahiran Pangeran Siddharta (nama sebelum menjadi Buddha), hari pencapaian Pencerahan Sempurna Pertapa Gautama, dan hari Sang Buddha mangkat mencapai Nibbana/Nirwana. Tempat ibadah agama Buddha disebut vihara

Tanggal sesungguhnya dari kelahiran Sang Buddha tidak diketahui dengan pasti. Menurut tradisi Buddhist, Sang Buddha lahir pada tahun 624 BCE ( Before Common Era), dan juga terdapat beberapa perkiraan lainnya terhadap tahun kelahiran Sang Buddha. Tahun 560 BCE adalah tahun yang diterima secara umum sebagai tahun kelahiran Sang Buddha. Kejadian pada garis waktu sebelum tahun 250 sebelum masehi ditunjukkan dengan dua tahun masehi yang berbeda. Pertama adalah tahun kelahiran Sang Buddha yang ditulis berdasarkan pada sumber "tradisi" yaitu 624 BCE, kemudian diikuti dengan tahun kelahiran Sang Buddha yang berdasarkan pada tahun "sejarah" 560 sebelum masehi. Setelah tahun 250 sebelum masehi, tahun "sejarah" dapat dihilangkan karena waktu dari peristiwa berikutnya diketahui dengan lebih tepat. Cara perhitungan tahun masehi yang berhubungan dengan kejadian dari penanggalan Buddhis tradisional dilakukan dengan melakukan pengurangan dari tahun Buddhis (BE - Buddhist Era) sebanyak 544 tahun



BE__

BE Tahun Masehi (CE - Common Era)
-80
-624/-560 Bodhisatta atau calon Buddha, lahir di Lumbini (Nepal saat ini) sebagai Siddhata, pangeran dari suku Sakya.
-51
-595/-531 Boddhisatta meninggalkan kehidupan keduniawian
-45
-589/-525 Selama meditasi di bawah pohon Boddhi di hutan Gaya (Sekarang Bodhgaya, India), saat bulan purnama Siddhi di Bulan Mei, Sang Boddhisata mencapai Kebuddhaan. Selama bulan purnama di bulan Juli, Sang Buddha membabarkan ajarannya yang pertama di daerah dekat Varanasi, menunjukkan kepada dunia Empat Kasunyataan Mulia dan memulai pembabaran Dhamma dan Vinaya selama 45 tahun.

1
-544/-480 Sang Buddha Parinibbana di Kusinara (Sekarang Kusinagar, India) pada usia 80 tahun Selama masa musim hujan, setelah Sang Buddha parinibbana, diadakan Persamuan Agung pertama di Rajagaha, India yang dihadiri oleh 500 orang bikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian arahat, yang dipimpin oleh Ven Bikkhu Mahakassapa Thera. Pada Persamuan Agung ini, diulang kembali peraturan Vinaya oleh Ven Bikkhu Upali Thera yang kemudian diterima sebagai Vinaya Pitaka, dan pengulangan Dhamma oleh Ven Bikkhu Ananda Thera yang kemudian menjadi Sutta Pitaka. Pada Persamuan Agung ini, diulang kembali peraturan Vinaya oleh Ven Bikkhu Upali Thera yang kemudian diterima sebagai Vinaya Pitaka, dan pengulangan Dhamma oleh Ven Bikkhu Ananda Thera yang kemudian menjadi Sutta Pitaka.
100
-444/-380 100 tahun setelah sang Buddha parinibbana, diselenggarakan Persamuhan Agung kedua di Vesali. Pada Persamuhan Agung ini dibahas mengenai perbedaan yang terjadi saat itu mengenai aturan Vinaya. Keretakan sangha yang pertama timbul antara sekte Mahasanghika dan Sthaviravadins yang tradisional. Permasalahannya adalah Mahasanghika tidak mau menerima sutta dan vinaya sebagai sumber terakhir dari ajaran sang Buddha. Mahasanghika kemudian berkembang menjadi Mahayana yang mendominasi agama Buddha di utara Asia (Cina, Tibet, Jepang dan Korea).
294
-250 Persamuhan Agung ketiga yang didukung oleh Raja Asoka di Pataliputra (India). Perselisihan perbedaan doktrin yang kemudian menimbulkan keretakan, melahirkan sekte Sarvastivadin dan Vibhajjavadin. Abhidhamma Pitaka diulang kembali pada persamuhan ini, dengan tambahan Khuddaka Nikaya. Kitab suci Tipitaka Pali telah lengkap secara keseluruhan.
297
-247 Raja Asoka mengirim putranya, Ven Bikkhu Mahinda Thera ke Sri Lanka dengan misi menyebarkan agama Buddha di Sri Lanka. Kemudian Raja Sri Lanka Devanampiya Tissa memeluk agama Buddha.
304
-240 Ven Bikkhu Mahinda Thera mendirikan Mahavihara di Anuradhapura, Sri Lanka. Komunitas sekte Vibhajjavadin yang berdiam di Sri Lanka kemudian berkembang menjadi Theravadin . Kemudian Saudara perempuan Bikkhu Mahinda, Bikkhuni Sanghamitta, tiba di Sri Lanka dengan membawa potongan pohon Boddhi dan mendirikan Sangha Bikkhuni di Sri Lanka.
444
-100 Peristiwa kelaparan dan perpecahan yang terjadi di Srilanka menyebabkan kitab suci Tipitaka ditulis untuk menjaga kelangsungan agama Buddha. Raja Vattagamani mengadakan Persamuhan Agung keempat dengan 500 bikkhu dan ahli tulis dari Mahavihara untuk menulis Kitab Tipitaka Pali untuk pertama kalinya pada daun palem.
544
1 Dimulainya tahun Masehi (Common Era). Tahun 1 AD atau tahun 1 masehi.
644
100 Agama Buddha Theravada muncul pertama kalinya di Burma dan bagian tengah Thailand.
744
200 Universitas Buddhis Nalanda berkembang di India , merupakan pusat pelajaran agama Buddha kurang lebih selama 1000 tahun.
969
425 Ven Bikkhu Buddhaghosa Thera (Sri Lanka) membuat komentar dari kitab Tipitaka Pali (Atthakatha).
1594
1050 Komunitas Bikkhu dan Bikkhuni di Anuradhapura hancur karena invasi dari India bagian selatan.
1604
1060 Berkembangnya Theravada di Pagan, Burma.
1614
1070 Bikkhu-bikkhu dari Pagan tiba di Polonnaruwa, Sri Lanka untuk mengembalikan kembali garis pentahbisan bikkhu Theravada di Sri lanka.
1744
1200 Polonnaruwa hancur oleh invasi asing.
1780
1236 Bikkhu-bikkhu dari Kancipuram, India tiba di Sri Lanka untuk membangkitkan kembali sekte Theravada.
1831
1287 Pagan dihancurkan oleh invasi Mongol. Jaman kemunduran dimulai.
1900
1300s Tradisi hutan dari Sri Lanka berkembang di Burma dan Thailand. Theravada juga menyebar di Laos.
2000
1400s Tradisi hutan lainnya dari Sri Lanka juga berkembang di Ayudhaya, ibu kota Thailand saat itu. Tradisi yang baru ini juga berkembang di Burma.
2300
1700s Burma menyerang Ayudhaya. Raja Thailand Rama I membantu pemulihan Theravada dengan membawa duplikat kitab Tipitaka Pali dari Sri Lanka.
2400
1800s Keadaan Sangha Sri Lanka memburuk dibawah tekanan pemerintahan tiga negara kolonial (Portugis, Belanda dan Inggris). Raja Rama IV dan Rama V dari Thailand mengadakan perubahan pada Sangha Thailand, pada kepemimpinan formasi sekte Dhammayut dan Mahanikaya.
2406
1862 Terjemahan pertama Dhammapada ke dalam bahasa barat (Jerman).
2412
1868 Persamuhan Agung kelima diselenggarakan di Burma. Kitab Tipitaka Pali ditulis pada 729 batu pualam.
2423
1879 Sir Edwin Arnold mempublikasikan syair "Light of Asia", yang kemudian menjadi buku yang paling laris terjual di Inggris dan Amerika, menyebabkan tertariknya orang-orang barat akan agama Buddha.
2424
1880 Helena Blavatsky dan Henry Steel Olcott, pendiri dari Theosophical Society, tiba di Sri Lanka dari USA, kemudian memeluk agama Buddha dan memulai kampanye pengembangan agama Buddha dengan mendorong pertumbuhan dan perkembangan sekolah-sekolah Buddhist di Sri Lanka.
2425
1881 Pali Text Society didirikan di Inggris oleh T.W.Rhys Davids. Selama lebih dari 100 tahun , banyak bagian dari Tipitaka dipublikasikan dalam tulisan romawi dengan terjemahan ke bahasa Inggris.
2434
1890s Vihara Theravada pertama didirikan di Australia oleh para pekerja mutiara di pulau Thursday yang berasal dari Sri Lanka.
2443
1899 Bikkhu Theravada barat pertama (Gordon Douglas) ditahbiskan di Burma

BODHIDHARMA

Agama  Buddha Chan (Chan Zhong) sebuah tradisi utama lainnya dari agama Buddha Mahayana, muncul sebagai akibat kunjungan bersejarah ke Tiongkok yang dilakukan oleh seorang suciwan agung dari India, Bodhidharma. Bodhidharma tiba di Kanton (Guang Dong) pada tahun 520 Masehi. Chan adalah terjemahan dari istilah Sanskerta DHYANA, yang berarti meditasi. Dengan demikian, agama Buddha Chan mensyaratkan para umatnya untuk mempraktikkan praktik-praktik meditasi yang ketat dan dalam, yang memotong habis intelektualisme. Ini terkadang membuat orang menjadi percaya bahwa praktik ini sangat mirip dengan praktik Tanah Suci. Praktik Tanah Suci juga menyingkirkan pengetahuan intelektual, serta mengajarkan para umatnya untuk berkeyakinan penuh terhadap Buddha Amitabha untuk memperoleh keselamatan, sekalipun bagi agama Buddha Chan keselamatan bukanlah “JALAN MUDAH”. Bagi agama Buddha Chan, keselamatan membutuhkan kekuatan dan upaya diri untuk mencapai keselamatan, serta tidak bergantung pada Buddha mana pun untuk membantu pencapaian Pencerahan. Namun, kedua tradisi ini sama-sama populer bagi orang Tionghoa, dan kemudian juga bagi orang Jepang di abad ke-12. Di Jepang, agama Buddha Chan ini dikenal sebagai agama Buddha Zen. Dua aliran utama yang muncul dari tradisi ini adalah RINZAI (LIN CI) dan SOTO (CAO DONG), yang hanya berbeda dalam cara pendekatannya menuju Pencerahan.

Bodhidharma (470-543 Masehi) adalah sesepuh ke-28 agama Buddha, sekaligus sebagai sesepuh pertama dari agama Buddha Chan, tradisi yang didirikannya di Tiongkok. Ajarannya diwariskan turun-temurun dengan apa yang dikenal sebagai “TRANSMISI BATIN/PEWARISAN BATIN” terhadap sejumlah sesepuh. Salah satu sesepuh yang paling terkenal adalah HUI NENG (637-713 Masehi), yang merupakan sesepuh ke enam.

Sesampainya di Tiongkok, Bodhidharma dipanggil menghadap ke istana oleh Kaisar WU DI dari Dinasti Liang, yang juga merupakan sesosok umat Buddha yang penuh semangat serta yang membanggakan dirinya karena banyak mendukung agama Buddha. Karena bangga atas pengetahuannya akan agama Buddha serta sumbangsih yang telah diberikannya kepada Sangha, ia bertanya kepada sang suciwan, “seberapa banyak jasa kebajikan yang telah diperolehnya?”.“Tidak ada jasa kebajikan apa pun” adalah jawaban yang mengejutkan dari Bodhidharma. Sang Kaisar sering kali mendengarkan ajaran dari para guru terkenal yang berkata, “jika berbuat baik, Engkau akan menerima kebaikan. Jika berbuat buruk, Engkau akan menerima keburukan. Hukum Karma tak berubah, akibat timbul dari penyebab laksana bayang-bayang mengikuti bendanya’. Namun sekarang sang suciwan menyatakan bahwa Kaisar belum memperoleh jasa kebajikan apa pun. Kaisar merasa sangat kebingungan.

Mengapa Bodhidharma menjawab seperti itu? Mungkin karena beliau tengah mencoba berkata, dengan sedikit kata-kata, bahwa jika seseorang melakukan perbuatan baik dengan niat untuk memperoleh jasa kebajikan bagi dirinya sendiri, itu bukan lagi praktik Buddhis. Itu berarti bahwa orang itu tidak benar-benar tengah mempraktikkan Dharma, namun lebih untuk memuaskan egonya sendiri ataupun meningkatkan kesejahteraannya sendiri, dan malah mungkin supaya dikenal dan dihargai. Dalam hal ini, bagaimana mungkin ada jasa kebajikan apa pun dalam perbuatan seperti ini? Dan sebagai guru Zen, ia tidak berkata banyak. Karena itu, ia hanya menjawab, “Tidak ada jasa kebajikan apa pun”. Merasa terkejut, Kaisar lalu menanyakan pertanyaan berikutnya, “Lalu, apa inti agama Buddha itu?” Bodhidharma segera menjawab. “Kekosongan di mana-mana, tiada inti apa pun”. Jawaban ini membuat Kaisar tertegun karena ia tak mampu memahami makna yang mendalam dari istilah “Tiada inti apa pun” dalam ajaran Buddha. Para guru lainnya telah bersusah-payah menjelaskan bahwa inti ajaran agama Buddha terkandung dalam doktrin-doktrin seperti Hukum Sebab Akibat (Hukum Karma), Empat Kebenaran Mulia, Cita-cita Bodhisatwa, dan sebagainya. Namun orang yang dianggapnya sebagai sosok sesepuh agung agama Buddha ini hanya menyatakan bahwa “tidak ada inti apa pun”

Lalu Kaisar menanyakan pertanyaannya yang terakhir, “Karena Engkau menyatakan bahwa dalam agama Buddha semua hal tidak memiliki inti, lalu siapakah yang tengah berbicara di hadapankun saat ini?” Bodhidharma menjawab, “Saya tidak tahu”. Sang Kaisar sangat terkejut, karena ia tidak mampu memahami maksud Bodhidharma. Dengan penuh kebingungan, Kaisar lalu menyuruh sang suciwan pergi dari istana. Demikianlah, untuk pertama kalinya Tiongkok mencicipi ajaran Chan. Setelah itu, Bodhidharma menyendiri lagi, merenung, “Karena sesosok ahli yang terpelajar dan hebat seperti Kaisar pun tidak mampu memahami apa yang aku tengah coba sampaikan, mungkin kondisinya belum matang bagiku untuk mengajar……” Ia lalu menyendiri di sebuah gua di Biara Shao Lin (Shao Lin Si) yang terkenal itu. Disana, ia duduk dalam perenungan yang mendalam seraya menghadap ke dinding gua selama sekitar sembilan tahun, menunggu waktu yang tepat, saat ajaran-ajarannya bisa dipahami dan diterima rakyat disana.

Bodhidharma datang ke Tiongkok untuk memberikan ajarannya yang khusus, yang bisa dikatakan terkandung dalam syair ini :
                               PEWARISAN AJARAN SECARA KHUSUS DI LUAR KITAB SUCI,
                              TAK BERGANTUNG PADA KATA ATAUPUN HURUF,
                              LANGSUNG MENEMBUS KE HATI,
                              MELIHAT KE DALAM SIFAT DIRI SENDIRI.


Bodhidharma selanjutnya tinggal di Tiongkok selama sekitar 50 tahun, mengajar di saat yang tepat, dan menggunakan LANKAVATARA SUTRA (LENG JIA JING) dalam ajarannya. Ia digantikan oleh para sesepuh berikut ini :
                      – Sesepuh ke-2 : Hui Ke (486-593 Masehi)
                      – Sesepuh ke-3 : Seng Can (wafat tahun 606 Masehi)
                      – Sesepuh ke-4 : Dao Xin (580-651 Masehi)
                      – Sesepuh ke-5 : Hong Reng (602-675 Masehi)
                      – Sesepuh ke-6 : Hui Neng (638-713 Masehi)

Adalah Hui Neng, seorang pandai kayu yang buta huruf, yang akhirnya membuat agama Buddha Chan berkembang subur di Tiongkok, lebih dari sebelumnya.Mungkin menarik untuk dicatat disini bahwa setelah kepergian Bodhidharma, Kaisar Wu Di membicarakan kejadian tersebut dengan guru spiritualnya, BAO ZHI. Sang guru bertanya kepada sang Kaisar, “Apakah Yang Mulia mengetahui siapakah orang ini sesungguhnya? Beliau ini adalah Avalokitesvara Mahasatva yang tengah mewariskan Jejak Hati Buddha…..”

Betapa menyesalnya Kaisar karena telah menyuruhnya pergi dari istana. Bertahun-tahun kemudian, tatkala mengetahui sang suciwan telah wafat, Kaisar sangat berduka. Ia lalu membuatkan sebuah pahatan untuk mengenang sang sesepuh agung tersebut. Pahatan itu berbunyi :

              “ADUHAI! AKU MELIHATNYA TAPI TAK MELIHATNYA,
               AKU BERJUMPA DENGANNYA TAPI TAK BERJUMPA DENGANNYA,
               AKU BERTEMU DENGANNYA TAPI TAK BERTEMU DENGANNYA,
               SEKARANG, DAN SEBELUM INI, SUNGGUH AKU MENYESALINYA!.”

Bodhidharma memiliki banyak umat yang penuh bakti, dan hari wafatnya diperingati pada tanggal 5 bulan 10 penanggalan bulan. Beliau sering kali dilukiskan sebagai sesosok biksu kelana, atau dilukiskan berdiri menjejak sebatang ilalang yang membawanya menyeberang sungai, suatu mukjizat yang membuat orang -orang yang menyakini kekuatannya ini menganggap beliau sebagai seorang ARHANT atau LUO HAN, suatu istilah dalam bahasa Mandarin yang artinya “DEWA ABADI”. Menurut tradisi Tionghoa, Bodhidharma adalah salah satu dari 18 Luo Han yang sangat dekat dengan umat manusia. Lukisan kelompok Luo Han ini umumnya terdapat di banyak wihara, dan para Luo Han ini digambarkan memiliki aneka jenis kekuatan adialami, yang dilambangkan oleh hewan-hewan liar yang merunduk jinak di samping mereka, dan atau oleh benda-benda khusus yang dihubungkan dengan mereka ini. Sekalipun para Luo Han ini berada satu tataran di bawah tataran Bodhisatwa, mereka ini adalah makhluk-makhluk yang telah Tercerahkan, yang patut kita hormati. Oleh umat Buddha, Bodhidharma atau DA MO dipuja sebagai pendiri TRADISI PERENUNGAN AGUNG atau CHAN/ZEN. Dan oleh orang-orang lainnya, ia dipuja atas kekuatan perlindungannya, atau sebagai suciwan agung dari Biara Shao Lin.

Sumber : Buddha dan Bodhisatwa dalam agama Buddha Tionghoa
Penerbit : Yayasan Serlingpa Dharmakirti

Selasa, 28 Januari 2014

PANDUAN SKRIPSI



BAB I
PENDAHULUAN

Penulisan karya ilmiah merupakan salah satu ciri kegiatan perguruan tinggi. Karya ilmiah adalah karya tulis atau bentuk lainnya yang telah diakui dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi atau seni yang ditulis atau dikerjakan sesuai dengan tata Cara ilmiah, dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan. Melalui pembuatan karya ilmiah, anggota masyarakat akademik pada suatu perguruan tinggi dapat mengkomunikasikan informasi baru, gagasan, kajian, dan/atau hasil penelitian. Pela­poran karya ilmiah diperlukan suatu pedoman tentang pembuatan karya ilmiah, khususnya karya ilmiah tertulis. Pedoman penulisan karya ilmiah ini memberikan petunjuk tentang cara menulis karya ilmiah yang berupa skripsi, artikel, makalah, dan laporan pene­litian.

A. Skripsi
Skripsi merupakan karya ilmiah dalam suatu bidang study yang ditulis oleh mahasiswa program Sarjana   (S1), pada akhir studinya. Karya ilmiah ini merupakan salah satu persyaratan untuk menyelesaikan             program study yang dapat ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan, hasil kajian pustaka, atau hasil kerja pengembangan (proyek).
Penelitian  penelitian lapangan adalah jenis penelitian yang berorientasi pada pengumpulan data empiris di lapangan. Ditinjau dari pende­katan yang digunakan, penelitian lapangan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu pe­nelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif adalah suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktif-induktif. Pendekatan ini berangkat dari su­atu kerangka teori, gagasan para ahli, ataupun pemahaman peneliti berdasarkan pengalaman­nya, kemudian dikembangkan menjadi permasalahan-permasalahan beserta pemecahan­-pemecahannya yang diajukan untuk memperoleh pembenaran (verifikasi) dalam bentuk du­kungan data empiris di lapangan. Sedangkan penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimak­sudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistik-kontekstual melalui pengumpulan data dan latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrument kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analysis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspective subject) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan ciri-ciri naturalistik yang penuh keontentikan.
Penelitian Kajian pustaka adalah telaah yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang bertumpu pada penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan. Telah pustaka semacam ini biasanya dilakukan dengan cara mengumpulkan data atau informasi dari berbagai sumber pustaka yang kemudian disajikan dengan cara baru atau untuk keperluan baru. Bahan-bahan pustaka itu diperlakukan sebagai sumber ide untuk menggali pemikiran atau gagasan baru, sebagai bahan dasar untuk melakukan deduksi dari pengetahuan yang telah ada, sehingga kerangka teori baru dapat dikembangkan, atau sebagai dasar pemecahan masalah.
Penelitian kerja pengembangan adalah kegiatan yang menghasilkan rancangan atau produk yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah-masalah aktual. Kegiatan pengembangan ditekankan pada pemanfaatan teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip, atau temuan-temuan penelitian untuk memecahkan masalah. Skripsi yang ditulis berdasarkan hasil kerja pengèmbangan menuntut format dan sistematika yang berbeda dengan skripsi yang ditulis berdasarkan hasil penelitian, dimana karakteristik kegiatan pengembangan dan kegiatan penelitian tersebut berbeda. Kegiatan penelitian pada dasarnya berupaya mencari jawaban terhadap suatu permasalahan, sedangkan kegiatan pengembangan berupaya menerapkan temuan atau teori untuk memecah­kan suatu permasalahan.

B. Artikel, Makalah, dan Laporan Penelitian
        Artikel ilmiah adalah karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal atau buku kumpulan artikel yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan. Artikel ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa, dosen, pustakawan, peneliti, dan penulis lainnya dapat diangkat dan hasil penelitian lapangan, hasil pemikiran dan kajian pustaka, atau hasil pengembangan projek. Dan segi sistematika penulisan dan isinya, artikel dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu artikel hasil penelitian dan artikel nonpenelitian. Setiap mahasiswa penulis skripsi,  sangat dian­jurkan menuliskan kembali karyanya dalam bentuk artikél untuk diterbitkan dalam jurnal. Tata cara penulisan artikel ilmiah diuraikan pada Bagian III buku pedoman ini. Sedangkan contoh format artikel untuk jurnal dapat dilihat pada Lampiran 14.
Makalah adalah karya tulis yang memuat pemikiran tentang suatu masalah atau topik tertentu yang ditulis secara sistematis dan runtut dengan disertai analisis yang logis dan objektif. Makalah ditulis untuk memenuhi tugas terstruktur yang diberikan oleh dosen atau ditu­lis atas inisiatif sendiri untuk disajikan dalam forum ilmiah. Contoh sampul makalah dapat dilihat pada Lampiran.
Laporan penelitian adalah karya tulis yang berisi paparan tentang proses dan hasil-hasil yang diperoleh dari suatu kegiatan penelitian. Contoh sampul laporan penelitian dapat dilihat pada Lampiran.


BAB II
SKRIPSI

Skripsi dalam pedoman ini dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu yang disusun berdasarkan hasil penelitian kuantitatif, hasil penelitian kualitatif, hasil kajian pustaka, dan hasil kerja pengembangan.

A. Skripsi Hasil Penelitian Kuantitatif          

Hal-hal yang disajikan dalam laporan penelitian kuantitatif pada umumnya bersifat kompleks, mulai dari isi kajian terhadap berbagai teori yang bersifat substantif dan mendasar sampai kepada hal-hal yang bersifat operasional teknis. Karena kompleksnya materi yang disajikan, maka laporan penelitian kuantitatif perlu diatur sedemikian rupa sehingga pembaca laporan dapat dengan mudah menemukan setiap bagian yang dicarinya dan dapat mema­haminya secara tepat.
Laporan hasil penelitian yang ditulis dalam bentuk skripsi, terutama ditujukan untuk kepentingan masyarakat akademik. Laporan untuk masyarakat akademik cenderung bersifat teknis, berisi apa yang diteliti secara lengkap, mengapa hal itu diteliti, cara melakukan penelitian, hasil-hasil yang diperoleh, dan kesimpulan penelitian. lsinya disajikan secara lugas dan objektif. Format laporan cenderung baku, mengikuti ketentuan dari perguruan tinggi atau suatu kelompok masyarakat akademik.
Berdasarkan pemikiran di atas, isi dan sistematika skripsi sebagai laporan hasil penelitian kuantitatif dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir. Masing-masing bagian dapat dirinci sebagai berikut:

1. Bagian Awal
Hal-hal yang termasuk dalam bagian awal adalah:
a.   Halaman Sampul
b.   Lembar Logo STIAB Smaratungga
c.   Halaman Judul
d.   Lembar Persetujuan
1) Lembar persetüjuan pembimbing
2) Lernbar pensetujuan dan pengesahan
e. Abstrak (untuk disertasi perlu ditambahkan abstrak dalam bahasa lnggris)
1)   Kata Pengantar    
2)   Daftar Isi    
3)   Daftan Tabel
4)   Daftar Gambar
5)   Daftar Lampiran
6)   Daftar Lainnya
2. Bagian Inti
Bagian ini berisi inti isi skripsi, yang meliputi:
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Hipotesis Penelitian (jika ada)
E. Kegunaan Penelitian
F. Asumsi Penelitian (jika diperlukan)
G. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
H. Definisi Istilah atau Definisi Operasional

BAB II LANDASAN TEORI
A. ………………..
B. ………………..
C. ………………..
BAB Ill METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
B. Populasi dan Sampel
C. lnstrumen Penelitian
D. Pengumpulan Data
E. Analisis Data
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Data
2. Pengujian Hipotesis
B. Pembahasan
1. …………….          
2. …………….
3. …………….
BABV PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran

3. Bagian Akhir
Pada bagian akhir ini termuat:
a.   Daftar Rujukan
b.   Lampiran-lampiran
c.   Riwayat Hidup

B. Skripsi Hasil Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif berusaha mengungkapkan gejala secara menyeluruh dan sesuai dengan konteks (holistik-kontekstual) melalui pengumpulan data dari latar alami dengan meman­faatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian semacam ini bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna dari sudut pandang subjek lebih ditonjolkan dalam penelitian ini. Ciri-ciri penelitian kualitatif tersebut me­warnai sifat dan bentuk laporannya. Oleh karena itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan ciri-ciri alamiahnya.
Laporan penelitian kualitatif harus memiliki fokus yang jelas. Fokus dapat berupa masalah, objek evaluasi, atau pilihan kebijakan. Laporan penelitian kualitatif harus memiliki struktur dan bentuk yang koheren yang dapat memenuhi maksud yang tercermin dalam fokus
Gaya penulisan laporan penelitian kualitatif tidak menggunakan model tunggal. Gaya penulisan dapat bersifat formal, informal, atau gabungan keduanya. Laporan yang ditulis dengan gaya formal memuat hal-hal pokok pada bagian awal, kemudian menunjukkan aspek­-aspek yang dianggap penting yang dipaparkan beserta contoh-contoh dan data. Laporan bergaya informal, misalnya berisi paparan sebuah cerita yang diakhiri dengan kesimpulan.
Sistematika skripsi, hasil penelitian kualitatif pada dasarnya terdiri dari tiga bagian utama: bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir.

1. Bagian Awal          
Hal-hal yang termasuk dalam bagian awal adalah:
a.   Halaman Sampul
b.   Lembar Logo STIAB Smaratungga
c.   Halaman Judul
d.   Lembar Persetujuan
1) Lembar persetüjuan pembimbing
2) Lernbar pensetujuan dan pengesahan
e. Abstrak (untuk disertasi perlu ditambahkan abstrak dalam bahasa lnggris)
1)   Kata Pengantar    
2)   Daftar Isi    
3)   Daftan Tabel
4)   Daftar Gambar
5)   Daftar Lampiran
6)   Daftar Lainnya

2. Bagian Inti

Penulisan bagian ini dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu dan tiga alter­natif format berikut. Alternatif 1 (format tetap 1), alternatif 2 (format tetap 2),dan alternatif 3 (format bebas).

Alternatif 1 (Format Tetap 1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian atau Latar Belakang
B. Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Landasan Teoni
E. Kegunaan Penelitian

BAB  II   METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
B. Kehadiran Peneliti
C. Lokasi Penelitian
D. Sumber Data
E. Prosedur Pengumpulan Data
F. Analisis Data
G. Pengecekan Keabsahan Temuan
H. Tahap-tahap PeneUtian

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

BAB IV PEMBAHASAN

BAB V PENUTUP

Alternatif 2 (Format Tetap 2)

BAB I PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian atau Latar Belakang
B. Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah
            C. Tujuan Penelitian
            D. Kegunaan Penelitian

BAB II              KAJIANPUSTAKA
BAB III METODE PENELITIAN
BAB IV PAPARAN DATA DAN TEMUAN PEN ELITIAN
BAB V PEMBAHASAN
BAB VI PENUTUP

Alternatif 3 (Format Bebas)

BAB I PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian atau Latar Belakang
B. Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah
            C. Tujuan Penelitian
            D. Kegunaan Penelitian
            E. Metode Penelitian
F. Landasan Teori

BAB II                      
( Bab ini dan seterusnya memuat hasil-hasil peneiltian yang diperoleh. Judul dan   isi masing-masing bab disesuaikan dengan topik dan hasil penelitian, termasuk pembahasannya.)
Bagian Inti dan skripsi,  hasil penelitian kualitatif diakhiri dengan bab Penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

Bagian Akhir
Pada bagian akhir ini termuat:
Daftar Rujukan
Pernyataan Keaslian Tulisan
Lampiran-lampiran
Riwayat Hidup

C. SKRIPSI HASIL KAJIAN PUSTAKA
Skripsi hasil kajian pustaka merupakan penampilan argumentasi atau penataran keilmuan yang memaparkan hasil kajian pustaka dan hasil olah pikir, peneliti mengenai suatu masalah/topik kajian. Skripsi jenis ini berisi satu topik yang memuat beberapa gagasan dan/atau proposisi yang berkaitan yang harus didukung oleh data yang diperoleh dari sumber pustaka.   .           . .
Sumber pustaka untuk bahan kajian dapat berupa jurnal penelitian, skripsi, laporan penelitian, buku teks, makalah, laporan seminar, diskusi ilmiah, àtau terbitan-­terbitan resmi pemerintah dan lembaga-lembaga lain. Bahan-bahan pustaka harus dibahas secara kritis dan mendalam dalam rangka mendukung gagasan dan / atau proposisi untuk menghasilkan kesimputan dan saran.
Sistematika skripsi, hasil kajian pustaka terbagi atas tiga bagian utama, yaitu bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir. Masing-masing bagian dapat dirinci sebagai berikut :

Bagian Awal
Hal-hal yang termasuk dalam bagian awal adalah:
Halaman Sampul
Lembar Logo
Halaman Judut
Lembar Persetujuan
a)Lembar persetujuan pembimbing
b)Lembar persetujuan dan pengesahan
Abstrak (untuk disertasi pertu ditambahkan abstnak dalam bahasa Inggris)
Kata Pengantar
Daftar tsi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Daftar Lampiran
Daftar Lainnya


Bagian Inti

BAB I             PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masatah
B.Rumusan Masalah
C.Tujuan Kajian
D.Kegunaan Kajian
E.Metode Kajian
F.Definisi Istilah

BAB II dan Bab-bab selanjutnya masing-masing berisi gagasan pokok diteruskan dengan. kajian mendalam dan diakhiri dengan rangkuman pembahasan dan implikasi. Judul bab disesuaikan dengan materi yang dibahas. Bab inti dan skripsi,  diàkhiri dengan Bab Penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

Bagian Akhir
Pada bagian akhir ini termuat:
Daftar Rujukan
Pernyataan Keaslian Tulisan
Lampiran-lampiran
Riwayat Hidup

D. SKRIPSI dan HASIL KERJA PENGEMBANGAN

Skripsi yang disusun berdasarkan hasil kerja pengembangan (projek) terdiri atas dua bagian, yaitu:
Bagian I :        Memuat kajian analitis pengembangan projek. Kajian analitis ini dituangkan dalam 5 bab seperti terlihat dalam format Bagian I.
Bagian II :       Memuat produk yang dihasilkan dan kegiatan pengembangan seperti telah dispesifikasi dalam Bagian I.
Bagian I dan Bagian II disusun dalam naskah terpisah, sedangkan penjilidannya dapat disatukan.

Format Bagian I

Bagian Awal
Hal-hal yang termasuk dalam bagian awal adalah:
Halaman Sampul
Lembar Logo
Halaman Judul
Lembar Persetujuan
a)Lembar persetujuan pembimbing
b)Lembar persetujuan dan pengesahan
Abstrak (untuk disertasi perlu ditambahkan abstrak dalam bahasa lnggnis)
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftan Gambar
Daftar Lampiran
Daftar Lainnya

Bagian Inti

BAB    I           PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
B.Rumusan Masalah
C.Tujuan Pengembangan
D.Spesifikasi Produk yang Diharapkan
E.Pentingnya Pengembangan
F.Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan
            G. Definisi lstilah
                        H Sistematika Penulisan
BAB    II         KAJIANPUSTAKA
                        A …..
                        B …..                   
                        C …..                   
BAB III          METODE PENGEMBANGAN
                        A. Model Pengembangan
                        B. Prosedur Pengembangan
                        C. Uji Coba Produk
-Desain Uji coba                                
-Subjek Coba                         
                                    -Jenis Data
                                    - lnstnumen Pengumpulan Data
                                    -Teknik Analisis Data            
               
BAB IV          HASIL PENGEMBANGAN                       
                        A. Penyajian Data Uji Coba
                        B. Analisis Data
                        C. Revisi Produk

BAB V            KAJIANDANSARAN
A.Kajian Produk yang Telah Dinevisi
B.Saran Pemanfaatan, Diseminasi,dan Pengembangan Produk Lebih Lanjut

Bagian Akhir
Daftar Rujukan
Pernyataan Keaslian Tulisan
Lampiran-Lampiran
Riwayat Hidup

E. ARTIKEL NONPENELITIAN

Istilah artikel nonpenelitian mengacu kepada semua jenis artikel ilmiah yang bukan merupakan laporan hasil penelitian. Artikel yang termasuk kategori artikel nonpenelitian antara lain berupa artikel yang menelaah suatu teori, konsep, atau prinsip; mengembangkan suatu model, mendeskripsikan fakta atau fenomena tertentu, menhlai suatu produk, dan masih banyakjenis yang lain. Karena beradaanya jenis artikel ini, maka cara penyajiannya di dalam jurnal sangat bervariasi.
Ketentuan untuk penulisan artikel nonpenelitian pada dasarnya berlaku juga untuk pe­nulisan makalah pendek (yaitu makalah yang panjangnya tidak lebih dan 20 halaman), kecuali dalam makalah pendek abstrak dan kata kunci tidak harus ada.

Isi dan Sistematika
Penulisan artikel menggunakan sistematika tanpa angka ataupun abjad. Penjelasan lebih rinci disajikan pada Bagian IV pedoman ini.
Sebuah artikel nonpenelitian berisi hal-hal yang sangat esensial; karena itu biasanya jumlah halaman yang disediakan tidak banyak (antara 10-20 halaman). Unsur pokok yang harus ada dalam artikel nonpenelitian dan sistematikanya adalah
(1) judul artikel,
(2) nama penulis,
(3) abstrak dan kata kunci,
(4) pendahuluan,
(5) bagian inti,
(6) penutup, dan
(7) daftar rujukan.

Judul
Judul artikel berfungsi sebagai label yang mencerminkan secara tepat inti isi yang ter­kandung dalam artikel untuk itu, pemilihan kata yang dipakai dalam judul artikel hendaknya dilakukan secara cermat di samping aspek ketepatannya, pemilihan kata-kata untuk judul perlu juga mempertimbangkan pengaruhnya terhadap daya tank judul bagi pembaca judul artikel sebaiknya terdiri atas 5-15 kata

Nama Penulis
Nama penulis artikel ditulis tanpa disertai gelar akademik atau gelar lain apapun. Nama lembaga tempat bekerja penulis ditulis sebagai catatan kaki di halaman pertama. Jika Iebih dan dua penulis, hanya nama penulis utama saja yang dicantumkan di bawal judul nama penulis lain ditulis dalam catatan kaki.

Abstrak dan Kata Kunci
Untuk artikel nonpenelitian, abstrak berisi ringkasan dan isi artikel yang dituangkan se­cara padat, bukan komentar atau pengantar dan penyunting atau redaksi. Abstrak hendaknya ditulis dalam bahasa lnggris. Terjemahan judul artikel berbahasa Indonesia dimuat pada baris pertama abstrak berbahasa lnggris. Panjang abstrak 50-75 kata dan ditulis dalam satu para­graf. Abstrak diketik dengan spasi tunggal dengan menggunakan format yang lebih sempit dan teks utama (margin kanan dan kin menjorok masuk 1,2 cm).
Kata kunci adalah kata pokok yang menggambarkan daerah masalah yang dibahas dalam artikel atau istilah-istilah yang merupakan dasar pemikinan gagasan dalam karangan asli, berupa kata tunggal atau gabungan kata. Jumlah kata kunci sekitar 3-5 buah. Kata kunci diperlukan untuk komputerisasi sistem informasi ilmiah. Dengan kata kunci dapat ditemukan judul-judul tulisan beserta abstraknya dengan mudah.

Pendahuluan
Berbeda dengan isi pendahuluan di dalam artikel hasil penelitian, bagian pendahuluan dalam artikel nonpenelitian berisi uraian yang mengantarkan pembaca kepada topik utama yang akan dibahas. Oleh karena itu, isi bagian pendahuluan menguraikan hal-hal yang mampu menarik pembaca sehingga mereka “tergiring” untuk mendalami bagian selanjutnya. Selain itu, bagian pendahuhuan hendaknya diakhini dengan rumusan singkat (1-2 kalimat) tentang hal-hal pokok yang akan dibahas. Bagian pendahuluan tidak diberi judul.

Bagian Inti
Judul, judul bagian, dan isi bagian inti sebuah artikeh nonpenelitian sangat bervariasi, tergantung pada topik yang dibahas. Hal yang perlu mendapat penhatian pada bagian Intl adalah pengonganisasian isinya. Uraian yang lebih rinci mengenai cara pengorganisasian isi dibahas pada paparan berikutnya.

Penutup
Istilah penutup digunakan sebagai judul bagian akhir dan sebuah artikel nonpenelitian, jika isinya hanya berupa catatan akhir atau yang sejenisnya. Jika uraian pada bagian akhir berisi kesimpulan hasil pembahasan pada bagian sebelumnya, perlu dimasukkan pada bagian kesimpulan. Kebanyakan artikel nonpenelitian membutuhkan kesimpulan.
Ada beberapa artikel nonpenelitian yang dilengkapi dengan saran. Sebaiknya, saran ditempatkan dalam bagian tersendini.

Daftar Rujukan
Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam batang tubuh artikel. Dàftar rujukan harus Lengkap, mencakup semua bahan pustaka yang telah disebutkan dalam batang tubuh artikel. Tata cara penulisan daftar rujukan dibahas pada Bagian IV, Teknik Penulisan.

F. MAKALAH

Ciri Pokok

Salah satu tujuan pokok penulisan makalah adalah untuk meyakinkan pembaca bahwa topik yang dituhis dengan dilengkapi .penalanan logis dan pengorganisasian yang sistematis memang perlu diketahul dan dipenhatikan. Makalah yang merupakan salah satu jenis karangan ilmiah memiliki ciri atau karakten seperti berikut. Secara umum, ciri-ciri makalah ter­letak pada sifat keilmiahannya. Artinya, sebagai karangan ilmiah, makalah memiliki sifat objektif, tidak memihak, berdasarkan fakta, sistematis, dan logis. Berdasarkan kriteria ini, baik tidak­nya suatu makalah dapat diamati dan smgnmfmkansi masalah atau topik yang dibahas, kejelasan tujuan pembahasan, kelogisan pembahasan, dan kejelasan pengonganisasian pembahasannya.
Berdasarkan sifat dan jenis penalaran yang digunakan, makalah dapat dibedakan menjadi tiga macam makalah deduktif, makahah induktif, dan makalah campuran. Makalah deduktif merupakan makalah yang penulisannya didasankan pada kajianteoretis(pustaka) yang nelevan dengan masalah yang dibahas. Makalah induktif merupakan makalah yang disusun bendasarkan data empinis yang diperoleh dan lapangan yang relevan dengan masalah yang dibahas. Sedangkan makalah campunan merupakan makalah yang penulisan­nya didasarkan pada kajian teonetis digabungkan dengan data empiris yang relevan dengan masalah yang dibahas. Dalam pelaksanaannya, jenis makalah pertama (makalah deduktif) merupakan jenis makalah yang paling banyak digunakan. Dan segi jumlah halaman, dapat dibedakan makalah panjang dan makalah pendek. Makalah panjang adalah makalah yang jumlah halamannya lebih dan 20 halaman. Bagian ini menyajikan ketentuan tentàng penulisan makalah panjang, sedangkan ketentuan tentang penulisan makalah pendek pada dasannya sama dengan ketentuan penulisan artikel non­penelitian, kecuali abstrak dan kata-kunci yang tidak harus ada.

Isi dan Sistematika
Secara ganis besan makalah panjang tendini atas tiga bagian: bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir. Isi ketiga bagian tersebut dipaparkan sebagai berikut.

Bagian Awal
            Halaman Sampul
            Daftan Isi
Daftar Tabel dan Gamban (jika ada)

Bagian Inti
Pendahuluan
Latan Belakang Penulisan Makalah
Masalah atau Topik Bahasan
Tujuan Penulisan Makalah Teks Utama
Penutup

Bagian Akhir
Daftar Rujukan
Lampiran (jika ada)

G. LAPORAN PENELITIAN
Laporan penelitian di tulis dalam suatu format laporan, format di artikan sebagai bentuk susunan, atau organisasi suatu laporan, yaitu bagaimana bagian bagian laporan itu diurutkan dan disusun. Biasanya format laporan penelitian di tentukan oleh lembaga pemberi dana. Penelitian harus mengugunakan format penulisan laporan sesuai dengan permintaan lembaga  pemberian dana atau sesuai dengan jenis penelitian yang di setujui untuk di danai. Pedoman penulisan laporan ini berlaku untuk penyusunan laporan penelitian yang dananya dikelola langsung oleh Sekolah Tinggi Agama Buddha Smaratungga.
Laporan penelitian dapat di sajikan dengan format bebeas atau format tetap. Laporan yang di tulis dengan format bebas tidak di batasi jumlah babnya serta isi masing-masing babnya. Laporan penelitian dengan format tetap harus mengikuti aturan tertentu mengenai jumlah bab dan isi tiap-tiap bab.
Pedoman ini di kemukakan dua cara penulisan laporan, yaitu berdasarkan hasil penelitian kuantitatif dan hasil penelitian kualitatif.

Laporan Penelitian Kuantitatif
            Laporan penelitian kuantitatif disajikan secara lugas, objektif dan apa adanya. Isi pokoknya adalah apa yang diteliti, bagaimana penelitian di lakukan, hasil hasil, serta kesimpulan penelitian. Laporan penelitian kuantitatif terdiri atas tiga bagian utama yaitu bagian awal bagian inti, dan bagian akhir.

Bagian Awal
            Hal Hal yang termasuk dalam bagian awal adalah:
            Halaman Sampul
            Halaman Judul
            Abstrak
            Kata Pengantar
            Daftar Isi
            Daftar Tabel
            Daftar Gambar
            Daftar lampiran
            Daftar Lainnya
Bagian Inti
            Bagian Inti Meliputi:

BAB I             PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
B.  Rumusan Masalah
C.  Tujuan Penelitian
D.  Hipotensis Penelitian
E.   Keguanaan Penelitian
F.   Asumsi
G.  Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
H.  Definisi Istilah Atau Definisi Operasional

BAB II            KAJIAN PUSTAKA
A.  ………………
B.  ………………
C.  ………………

BAB III METODE  PENELITIAN
A.  Rancangan Penelitian
B.  Populasi dan Sample
C.  Instrumen Penelitian
D.  Pengumpulan Data
E.   Analisis Data

BAB IV HASIL PENELITIAN
A.  Deskripsi Data
B.  Pengujian Hipotesis

BAB  V PEMBAHASAN
A.  …………….
B.  .……………
C.  …………….
BAB VI  PENUTUP
A.  Kesimpulan
B.  Saran

Bagian Akhir
Pada Bagian Akhir Termuat:
Daftar Rujukan
Lampiran – Lampiran
Ada 3 model format yang dapat di gunakan dalam menulis laporan penelitian kualitatif, yaitu format tetap 1, format tetap 2 dan format bebas.

Alternatif 1 ( format tetap 1 )

BAB  I  Pendahuluan
A.  Konteks penelitian atau Latar Belakang
B.  Fokus penelitian atau rumusan Masalah
C.  Tujuan Penelitian
D.  Landasan Teori
E.   Keguanaan Penelitian
BAB II  Metode Penelitian
A.  Pendekatan Dan Jenis Penelitian
B.  Kehadiaran Peneliti
C.  Lokasi penelitian
D.  Sumber Data
E.   Prosedur Pengumpulan Data
F.   Analisis Data
G.  Pengecekan Keabsahan Temuan
H.  Tahap – tahap Penelitian
BAB III Paparan Data dan temuan Penelitian
BAB IVPembahasan
BAB V Penutup

Alternatif 2 (format tetap 2)
BAB I Pendahuluan
A.  Konteks penelitian atau Latar Belakang
B.  Fokus penelitian atau rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Kegunaan Penelitian
BAB II Kajian Pustaka
BAB IIIMetode Penelitan
BAB IV          Paparan Data Dan Temuan Penelitian
BAB V            Pembahasan
BAB VI          Penutup

Alternatif 3 (format bebas)
BAB I PENDAHULUAN
A.  Konteks penelitian atau Latar Belakang
B.  Fokus penelitian atau rumusan Masalah
C.  Tujuan Penelitian
D.  Landasan Teori
E.   Keguanaan Penelitian

BAB II
(Bab ini dan Bab-bab selanjutnya memuat hasil-hasil penelitian yang di perolehnya. Judul dan isi masing-masing bab di sesuaikan dengan topik dan hasil penelitiannya, termasuk pembahasannya.)

Bagian inti laporan penelitian kualitatif diakhiri dengan bab penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

Secara Garis besar, penulisan laporan penelitian kualitatif dilakukan melalui dua tahap:
Tahap perencanaan (prapenilisan) dan tahap penulisan. Ada tiga hal pokok yang perlu diperhatikan dalam tahap prapenulisan.
1.   Menyusun atau menata data kedalam susunan yang “baik” yang dapat memudahkan penyusunan laporan sewaktu memerlukannya. Penataan data dapat dilakukan sewaktu pemrosesan data berlangsung. Penataan dapat di lakukan dengan model klasifikasi atau dalam bentuk indeks.
2.   Membuat kerangka laoran, Pembuatan keranka laporan perlu dilakukan sedini mungkin. Laporan yang dirancang dengan menggunakan format tetap memerlukan penataan data yang tidak sama dengan laporan yang di susun dengan mengunakan format bebas.
3.   Melakukan uji silang (check) antara indeks data dengan kerangka laporan yang disusun. Dalam Uji Silang ini ada kemungkinan kerangka laporan yang telah disusun akan mengalami perubahan-perubahan. Kegiatan uji silang akan sangat membantu kelancaran penulisan laporan penelitian.
Untuk dapat menghasilkan laporan penelitian yang baik perlu di perhatikan hal-hal berikut.
  1. Penulisan laporan penelitian kualitatif hendaknya berpegang pada perinsip emik, yakni lebih mengutamakan sudut pandang subjet dalam memahami realita.
  2. Penulisan hendaknya tidak bersifat penafsiran atau evaluatif, kecuali pada bagian yang mempersoalkan hal tersebut. Penulisan laporan harus dapat secara tepat membedakan bagian mana yang merupakan penyajian data dan bagian mana yang merupakan penafsiran peneliti terhadap data.
  3. Jangan terlalu banyak penyajikan data. Pada Tahap awal penulisan biasanya data penelitian yang dimasukkan sangat banyak, sehingga laporan penelitian menjadi sangat tebal. Pada TAhap-tahap slanjutnya, penulis laporan akan mengeluarkan data yang tidak penting, sehingga akhirnya hanya data yang di perlukan saja yang dimasukan dalam laporan penelitian.
  4. Penulisan laporan hendaknya menyusun jadwal penyusunan laporan penelitian secara rinci dan melaksanakan jadwal yang telah disusun secara ketat.