Senin, 10 Maret 2014

pribadi yang bersusila

 
Etika Buddha: Membentuk Pribadi Bersusila Yang Mandiri Dan Peduli
Oleh Jo Priastana S.S
Pendahuluan
Zaman sekarang yang ditandai oleh perubahaan pesat di dalam banyak bidang kehidupan disamping kemajuan juga mendatangkan kegelisahan. Dengan kemajuan komunikasi dan informasi dunia menjadi kecil, dan seturut dengan itu timbulah masalah kegelisahan yang menyangkut masalah moral. Banyak orang merasa tidak punya pegangan lagi tentang norma kehidupan. Bunuh diri egoistic dan anomic yang disebut Emile Durkhein dan melanda kehidupan manusia modern merupakan cirri dari kosongnya norma moral dan makna kebersamaan.

Kita dapat membedakan masalah moral yang menyangkut individu dengan masalah moral yang menyangkut hidup dan urusan orang banyak. Moral individu juga punya kaitan dengan orang lain, tetapi kaitan itu tidak sekuat pada moral social yang langsung menyangkut orang banyak. Moralitas mastubasi misalnya, tidak menyangkut banyak orang lain bila dibandingkan dengan moralitas system politik atau system ekonomi.

Dalam situasi perubahan dan kegelisahan yang serba tidak pasti ini, maka etika sangat dibutuhkan guna dapat menemukan patokan bertindak. Pada umumnya terdapat tiga system norma moral yang dijadikan patokan, yakni norma berdasarkan keyakinan akan kewajiban mutlak (deontologis); norma berdasarkan tujuan perbuatan (teleologis); atau norma berdasarkan hubungan-hubungan dengan orang lain(relasional).

Moral dan Etika buddhis

Moral erat kaitannya dengan etika. Moral menyangkut kebaikan. Orang yang tidak baik juga disebut sebagai orang yang tidak bermoral. Etika juga menyangkut tentang kebaikan, yakni sebagai kemampuan untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Dalam agama etika merupakan factor motivasi yang mendorong dan melandasi cita-cita dan amal perbuatan.

Dalam agama Buddha, moral dan etika sangat dititikberatkan, dan penegakkan moral merupakan perwujudan dari kebutuhan pengembangan diri dari manusia yang selalu berproses. Lebih dari sekedar melakukan upacara, Buddha menekankan untuk menegakan moral atau menjalankan sila, hidup bersusila “Saya tak akan menaruh kayu, Brahmana, untuk umpan api di altar. Hanya didalam diri, api saya nyalakan. Dengan api yang tidk putus-putus membakar ini, dan dengan diri yang selalu dikendalikan, saya jalani kehidupan mulia dan luhur. “ (Samyuttta Nikaya, 2320).

Dalam agama Buddha prilaku moral mengandung dua aspek, aspek negatif: hindarilah atau jangan berbuat kejahatan (papasanakaranam) dan aspek positif : kembangkanlah kebaikan (kusalaupasampada). Keduanya merupakan pasangan terhadap satu sama lain. Pengekangan diri terhadap pembunuhan, misalnya yang merupakan aspek positif dalam pelaksanaan cinta kasih terhadap semua makhluk

“Jangan berbuat jahat. Berbuatlah kebaikan. Sucikan hati dan pikiran.” Inilah inti ajaran para Buddha.

Didalam setiap kebaktian, umat Buddha setelah mengungkapkan keyakinan terhadap Triratna ; Buddha, Dharma dan Sangha, melanjutkan dengan membacakan paritha Pancasila, Lima Sila paling dasar dari kebajikan moral yang wajib dilaksanakan oleh umat Buddha, yaitu : jangan makan minuman yang memabukan dan yang melemahkan kesadaran.

Sila atau moralitas dalam agama Buddha juga terkandung didalam beruas delapan untuk menghentikan dukka, disamping meditasi meditasi dan panna, (kebijaksanaan), yaitu : ucapan benar (sammavacca), perbuatan benar (samma kammanta), dan mata pencaharian benar (sama Ajiva).

Sang Buddha menyebutkan tentang adanya sifat dasar yang melandasi perbuatan manusia, yaitu: merindukan kesenangan (sukhama), dan menghindari kesakitan (dukkhapatikula). Begitupun prilaku manusia bisa didasari oleh motif-motif laten yang terdapat didalam dirinya seperti : keinginan terhadap kelangsungan (bhawa-tanha), keinginan terhadap kenikmatan (kamatanha), atau keinginan akan kehancuran (vibhavatanha).

Terhadap adanya sifat-sifat dasar atau motif-motif alten tersebut, maka penegakkan moral dalam hidup bersusila sangat penting dan ditegaskan oleh Sang Buddha.

“Orang yang selalu mencari kesenangan tidak dapat mengendalikan indria-indrianya, malas dan lemah, ia pasti akan ditaklukan oleh mara, bagaikan pohon kayu yang lemah ditumbangkan oleh angin topan yang dahsyat.” (Dhammapada 7).

“Orang yang dapat mengendalikan indrianya bagaikan seorang kusir yang dapat mengendalikan kudanya, yang telah dapat menghilangkan kesombongannya dan hanya dengan ulet dapat membersihkan batinnya dari noda-noda. Orang seperti ini dicintai oleh para dewa.” (Dhammapada 94)

Sehubungan dengan tindakan-tindakan yang berkenan dengan relasi terhadap yang lain, Sang Buddha menyebutkan terdapatnya empat tipe orang, yaitu : pertama orang yang menyiksa dirinya seperti pertapa, kedua orang yang menyiksa orang lain seperti pemburu, ketiganya orang yang menyiksa dirinya maupun yang lain seperti dalam penyelenggaraan korban besar-besaran, dan keempat orang yang tidak menyiksa yang lain, seperti arahat atau orang suci.

Perbuatan manusia juga tidak dpat dilepaskan dari hubungan-hubungan dan sikapnya dengan orang lain. Dan inipun menentukan mutu kehidupannya.

“Orang yang mencari kebahagiaan dnegan menyakiti orang lain yang juga mendambakan kebahagiaan, maka orang itu tidak akan mendapatkan kebahagiaan setelah kematiannya. Orang yang mencari kebahagiaan dengan tidak menyakiti orang lain yang juga mendambakan kebahagiaan, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan setelah matinya”. (Dhammapada 131).

Bersusila yang mandiri

Terhadap kehidupan bersusila, Sang Buddha menekankan agar kita hendaknya agar kita hendaknya dapat bersikap mandiri, otonom, sebagaimana yang diungkapkannya dengan istilah “Jadilah pulau bagi dirimu sendiri”. Moralitas atau hidup yang bersusila yang mandiri ini adalah dimana kita sendirilah yang dapat memutuskan secara kritis mana yang baik dan mana yang benar, yang dapat kita lakukan melalui kesadaran yang terdapat didalam diri kita.

“Kesadaran adalah jalan menuju kekekalan. Ketidaksadaran adalah jalan menuju kematian, mereka yang sadar tidak akan mati. Orang yang tidak sadar seolah-olah telah mati” (Dhammapada 21)

“Diri sendirilah yang membuat diri jadi jahat. Drii sendirilah yang membuat diri jadi ternoda. Diri sendirilah yang membuat kejahatan terjadi. Namun diri menjadi suci dari noda”. (Dhammapada 165).

Perbuatan manusia dalam agama Buddha juga diatur didalam hokum karma atau sebab-sebab akibat perbuatan. Dinyatakan bahwa perbuatan baik (kusala kamma) akan mendatangkan kebahagiaan dan perbuatan buruk (akusala kamma) akan menghasilkan penderitaan. Perbuatan (kamma) tersbut dapat melalui pikiran (man0), ucapan (vacci) maupun tindakan jasmani (kaya), dan berdaya akibat bila disertai dnegan cetana (niat atau akibat).

Perilaku (karma) seseorang juga ditentukan oleh factor-faktor seperti : rangsangan luar (kontak) misalnya ; situasi; motif yang disadari, misalnya keserakahan, kebencian; dan motif yang tidak disadari. Misalnya keinginan untuk hidup langgeng (jivitukama), keinginan untuk menghindari dari kematian maritukama), keingianan untuk menikmati kesenangan (sukhama), dan penghindaran dari kesakitan (dukkhapatikkula).

“Tidak diangkasa, ditengah lautan ataupun didalam gua-gua gunung; tidak dimanapun seseorang dapat menyembunyikan dirinya dari akibat perbuatan-perbuatan jahatnya.” (Dhammapada 127).

Terhadap perbuatan-perbuatan yang akan kita lakukan, dan bekerjanya hukum karma ini, Sang Buddha juga menganjurkan kita untuk memiliki Hiri dan Otapa atau memiliki rasa malu melakukan perbuatan buruk/salah dan rasa takut akibat dari perbuatan buruk/salah. Disamping berupaya menyadari dan waspada terhadap kecenderungan laten yang mendadari prilaku misalnya melalui hening meditasi.

Sikap Peduli Bodhisattva.

Dalam perkembangan sejarahnya, agama Buddha terpecah menjadi dua mashab besar. Diperkirakan sejak awal abad pertama masehi perpecahan itu memunculkan dua mashab besar : Theravada dan Mahayana. Meski bersumber kepada Buddha Dharma, kedua mashab dengan cirri-ciri masing-masing ajaran ini turut memberikan corak yang khas bagi perilaku penganutnya maupun perwujudannya dalam dunia social dan budaya.

Theravada lebih bersifat ortodoks, bertujuan mencapai cita-cita Arahat (menjadi orang suci) dengan berupaya melenyapkan sifat-sifat negatif yang merupakan belenggu (samyojanna) yang terdapat didalam diri seperti seperti : kepercayaan terhadapku, keraguan, keyakinan bahwa upacara dapat membebaskan, keinginan akan kesenangan indria, kemarahan, keinginan kelangsungan, keinginan pemusnahan, kesombongan, ketidak seimbangan, dan kegelapan batin.

Prinsip negasi-negasionis (melenyapkan yang negatif) ini menjadikan kaum Thjeravedin begitu patuh terhadap prinsip moral dalam sila, serta melakukan meditasi perbersihan batin.

Mahayana lebih bersifat liberal-prograsif, dengan mengembangkan cita-cita Boddhisattva: bertujuan menolong semua makhluk yang menderita dengan : bilamana masih ada setangkai daunpun yang menderita saya tidak akan memasukinya meskipun pintu nirvana itu sudah terbuka untuk saya. Terhadap peraturan-peraturan moral atau susila kaum Mahayana tidak melekat begitu saja namun lebih menitik beratkan kepada semangat atau maknanya. Dengan mengembangkan karuna (belas kasih) kepad segenap makhluk yang menderita, dan dengan tercapainya pemahaman sunyata (kekosongan) melalui prajna (kebijaksanaan trassenden) yang menjadikan dirinya tidak terikat lagi, kaum Mahayana mengembangkan paramita atau kesempurnaan kebajikan (sifat-sifat yang positif) seperti: kedermawanan, moralitas, kesabaran, tekad, mediasi dan kebijaksanaan.

Dengan mengembangkan sad atau enam paramita ini kaum Mahayana mengupayakan berbagai macam cara untuk dapat berbuat baik dan menolong makhluk yang masih menderita (upaya kausalya). Kaum Mahayana juga lebih memandang positif terhadap dirinya, karena di dalam dirinya terkandung bodhicitta (benih/kesadaran Buddha) yang perlu ditumbuh-kembangkan, dan juga menjadi suara hati bagi perilakunya.

Dalam mahjab Mahayana pula berkembang pemahaman terhadap konsep Paramatha-Stya dan Semmuti-Satya atau kebenaran mutlak dan kebenaran relatif. Kedua kebenaran ganda ni tidak dipisahkan satu sama lain. Begitu pula tentang Asankhata Dharma dan Sankhata Dharma atau realitas yang absolut dan realitas yang relatif.

Kebenaran dan realitas dan adanya. Dunia merupakan lading subur bagi penanaman paramita dalam berbagai bidang kehidupan, baik melalui bidang kehidupan, baik melalui pengembangan prajna yang merupakan sumber daya bagi munculnya mansuia-manusia pandai dan cerdas lagi bijaksana, maupun aktualitas karuna yang merupakan sumber daya bagi solidaritas, kepeduliaan terhadap sesama makhluk dan lingkungan.

Bahwa kehidupan dalam dunia yang bersyarat, terkondisi relatif ini merupakan kancah bagi terketemukannya dna berkembagnnya nilai-nilai hakiki, nilai-nilai mutlak yang terkandung dalam moral.

Melalui cita-cita Bodhisattva berdasarkan sunyata (kekosongan, ketidakterikatan) dan karuna (balas kasih), kita mengembangkan kebebasan dan tanggung jawab social, atau moral social seperti misalnya sikap peduli untuk berupaya untuk mengatasi ketidakadilan, kekerasan dan sebagainya.

Kaum Muda Yang Mandiri dan Peduli Etika Buddhis menegaskan untuk hidup bersusila yang mandiri dan peduli. Hidup bersusila ini perlu dibentuk dan ditumbuh-kembangkan, terutama bagi kaum muda yang sedang dalam proses pencaharian diri dan pembentukan idnetitas. Pembentukan pribadi bersusila yag mandiri dan peduli ini sangat penting bagi mahasiswa sebagai kaum muda yang disamping akrab dengan ilmu pengetahuan yang menyangkut teori dan fakta, juga bergumul dengan masalah nilai Kemampuan Mahasiswa untuk memadukan diantara teori, fakta dan nilai, tidak hanya memungkinkan menjadi ilmuwan yang cerdas namun juga menjadi pribadi bersusila yang mandiri dan peduli.

Ciri seorang ilmuwan adalah mampu memadukan antara teori dan nilai fakta. Sedangkan dengan menghubungkan antara teori dan nilai memungkinkan mahasiswa dapat bersikpa selalu budayawan; yang memperhatikan masalah nilai-nilai kehidupan dan menjaga kehidupan ini. Bila seorang mahasiswa mampu menghubungkan antara fakta dan nilai, maka ia telah berperan sebagai seorang agamawan yang secara kritis menilai terhadap apa yang ada dan sekaligus mampu memberi orientasi terhadap apa yang seharusnya atau yang sebenarnya.

Dengan berlandaskan pada sila, keyakinan terhadap hukum karma, , pemahaman terhadap parammaha-satya, sammutti-satya, maupun asankhata-dhamma, sankhata-dhamma, dan pemahaman kritis melalui sunyata serta sikap seorang Bodhisattva yang didasari karuna, maka diharapkan seorang mahasiswa yang bergumul dengan teori, fakta dan nilai, akan memungkinkan terwujudnya pribadi bersusila yang mandiri, otonom, dewasa, dengan bersikap altruis, peduli terhadap lingkungan-dunia, maupun bermoral social yang matang

agama buddha & etika

AGAMA BUDDHA DAN ETIKA BUDAYA MORAL MANUSIA
Dalam kancah modernisasi pembangunan, rasanya ayunan langkah kehidupan ini semakin komplit dan serba menyenangkan. Manusia untuk menghadapi keberadaan dunia sekarang ini, diberi kebebasan terarah untuk menikmati kesenangan dan mencukupi kebutuhan jasmani dan rohani. Sungguh bijaksana sekali, sehingga pemerintah memberi suatu kebebasan yang jarang diberikan oleh pemerintah lain terhadap Negara dan rakyatnya. Hidup kita merasa terlindungi, terjamin dan bisa menikmati fasilitas yang terlah tersedia. Namun adakalanya fasilitas tersebut bisa disalahgunakan, sehingga suatu saat bisa menjadi penyejuk jiwa, dan aat yang lain bisa menjadi boomerang, itulah keserakahan (lobha) manusia. Tak pelak lagi kalau rasanya manusia sekarang ini banyak yang mengeluh dan selalu merasa dirinya kurang mampu. Secara lahiriah, fasilitas sebagai sumber daya kehidupan manusia sudah terpampang di depan kita, tinggal bagaimana cara kita untuk menikmati dan menjalankan serta meraih meraih demi terciptanya kondisi kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan.

Kemajuan sains memberi kemudahan bagi manusia untuk menciptakan kondisi pikiran yang sehat dan memiliki cakrawala berpikir yang luas. Sehingga pikiran manusia mampu menampung kebudayaan yang datang dan menyeleksi kebudayaan itu, sehingga bermanfaat bagi kemajuan suatu bangsa. Transformasi kebudayaan seyogyanya sebagai poros strategi untuk menghadapi pembangunan jangka panjang tahap kedua. Bukanlah guru besar para dewa dan manusia yakni Buddha Gotama dalam kehidupannya juga banyak menghadapi berbagai kebudayaan. Untuk menjernihkan kebudayaan yang bersifat samar-samar yang hanya dianut berdasarkan dari turun temurun, Sang Buddha mencari jalan keluar bagaiman caranya supaya manusia tidak memiliki pikiran yang berbau dogmatis dan asal percaya saja. Disamping itu, Sang Buddha mencari jalan pembebasan kehidpan manusia dari penderitaan (dukkha), walaupun pada jaman kehidupan Sang Buddha sudah banyak terdapat para guru spiritual yang mengajarkan cara hidup menuju kebahagiaan dan terbebas dari penderitaan (dukkha) menurut konsep mereka masing-masing. Bukan berarti Sang Buddha bermaksud untuk menjadi guru tandinga, dan bukan pula beliau mencari nama maupun penghormatan. Namun pengorbanan Beliau pantas untuk kita beri pujian, karena beliau adalah satu-satunya manusia di dunia yang rela meninggalkan kedudukan sebagai pengganti raja, meninggalkan isteri, anak dan kekayaan yang menurut ukuran duniawi lebih dari cukup. Dalam kenyataan itu bukan kebahagiaan yang abadi, karena memiliki pangkat, kedudukan, dan harta kalau kita tidak bisa menjaga dan menggunakan dengan baik, semua itu akan emnimbulkan keakuan dan menjadikan sumber penderitaan bagi diri sendiri.

Didalam menghadapi manusia yang memiliki kebudayaan yang berbeda, Ajaran Sang Buddha bukan berarti sebagai penentang dan penghambat pembangunan yang sekarang sedang dirintis dan diprogram oleh pemerintah, namun Buddha Dharma memberi jalur-jalur tersendiri, sehingga kebudayaan itu bisa diterima di tengah-tengah masyakarat khususnya di Indonesia yang bersifat majemuk. Ajaran ini sesuai dengan realitas obyektif dan konsekuensi logis dari arus gerak perubahan yang sangat cepat, akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta memendeknya pilar-pilar komunikasi. Umat Buddha tidaklah heran dan terkejut untuk menghadapi keadaan jaman yang begitu maju dengan pesat. Bukankah Sang Buddha sendiri mengakui, bahwa kemampuan manusia itu berkembang dan memiliki kemampuan untuk mencipta. Memang kemakuan ilmu pengetahuan dan teknologi ada yang bersifat membangun dan ada yang bersifat membunuh. Itu sudah wajar, maka disinilah letak tanggung jawab kita bersama untuk memberi seleksi secara sehat dan penuh keterbukaan.

Umat Buddha hendaknya berani mentransformasikan kebudayaan secara revolusif, jadi adalah sangat primitif dan cupat sekali kalau kita selalu menutupi kekurangan hanya karena kemampuan yang sempit dan malu kalau dianggap orang bodoh. Justru menutupi segala kekurangan yang disebabkan dari minimnya pengetahuan akan Buddha Dharma, itulah sebenarnya orang bodoh. Tanpa berani menempuh irama ini, Agama Buddha akan semakin ketinggalan dengan agama-agama lain. Bukannya kita iri dan bermaksud bersaing, karena memang bukan iu tujuan ajaran Buddha. Namun apa salahnya kalau kita sekarang mau mulai mempelajari dari kekurangan kita sendiri, tidak hanya menilai, mencela, menonton dan memberikan kasak-kusuk terhadap kemajuan yang lain. Ini adalah pikiran manusia yang sangat rendah sekali.

Salah satu tujuan atau arah dari ajaran Sang Buddha, adalah menciptakan pikiran manusia yang berkualitas dan berakal sehat. Untuk memenuhi sasarannya, maka manusia harus memiliki hubungan dengan Tuhan, manusia dengan semua makhluk dan manusia dengan alam lingkungan. Dari sudut pandang ajaran Buddha, maka pada dasarnya dimensi pengembangan sumber daya manusia bermuara dari pembangunan untuk diri kita dan bukanlah diri kita untuk pembangunan. Pembangunan yang dimaksudkan disini adalah pembangunan mental. Tetapi pembangunan mental saat ini dirasa masih sangat kurang, sehingga tidaklah aneh kalau sekarang muncul berbagai ragam sikap mental yang tidak terpuji seperti deskriminasi, manipulasi, tindak kriminal, penindasan hak asasi manusia, dan lain-lain, sehingga menimbulkan konflik serta keresahan sosial.

Sungguh sangat mengherankan, mengapa di dunia saat ini banyak terjadi peperangan dan penindasan yang sangat mengerikan, sehingga banyak menimbulkan penderitaan bagi manusia. Keadaan ini menandakan nilai moral yang semakin merosot, dan makin merajalelanya kanker kegelapan batin (Avijja) yang berkecamuk dalam batin manusia. Padahal saat ini banyak bermunculan para Dharma-duta dari berbagai agama yang senantiasa mengumandangkan ajaran cinta kasih. Apakah pesan-pesan yang disampaikan oleh para Dharma-duta tersebut hanya dianggap sebagai kicauan burung-burung hanya hanya indah di suaranya tetapi tidak bermakna? Dan apakah seorang Dharma-duta/penceramah hanya dianggap singa gaung yang kelihatan gagah bila bertengger di podium, tanpa menarik dan menjalankan gaungan itu. Sungguh ironis memang. Seharusnya, dengan makin tingginya nilai budaya manusia, kemampuan berpikir dan nilai moral manusia makin meningkat pula. Bukan sebaliknya, tetapi fakta yang ada sungguh sangat menyesalkan dan menjadi bahan untuk kita pikirkan bersama.

Sekarang bagaimana upaya kita untuk bisa meluruskan kembali kebobrokan moral ini untuk menuju perdamaian yang sebenarnya. Jangan diharap dunia ini bisa damai sebelum masing-masing individu manusia membentuk dirinya menjadi damai. Ini adalah hukum yang tak bisa diganggu gugat. Dipihak lain, manusia memang termasuk makhluk yang memiliki banyak segi, penuh misteri dan unik, semakin didalami semakin adimisteri. Manusia pada dasarnya tidak selaras, namun diberi potensi dan kekuatan untuk selaras. Ketidakselarasan akan menimbulkan pertentangan, sedangkan pertentangan merusak keharmonisan serta keseimbangan batin (upekkha). Manusia memiliki ambivalen, satu sisi dikusiri oleh nafsu (tanha) dan cenderung berpihak pada keserakahan (lobha), sedangkan pada sisi yang lain di bawah kendati hati nurani, karenanya berpihak pada sifat “andap asor”. Itulah sebabnya, hidup tanpa adanya keseimbangan batin akan menyebabkan erosi moral yang sulit terkendali. Bahaya erosi moral akan mengakibatkan gersangnya perdamaian batin manusia, dan akan merembet serta merusak tata lingkungan yang sementara ini sudah terjaga, walaupun suatu saat juga masih kecolongan.

Suatu kebudayaan yang bisa diterima di tengah masyarakat adalah kebudayaan yang bisa membangun dan mengembangkan mental masyarakat secara positif. Jadi masyarakat hendaknya bisa bersikap selektif di dalam menerima kebudayaan baru. Kecenderungan yang ada sekarang, masyakarat dengan sangat mudahnya dan praktis tanpa seleksi menyerapa kebudayaan asing yang sering kali tidak sesuai dengan etika dan di dalam pribadi masyarakat, antara mempertahankan kepribadian yang terjadi akibat penerimaan kebudayaan yang asal terima hanya karena takut dengan yang di atas. Akibatnya masyarakat akan kehilangan arah kepribadian dan cenderung untuk bertindak tanpa mengenal batas susila.

Struktur mental yang memberi latar belakang, merupakan paduan dari jamaknya pengalaman, akan sistim nilai budaya yang berorientasi dalam jiwa manusia. Semua ini berpengaruh langsung terhadap pikiran (mano), sikap dan perbuatan. Sementara itu nilai budaya merupakan konfigurasi dari sejumlah hasrat, intuisi, cita-cita, perasaan, harapan, keyakinan (Saddha) yang bersifat tradisional. Secara simultan, struktur mental dan sistem nilai budaya mempengaruhi bahkan menentukan cara-cara menanggapi realitas sosial, merancang ethos, dan melahirkan aktualisasi khas dari sejumlah kemungkinan yang tidak terbatas.

Sekarang belum saatnya ketinggalan untuk membenahi segala kekurangan dan kelemahan yang dimiliki setiap insan. Kalau manusia menyadari pentingnya kebudayaan yang senantiasa memberi nilai hidup tersendiri dan mendorong lebih maju dalam wawasan berpikir. Maka kita harus terlebih dahulu menciptakan kedamaian, kebahagiaan, keharmonisan yang menjadikan momok bagi kehidupan. Kitapun juga tidak bisa menjejalkan kebudayaan untuk bisa diterima oleh setiap manusia atau negara lain. Sifat yang seperti ini sudah usang dan harus cepat untuk kembali serta pamit ke asalnya. Ajakan kita hendaknya setiap umat manusia senantiasa waspada dengan adanya berbagai macam budaya yang berkulit manis dan yang sebenarnya berisi pahit. Jangan terpikat rayuan, iming-iming serta pujian semu, kalau kita ingin menikmati kebebasan yang sebenarnya.

agama dan politik

AGAMA DAN POLITIK MORAL
Dalam konteks kehidupan sosial kemasyarakatan, hubungan antara agama dan politik jelas memiliki suatu keterkaitan, namun tetap harus dibedakan. Satu pihak, masyarakat agama memiliki kepentingan mendasar agar agama tidak dikotori oleh kepentingan politik, karena bila agama berada dalam dominasi politik, maka agama akan sangat mudah diselewengkan. Akibatnya agama tidak lagi menjadi kekuatan pembebas atas berbagai bentuk penindasan dan ketidakadilan, sebaliknya agama akan berkembang menjadi kekuatan yang menindas dan kejam.
 
Di pihak lain, adalah kewajiban moral agama untuk ikut mengarahkan politik agar tidak berkembang menurut seleranya sendiri yang bisa membahayakan kehidupan. Agar agama dapat menjalankan peran moral tersebut, maka agama harus dapat mengatasi politik, bukan terlibat langsung ke dalam politik praktis. Karena bila agama berada di dalam kooptasi politik, maka agama akan kehilangan kekuatan moralnya yang mampu mengarahkan politik agar tidak berkembang menjadi kekuatan yang menekan kehidupan dan menyimpang dari batas-batas moral dan etika agama, masyarakat, dan hukum.
 
Dalam konteks keterkaitan ilmiah, maka hubungan antara agama dan politik harus kita waspadai sehingga ia tidak sampai berjalan pada posisi yang salah. Salah satu ukuran atau kunci yang paling mudah dikenali agar kita dapat menarik batas yang mana politik yang harus dihindari sehingga kita tidak terjebak ke dalam arus politik kotor, khususnya oleh kaum Buddhis adalah dengan menghindari penggunaan kekerasan. Artinya politik yang harus dihindari adalah politik yang menyangkut perebutan kekuasaan melalui penggunaan kekerasan, termasuk dengan memperalat orang lain atau suatu organisasi, apalagi bila sudah menggunakan simbol-simbol agama yang bisa sangat menyesatkan.
 
Jadi, agama secara moral dan politis berada pada posisi yang benar pada saat agama tidak menjadi alat untuk memperebutkan atau mempertahankan status quo kekuasaan. Sehingga pada saat agama mengarah kepada politik kekuasaan, pada saat itulah agama dalam posisi yang salah dan berbahaya. Jadi ada 2 hal keterkaitan yang menjadi wacana diskusi kita, pertama bagaimana agama dapat membentengi diri mereka dari setiap kecenderungan/kekuatan politik yang berkembang di sekitar mereka, sehingga agama dapat tetap menjadi kekuatan pembebas dan bukan sebaliknya menjadi yang dibebaskan atau pencipta masalah karena telah terdistorsi oleh kekuatan-kekuatan politik tersebut. Kedua bagaimana agama dapat memainkan peran moral mereka untuk ikut mengarahkan politik agar tidak berkembang menjadi kekuatan yang menyimpang dan menekan kehidupan.
 
Tetapi kedua hal di atas hanya dapat berjalan dengan baik bila kita memiliki pemahaman yang cukup mendalam atas setiap proses politik yang berjalan. Tanpa adanya pemahaman atas proses politik, sulit bagi kita untuk membentengi diri karena proses pemahaman tersebut akan menimbulkan kepekaan nurani pada saat politik berjalan pada arah yang salah, sekaligus menimbulkan suatu perencanaan bagaimana arah politik yang seharusnya dan diharapkan, dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang menjadi keyakinan kita, baik menyangkut rasa keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan.
 
Sebaliknya, kebutaan kita atas persoalan politik akan membuat kita begitu mudah dibodohi oleh kepentingan-kepentingan dan muatan-muatan politik yang tidak jelas arahnya. Jadi usaha agar agama tidak dikotori dan diberi muatan politik tidak berarti agama harus mengalami pendangkalan fungsinya sebagai agen pembebas. Justru pemahaman atas proses politik diperlukan karena agama memiliki peranan yang penting agar nilai-nilai moral dan spiritual mampu memberikan muatan bagi politik, bukan sebaliknya. Selain itu, saat ini pemahaman atas sistem politik, baik yang menyangkut masalah ekonomi maupun sosial menjadi semakin penting bagi seorang Buddhis karena bagaimanapun juga, berbicara mengenai Buddhisme adalah berbicara mengenai bagaimana kita memahami penderitaan, untuk kemudian memahami sebab dan jalan untuk mengatasinya. Buddhisme akan kehilangan akarnya bila tidak sanggup lagi berbicara dan peduli dengan penderitaan dunia saat ini yang sudah sedemikian kompleks.
 
Tetapi memahami penderitaan saat ini tidaklah semudah kita memahami penderitaan pada zaman Buddha. Masyarakat luas saat itu tidaklah seburuk sekarang dan sistem yang ada juga belum terlalu kejam. Dan perubahan seseorang masih dapat memberikan pengaruh yang besar. Contohnya adalah Supata yang dikenal sebagai Anathapindika. Ia adalah seorang yang kaya raya, seorang banker pada zaman Buddha, menjadi pendukung seluruh orang miskin di wilayahnya. Tapi pada zaman sekarang, kita mungkin dapat menemukan seorang banker atau raja yang baik, atau bahkan mungkin mengganti penguasa yang lalim, tapi hal ini tetap saja tidak membawa perubahan yang mendasar. Ini bukan semata-mata kesalahan si banker atau penguasa yang lalim.
 
Ini menyangkut seluruh bagian dari suatu sistem yang pincang dan tidak demokratis. Melalui sistem ini manusia saling membunuh dan menerkam. Karenanya kita perlu mempertanyakan setiap sistem yang berlangsung, tapi bukan membenci orang-orang yang terlibat dalam sistem tersebut. Oleh karena itu pemahaman atas sistem politik, ekonomi, maupun ideologi menjadi sangat penting. Usaha untuk mengatasi penghancuran lingkungan, ketidakadilan, dan berbagai kesenjangan sosial, politik, dan ekonomi, misalnya, jelas menjadi tugas seorang Buddhis.. Tapi kita juga tidak boleh lalai untuk menyadari bahwa setiap komitmen moral yang kita miliki terhadap usaha pembebasan penderitaan, sesungguhnya bersifat politis.
 
Mengatasi penderitaan memang merupakan komitmen moral, tapi melakukan perubahan struktural yang tidak demokratis agar rakyat terbebas dari struktur sosial yang menindas dan banyak menimbulkan penderitaan, maupun yang melanggengkan ketergantungan dan ketidak berdayaan mereka, merupakan keputusan politik. Jadi jelas, pembebasan penderitaan saat ini tidak dapat dipahami hanya dalam konteks pribadi, karena Buddhisme selain memberi sarana bagi pembebasan pribadi, ia juga harus dapat melapangkan jalan bagi pembebasan sosial dan lingkungan.
 
Kita teringat dengan perjuangan Ambedhar, seorang pemimpin besar dan bapak konstitusi India. Meskipun ia menjadi Buddhis pada saat-saat akhir masa hidupnya, akan tetapi kedalaman spiritual dan intelektualnya membuat ia mampu membawa ajaran Buddha dengan cara yang mengagumkan. Ia tidak hanya menjadikan Buddhisme sebagai sumber pencerahan pribadi, tapi juga bagaimana nilai Buddhisme mampu memberikan pengharapan dan pencerahan bagi jutaan rakyat India, yang mengalami banyak ketidakadilan dan pendiskriminan saat itu. Buddhisme saat itu telah menjadi kekuatan pembebas yang begitu hebat, bukan hanya sebagai pembebasan pribadi, tapi juga pembebasan sosial dan politik.
 
Ambedhar senantiasa mengingatkan bahwa tidaklah cukup bagi seorang Buddhis berbicara mengenai sebab penderitaan hanya dari kebencian, keserakahan, dan kebodohan individual. Itu hanya satu sisi dari sebab “internal” karena di samping itu, struktur sosial dan politik yang pincang adalah juga sebab penderitaan sebagai sebab-sebab yang tidak tersentuh. Sebagai seorang Buddhis, transformasi pribadi memang harus tetap dilakukan, tapi kita akan tetap dibodohi bila kita tidak memahami secara jelas bagaimana sebuah sistem berjalan dan cara untuk mengubah sistem dan kondisi masyarakat yang menindas.
 
Bila selama ini etika sosial Buddhis telah menjadi begitu pribadi, maka kita perlu menginter- pretasikannya kembali sehingga sila selain berguna untuk menuntun cara hidup individu, ia juga harus dapat mempertanyakan berbagai sistem dan kebijaksanaan yang berlangsung dengan melihat bagaimana suatu sistem juga mengandung suatu kekerasan dan penindasan. Pancasila Buddhis misalnya, dalam masyarakat tradisional yang hidup sederhana, masalah-masalah etika/sila juga menjadi mudah dan sederhana. Seseorang dapat saja berkata “Saya baik, saya tidak membunuh, mencuri,…..” tapi ketika masyarakat sudah berkembang semakin kompleks, kesederhanaan etika seperti itu menjadi kurang berfungsi. Tidak mencuri, sila kedua misalnya, secara formal seseorang mungkin memang bukan pencuri. Tapi bagaimana dengan sistem tata niaga atau sistem embargo ?. Apakah hal tersebut tidak melanggar sila.
 
Begitupun dengan pemikiran Buddhis atas pencerahan dan kebijaksanaan yang mutak diperlukan sehingga tidak selalu diartikan sebagai pencerahan pribadi.. Kebijaksanaan (panna) harus mengandung pemahaman yang benar atas diri sendiri dan masyarakat. Bila kita memahami masyarakat dan bila masyarakat dalam kondisi yang diliputi oleh ketidakadilan, mengeksploitasian, dan kekerasan, bagaimana tanggapan kita atas hal tersebut? Apakah kita melepaskan tanggung jawab moral sosial kita dan cukup menjadi “seorang Buddhis yang baik”. Apa benar Buddhisme tidak memiliki tanggung jawab dan kepedulian sosial?
 
Kesadaran-kesadaran inilah yang masih perlu dibangun dan disadari oleh setiap generasi muda Buddhis para calon intelektual muda bangsa. Memang ini masih menjadi sesuatu yang sangat baru dan asing bagi sebagian besar masyarakat Buddhis, karena selama ini kita terlalu sering membiarkan diri kita berdiri terlalu jauh dari masalah-masalah sosial politik aktual. Tapi dengan memahami bahwa sistem juga adalah bagian yang tidak terlepas dari penyebab penderitaan, semoga kita dapat semakin terbuka untuk mulai belajar setiap proses sosial politik yang berlangsung, sehingga kita dapat semakin menyadari hakekat pembebasan yang menjadi amanat dasar dari Dharma.
 
Bila Dharma sesuatu yang tidak terikat oleh waktu, ia juga harus dapat berguna bagi usaha pembebasan di segala zaman. Sudah saatnya bagi generasi muda Buddhis, khususnya mahasiswa calon intelektual muda, untuk mulai berani berbicara mengenai landasan ekonomi, termasuk politik yang seringkali menjadi sebab tak tersentuh dari persoalan penderitaan dan kemanusiaan. Akhirnya mengapa pemahaman dan wawasan yang mendalam atas persoalan sosial politik diperlukan, karena sebagai manusia yang memiliki semangat spiritualitas Dharma, yang selalu bersandar kepada kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan, akan terusik nuraninya bila melihat politik berkembang menjadi kekuatan yang kotor, menekan dan menindas. Yang kita inginkan adalah politik moral yang dapat memperjuangkan kehidupan ke arah demokrasi, bukan politik binatang yang mematikan demokrasi dan kemanusiaan.

Kamis, 06 Maret 2014

perkembangan agama buddha



SEJARAH PERKEMBANGAN BUDDHISME DI INDONESIA
JAMAN KEMERDEKAAN HINGGA ORDE LAMA

Pada jaman Kemerdekaan, perkembangan Agama Buddha dimulai kembali seiring dengan munculnya kembali organisasi-organisasi Buddhis yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan. Meskipun belum diakuinya Agama Buddha sebagai agama negara yang resmi pada jaman Orde Baru, tapi pada masa inilah, tepatnya tanggal 22 Mei 1953 telah diadakannya perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2497 untuk pertama kalinya di Candi Borobudur. 

Perjalanan perkembangan Agama Buddha dan pembentukan organisasi umat Buddha di Indonesia pada jaman Kemerdekaan hingga Orde Lama yang diwarnai oleh perbedaan pendapat dan pandangan di kalangan pimpinan umat Buddha sehingga menimbulkan gejolak di sana-sini hingga didirikannya beragam organisasi Buddhis baru.

Gabungan Tridharma Indonesia (GTI)
Setelah terhenti pada masa penjajahan Jepang, baru kemudian pada tahun 1952, organisasi Sam Kauw Hwee digiatkan kembali. Perkumpulan Sam Kauw Hwee Indonesia bergabung dengan Thian Lie Hwee yang dipimpin oleh almarhum Ong Tiang Biauw (yang kemudian menjadi Bhikkhu Jinaputta) dan Gabungan Khong Kauw Hwee Indonesia (GAPAKSI). Bagian kebaktian dari Sin Ming Hui (Perkumpulan Sosial Candrayana) dan Buddha Tengger, membentuk Gabungan Sam Kauw Indonesia (GSKI) pada tanggal 20 Februari 1952 di bawah pimpinan The Boan An. Pada tanggal 20 Februari 1953, pukul 12.00 WIB didirikan GSKI di Jakarta yang ditetapkan sebagai badan hukum dengan Penetapan Menteri Kehakiman RI No. JA5/31/13 tanggal 9 April 1953, dan termuat dalam Tambahan Berita Negara RI No. 33 tanggal 24 April 1953 urutan no. 3. Organisasi ini diketuai oleh The Boan An.
Setelah The Boan An ditahbiskan menjadi Bhikkhu Theravada pada tahun 1954 di Birma (Myanmar) oleh Y.M. Mahasi Sayadaw dengan nama Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, ketua GSKI beralih kepada DRS. Khoe Soe Kiam (Drs. Sasana Surya). Pada tahun 1962, GSKI berganti nama menjadi Gabungan Tridharma Indonesia (GTI). Bhikkhu Ashin Jinarakkhita merupakan putera pertama Indonesia yang menjadi bhikkhu sejak keruntuhan Kerajaan Majapahit.

Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI)
Untuk membantu menyebarkan ajaran Agama Buddha di Indonesia dan membantu Sangha dan bertanggung jawab kepada Sangha Suci Indonesia, Bhikkhu Ashin Jinarakkhita mendirikan Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI) pada 1955 - 1956 di Watugong, Semarang. PUUI yang merupakan organisasi Buddhis yang mempelopori kebangkitan dan perkembangan Agama Buddha di Indonesia sejak tahun 1950-an dalam perkembangannya berganti nama menjadi Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia (MUABI), kemudian menjadi Majelis Upasaka-pandita Agama Buddha Indonesia (MUABI), dan kemudian terakhir menjadi Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) pada tahun 1979. Organisasi ini diketuai secara berturut-turut oleh Sariputra Sudono, kemudian oleh Karbono, Kolonel Soemantri M.S, Brigjen. Suraji A.A, Oka Diputhera (Sek. Jen).

Perhimpunan Buddhis Indonesia (PERBUDHI)
Tanggal 3 Mei 1958 dibentuk Perhimpunan Buddhis Indonesia (PERBUDHI) yang berkedudukan di Semarang. Organisasi ini dipimpin oleh Sosro Utomo (Ketua Buddha Tengger) dan terbentuk karena kesukaran yang dialami oleh suku Jawa untuk bergabung dengan Gabungan Tridharma Indonesia (GTI). Tetapi sejak tahun 1965 PERBUDI dipindahkan ke Jakarta. Dalam Kongres 1978, PERBUDHI berubah menjadi PERBUDDHI sebagai gabungan dari PERBUDHI, PUUI (Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia), GPBI (Gerakan Pemuda Buddhis Indonesia), dan Wanita Buddhis Indonesia. Dengan Ketua Umum Sariputa Sudono, kemudian Kolonel Soemantri M.S. dan Brigjen Suraji A.A.

Sangha Suci Indonesia
Pada tahun 1959 Y.M. Bhikkhu Ashin Jinarakkhita mengundang 13 bhikkhu dari luar negeri, yaitu:
Y.M. Mahasi Sayadaw dari Birma.
Y.M. Somdach Choun Nath Mahathera dari Kamboja.
Y.M. Ung Mean Chanavanno Mahathera dari Kamboja.
Y.M. Piyadasi Mahathera dari Sri Lanka.
Y.M. Narada Mahathera dari Sri Lanka.
Y.M. Tudawe Arivawangsa Nayaka Thera dari Sri Lanka.
Y.M. Walane Satthisara Mahathera dari Sri Lanka.
Y.M. Kamburugamuwe Mahanama Mahathera dari Sri Lanka.
Y.M. Ransegoda Sarapala Thera dari Sri Lanka.
Y.M. Phra Visal Samanagun dari Thailand.
Y.M. Phra Sumreng Arnuntho Thera dari Thailand.
Y.M. Phra Kru Champirat Threra dari Thailand.
Y.M. Phra Kaveevorayan dari Thailand.

Undangan tersebut dalam rangka membentuk Sangha Suci Indonesia, melalui penahbisan 3 calon bhikkhu Indonesia. Kemudian Y.M. Bhikkhu Ashin Jinarakkhita juga mengirim calon-calon bhikkhu/bhiksuni Indonesia lainnya untuk ditahbiskan di luar negeri. Tanggal 21 Mei 1959, Ong Tiang Biauw (dari Tangerang) ditahbiskan menjadi Bhikkhu di "International Sima" di Kassap, Semarang oleh H.E. Somdach Choun Nath Mahathera dari Kamboja dengan nama Jinaputta. Pada hari yang sama I Ketut Tangkas (dari Mengwi, Bali) ditahbiskan menjadi Samanera Jinapiya dan Sontomihardjo (dari Kutoarjo) menjadi Samanera Jinananda. Tanggal 3 Juni 1959 di Pura Besakih, Samanera Jinapiya ditahbiskan menjadi bhikkhu (pada tanggal 12-2-1976 sempat lepas jubah) oleh Y.M. Narada Mahathera. Tanggal 26 Juli 1988 ia ditahbiskan kembali di Wat Bovoranives, Bangkok dan diberi nama Thitaketuko. 

Sangha Suci Indonesia pada tahun 1963 diubah namanya menjadi Maha Sangha Indonesia. Maha Sangha Indonesia beranggotakan baik para bhikkhu Theravada maupun para bhiksu/bhiksuni Mahayana. Dapat bersatunya para bhikkhu Dari berbagai aliran yang ditahbiskan di berbagai negara adalah karena selaku Nayaka (Ketua) Y.M. Bhikkhu Ashin Jinarakkhita menerapkan cara pandang Buddhayana yang non-sektarian, pluralistik, inklusif, dan sekaligus kontekstual. Kendati demikian perbedaan pandangan tetap saja dapat terjadi. Lima orang bhikkhu sempat memisahkan diri dari Maha Sangha Indonesia pada tanggal 12 Januari 1972 dan membentuk Sangha baru bernama Sangha Indonesia yang dipimpin oleh Y.M. Bhikkhu Girirakkhito. Namun pada tanggal 14 Januari 1974 Sangha di Indonesia kembali satu dan menggunakan nama baru, yaitu Sangha Agung Indonesia (SAI / SAGIN). 

Musyawarah Umat Buddha Seluruh Indonesia (MUBSI)
Pada tahun 1962, anggota PERBUDHI cabang Yogyakarta dan Jawa Tengah menyatakan keluar dari PERBUDHI, kemudian membentuk Musyawarah Umat Buddha Seluruh Indonesia (MUBSI) dipimpin oleh Drs. Soeharto Djojosumpeno (Yogyakarta) yang yang terakhir menjabat sebagai staf pada Lemhanas. Keluarnya anggota PERBUDHI cabang Yogyakarta dan Jawa Tengah dipicu dengan pendapat bahwa kegiatan organisasi PERBUDHI tidak dapat berjalan dengan baik karena para Upasaka-Upasika yang tergabung dalam PUUI (Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia) tidak tunduk kepada keputusan kongres, tetapi kepada Sangha.

Buddhis Indonesia
Pata tanggal 1 Januari 1965 anggota PERBUDHI cabang Semarang melepaskan diri dari PERBUDHI dan membentuk Buddhis Indonesia yang bermarkas di Vihara Tanah Putih Semarang. Buddhis Indonesia mendapat dukungan dari berbagai cabang PERBUDHI di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan menyatakan diri menjadi cabang Buddhis Indonesia. Awal perpecahan ini adalah ketidakserasian dan masalah pribadi antara tokoh-tokoh umat Buddha di Semarang dan Jawa Tengah dengan tokoh sentral umat Buddha, tetapi sebagai alasan untuk keluar dari PERBUDHI adalah keikutsertaan PERBUDHI dalam Konferensi World Buddhists of Fellowship (WFB) di Bangkok yang hadir pula utusan dari Malaysia. 

Federasi Umat Buddha Indonesia
Pada bulan Juli 1965 diadakan pertemuan antar organisasi-organisasi Buddhis yang ada untuk membuat landasan kerukunan dan kerjasama. Pertemuan ini dilanjutkan lagi pada bulan Agustus 1966 dan Oktober 1966. Pada pertemuan mereka bulan Februari 1967 berhasil dibentuk Federasi Umat Buddha Indonesia yang anggotanya adalah :
1.      Buddhis Indonesia
2.      Gabungan Tridharma Indonesia
3.      Musyawarah Umat Buddha Seluruh Indonesia
4.      Agama Hindu-Buddha Tengger
5.      Agama Buddha Wisnu Indonesia
PERBUDHI tidak ingin bergabung dengan Federasi Umat Buddha Indonesia dikarenakan adanya pernyataan bersama Federasi Umat Buddha Indonesia yang merugikan Sangha Suci Indonesia (Maha Sangha Indonesia) dan PERBUDHI.


Minggu, 23 Februari 2014

dia tahta

LIRIK DAN KUNCI LAGU TAHTA "DIA"
[intro] G

  G      D     Em         C
Dia oh dia tinggalkan cerita
   G             D         Em C
Membekas dan tak pernah pergi
  G      D      Em       C
Dia oh dia yang aku cintai
    Em      D         C
Tak bisa ku genggam lagi

[chorus]
D      G             D
Saat resah tak berganti
        Em    C
saat beribu jalan
          G              D       C
Dia kan tetap dia kan tetap di hati

  G      D        Em        C
Dia oh dia yang telah melukai
   G             D         Em C
Membekas dan tak pernah pergi
  G      D       Em      C
Dia oh dia yang aku cintai
    Em      D         C
Tak bisa ku genggam lagi

[chorus]
D      G             D
Saat resah tak berganti
        Em    C
saat beribu jalan
          G              D       C
Dia kan tetap dia kan tetap di hati
D       G             D
Walau resah tak berganti
        Em      C
walau beribu jalan
          G              D       C
Dia kan tetap dia kan tetap di hati

[solo] Em D C 2x

[chorus]
D      G             D
Saat resah tak berganti
        Em    C
saat beribu jalan
          G              D       C
Dia kan tetap dia kan tetap di hati
D       G             D
Walau resah tak berganti
        Em      C
walau beribu jalan
          G              D       C
Dia kan tetap dia kan tetap abadi
          Em             D       C
Dia kan tetap dia kan tetap abadi

tempat yang paling indah

Lirik, Kunci gitar, Chords Gitar, Kord Gitar Tahta - Tempat Yang Paling Indah :

Intro : G Bm C D

G                  Bm
aku terlalu mencintaimu
C
terlebih ku menggilaimu
D
salahkah ku

G                     Bm
hingga ku tak tahu arah hidupku
C
ku telah buta karenamu
D
tolong aku

*

Em   Am        G        D
ku lelaki yang tak bisa menangis
Em        D      C
apa yang harus kulakukan
G                     Bm
aku ku begitu menginginkanmu
C
takkan mampu hidup tanpamu
D
mengertilah
G                     Bm
hingga ku ingin kau genggam hatiku
C
dan dekatkan pada hatimu
D
tolong aku

back to : *

reff:
G   D/F#      Em D
bila kau menjadi miliku
C        D      Em      D
kan kurelakan semua sisa hidupku
G   D/F#      Em D
kan ku jadikan kau ratuku
C               G/B Am D
di tempat yang paling indah
Em
di hidupku

Musik : Em Am G D 3x
        C D

back to : reff

Musik : G D/F# Em D C G/B Am D

back to : reff

dasar pengecut tahta

Lirik, Kunci gitar, Chords Gitar, Kord Gitar Tahta - Dasar Pengecut :

Intro: E

    E
Aku memang pengecut
                           C#m
Yang tak biasa biarkan diriku terluka
    B
Aku terlalu takut
     A                E
Bila cinta mengalahkanku
     E
Coba untuk mengerti
                             C#m
Apa yang kau berikan lewat manis bibirmu
     B
Coba ikuti hati
      A                  E          B
Untuk memenuhi cerita cinta denganmu


Reff:

      E        A
Semua terasa benar
   E            A
Waktu kau tunjukkan
      C#m        A          B
Semua rasa cinta yang kau punya
     E          A
Jadi sakit sendiri
  E         A       C#m        G#/C
Merasa berarti saat kau perhatikan aku
  B             A
Melebihi kekasihmu


    E
Bisakah kau membagi
                          C#m
Satu hati untuk dua cinta yang berbeda
      B
Sudah lupakan saja
     A                    E
Bila kau punya cinta yang lain
    E
Aku memang pengecut
                       C#m
Tapi aku lelaki, pasti bisa memilih
      B
Masih banyak wanita
       A                      E        B
Yang dapat memahami dan mengerti diriku


Kembali ke: Reff


Int: E A (3x) B E A (2x) C#m G#/C B A

Kembali ke: Reff