Tampilkan postingan dengan label pendidkan buddhis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidkan buddhis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Maret 2014

asal mula hubungan seksual


Asal Mula Hubungan Seksual

Melakukan hubungan kelamin dapat menyebabkan kelahiran seorang anak manusia. Itulah pandangan umum yang berlaku. Sudah menjadi pandangan umum bahwa kelahiran seorang anak manusia itu adalah akibat dari hubungan kelamin sepasang manusia, lelaki dan perempuan. Karenanya, dalam pandangan tradisional hubungan kelamin hanya dibenarkan dalam rangka reproduksi manusia atau prokreasi;yang diawali terlebih dahulu oleh pasangan yang bersangkutan dengan pernikahan. Suatu ikatan bahwa tubuh perempuan yang subur itu hanya akan melahirkan anaknya dari lelaki yang menjadi pasangannya.

Kamis, 06 Maret 2014

perkembangan agama buddha



SEJARAH PERKEMBANGAN BUDDHISME DI INDONESIA
JAMAN KEMERDEKAAN HINGGA ORDE LAMA

Pada jaman Kemerdekaan, perkembangan Agama Buddha dimulai kembali seiring dengan munculnya kembali organisasi-organisasi Buddhis yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan. Meskipun belum diakuinya Agama Buddha sebagai agama negara yang resmi pada jaman Orde Baru, tapi pada masa inilah, tepatnya tanggal 22 Mei 1953 telah diadakannya perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2497 untuk pertama kalinya di Candi Borobudur. 

Perjalanan perkembangan Agama Buddha dan pembentukan organisasi umat Buddha di Indonesia pada jaman Kemerdekaan hingga Orde Lama yang diwarnai oleh perbedaan pendapat dan pandangan di kalangan pimpinan umat Buddha sehingga menimbulkan gejolak di sana-sini hingga didirikannya beragam organisasi Buddhis baru.

Gabungan Tridharma Indonesia (GTI)
Setelah terhenti pada masa penjajahan Jepang, baru kemudian pada tahun 1952, organisasi Sam Kauw Hwee digiatkan kembali. Perkumpulan Sam Kauw Hwee Indonesia bergabung dengan Thian Lie Hwee yang dipimpin oleh almarhum Ong Tiang Biauw (yang kemudian menjadi Bhikkhu Jinaputta) dan Gabungan Khong Kauw Hwee Indonesia (GAPAKSI). Bagian kebaktian dari Sin Ming Hui (Perkumpulan Sosial Candrayana) dan Buddha Tengger, membentuk Gabungan Sam Kauw Indonesia (GSKI) pada tanggal 20 Februari 1952 di bawah pimpinan The Boan An. Pada tanggal 20 Februari 1953, pukul 12.00 WIB didirikan GSKI di Jakarta yang ditetapkan sebagai badan hukum dengan Penetapan Menteri Kehakiman RI No. JA5/31/13 tanggal 9 April 1953, dan termuat dalam Tambahan Berita Negara RI No. 33 tanggal 24 April 1953 urutan no. 3. Organisasi ini diketuai oleh The Boan An.
Setelah The Boan An ditahbiskan menjadi Bhikkhu Theravada pada tahun 1954 di Birma (Myanmar) oleh Y.M. Mahasi Sayadaw dengan nama Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, ketua GSKI beralih kepada DRS. Khoe Soe Kiam (Drs. Sasana Surya). Pada tahun 1962, GSKI berganti nama menjadi Gabungan Tridharma Indonesia (GTI). Bhikkhu Ashin Jinarakkhita merupakan putera pertama Indonesia yang menjadi bhikkhu sejak keruntuhan Kerajaan Majapahit.

Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI)
Untuk membantu menyebarkan ajaran Agama Buddha di Indonesia dan membantu Sangha dan bertanggung jawab kepada Sangha Suci Indonesia, Bhikkhu Ashin Jinarakkhita mendirikan Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia (PUUI) pada 1955 - 1956 di Watugong, Semarang. PUUI yang merupakan organisasi Buddhis yang mempelopori kebangkitan dan perkembangan Agama Buddha di Indonesia sejak tahun 1950-an dalam perkembangannya berganti nama menjadi Majelis Ulama Agama Buddha Indonesia (MUABI), kemudian menjadi Majelis Upasaka-pandita Agama Buddha Indonesia (MUABI), dan kemudian terakhir menjadi Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) pada tahun 1979. Organisasi ini diketuai secara berturut-turut oleh Sariputra Sudono, kemudian oleh Karbono, Kolonel Soemantri M.S, Brigjen. Suraji A.A, Oka Diputhera (Sek. Jen).

Perhimpunan Buddhis Indonesia (PERBUDHI)
Tanggal 3 Mei 1958 dibentuk Perhimpunan Buddhis Indonesia (PERBUDHI) yang berkedudukan di Semarang. Organisasi ini dipimpin oleh Sosro Utomo (Ketua Buddha Tengger) dan terbentuk karena kesukaran yang dialami oleh suku Jawa untuk bergabung dengan Gabungan Tridharma Indonesia (GTI). Tetapi sejak tahun 1965 PERBUDI dipindahkan ke Jakarta. Dalam Kongres 1978, PERBUDHI berubah menjadi PERBUDDHI sebagai gabungan dari PERBUDHI, PUUI (Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia), GPBI (Gerakan Pemuda Buddhis Indonesia), dan Wanita Buddhis Indonesia. Dengan Ketua Umum Sariputa Sudono, kemudian Kolonel Soemantri M.S. dan Brigjen Suraji A.A.

Sangha Suci Indonesia
Pada tahun 1959 Y.M. Bhikkhu Ashin Jinarakkhita mengundang 13 bhikkhu dari luar negeri, yaitu:
Y.M. Mahasi Sayadaw dari Birma.
Y.M. Somdach Choun Nath Mahathera dari Kamboja.
Y.M. Ung Mean Chanavanno Mahathera dari Kamboja.
Y.M. Piyadasi Mahathera dari Sri Lanka.
Y.M. Narada Mahathera dari Sri Lanka.
Y.M. Tudawe Arivawangsa Nayaka Thera dari Sri Lanka.
Y.M. Walane Satthisara Mahathera dari Sri Lanka.
Y.M. Kamburugamuwe Mahanama Mahathera dari Sri Lanka.
Y.M. Ransegoda Sarapala Thera dari Sri Lanka.
Y.M. Phra Visal Samanagun dari Thailand.
Y.M. Phra Sumreng Arnuntho Thera dari Thailand.
Y.M. Phra Kru Champirat Threra dari Thailand.
Y.M. Phra Kaveevorayan dari Thailand.

Undangan tersebut dalam rangka membentuk Sangha Suci Indonesia, melalui penahbisan 3 calon bhikkhu Indonesia. Kemudian Y.M. Bhikkhu Ashin Jinarakkhita juga mengirim calon-calon bhikkhu/bhiksuni Indonesia lainnya untuk ditahbiskan di luar negeri. Tanggal 21 Mei 1959, Ong Tiang Biauw (dari Tangerang) ditahbiskan menjadi Bhikkhu di "International Sima" di Kassap, Semarang oleh H.E. Somdach Choun Nath Mahathera dari Kamboja dengan nama Jinaputta. Pada hari yang sama I Ketut Tangkas (dari Mengwi, Bali) ditahbiskan menjadi Samanera Jinapiya dan Sontomihardjo (dari Kutoarjo) menjadi Samanera Jinananda. Tanggal 3 Juni 1959 di Pura Besakih, Samanera Jinapiya ditahbiskan menjadi bhikkhu (pada tanggal 12-2-1976 sempat lepas jubah) oleh Y.M. Narada Mahathera. Tanggal 26 Juli 1988 ia ditahbiskan kembali di Wat Bovoranives, Bangkok dan diberi nama Thitaketuko. 

Sangha Suci Indonesia pada tahun 1963 diubah namanya menjadi Maha Sangha Indonesia. Maha Sangha Indonesia beranggotakan baik para bhikkhu Theravada maupun para bhiksu/bhiksuni Mahayana. Dapat bersatunya para bhikkhu Dari berbagai aliran yang ditahbiskan di berbagai negara adalah karena selaku Nayaka (Ketua) Y.M. Bhikkhu Ashin Jinarakkhita menerapkan cara pandang Buddhayana yang non-sektarian, pluralistik, inklusif, dan sekaligus kontekstual. Kendati demikian perbedaan pandangan tetap saja dapat terjadi. Lima orang bhikkhu sempat memisahkan diri dari Maha Sangha Indonesia pada tanggal 12 Januari 1972 dan membentuk Sangha baru bernama Sangha Indonesia yang dipimpin oleh Y.M. Bhikkhu Girirakkhito. Namun pada tanggal 14 Januari 1974 Sangha di Indonesia kembali satu dan menggunakan nama baru, yaitu Sangha Agung Indonesia (SAI / SAGIN). 

Musyawarah Umat Buddha Seluruh Indonesia (MUBSI)
Pada tahun 1962, anggota PERBUDHI cabang Yogyakarta dan Jawa Tengah menyatakan keluar dari PERBUDHI, kemudian membentuk Musyawarah Umat Buddha Seluruh Indonesia (MUBSI) dipimpin oleh Drs. Soeharto Djojosumpeno (Yogyakarta) yang yang terakhir menjabat sebagai staf pada Lemhanas. Keluarnya anggota PERBUDHI cabang Yogyakarta dan Jawa Tengah dipicu dengan pendapat bahwa kegiatan organisasi PERBUDHI tidak dapat berjalan dengan baik karena para Upasaka-Upasika yang tergabung dalam PUUI (Persaudaraan Upasaka-Upasika Indonesia) tidak tunduk kepada keputusan kongres, tetapi kepada Sangha.

Buddhis Indonesia
Pata tanggal 1 Januari 1965 anggota PERBUDHI cabang Semarang melepaskan diri dari PERBUDHI dan membentuk Buddhis Indonesia yang bermarkas di Vihara Tanah Putih Semarang. Buddhis Indonesia mendapat dukungan dari berbagai cabang PERBUDHI di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan menyatakan diri menjadi cabang Buddhis Indonesia. Awal perpecahan ini adalah ketidakserasian dan masalah pribadi antara tokoh-tokoh umat Buddha di Semarang dan Jawa Tengah dengan tokoh sentral umat Buddha, tetapi sebagai alasan untuk keluar dari PERBUDHI adalah keikutsertaan PERBUDHI dalam Konferensi World Buddhists of Fellowship (WFB) di Bangkok yang hadir pula utusan dari Malaysia. 

Federasi Umat Buddha Indonesia
Pada bulan Juli 1965 diadakan pertemuan antar organisasi-organisasi Buddhis yang ada untuk membuat landasan kerukunan dan kerjasama. Pertemuan ini dilanjutkan lagi pada bulan Agustus 1966 dan Oktober 1966. Pada pertemuan mereka bulan Februari 1967 berhasil dibentuk Federasi Umat Buddha Indonesia yang anggotanya adalah :
1.      Buddhis Indonesia
2.      Gabungan Tridharma Indonesia
3.      Musyawarah Umat Buddha Seluruh Indonesia
4.      Agama Hindu-Buddha Tengger
5.      Agama Buddha Wisnu Indonesia
PERBUDHI tidak ingin bergabung dengan Federasi Umat Buddha Indonesia dikarenakan adanya pernyataan bersama Federasi Umat Buddha Indonesia yang merugikan Sangha Suci Indonesia (Maha Sangha Indonesia) dan PERBUDHI.


Selasa, 11 Februari 2014

EVALUASI BELAJAR

EVALUASI BELAJAR
Evaluasi adalah penilaian dalam peroses pembelajaran.  
Menurut Buddha orang yang menerima ajaran akan memperoleh manfaat dalam lima hal yaitu sebagai berikut:
  1. seseorang mengetahui sesuatu yang baru yang belum pernah ia ketahui
  2. seseorang memahami lebih jelas apa yang pernah ia ketahui sebelumnya
  3. menyingkirkan pengetahuan yang salah
  4.  seseorang menghalau keragu-raguan
  5. meluruskan pemahamannya
Keberhasilan belajar mengajar dan penilaian (evaluasi)
1.keberhasilan belajar mengajar
   .indikator keberhasilan belajar mengajar
      * daya serapterhadap bahan pengajaran mencapai prestasi tinggi, artinya guru mampu mengajarkan dengan baik dan siswanya mampu menyerap pelajaran yang di berikan sehingga para siswa mampu menjabarkan apa yang di jelaskan oleh gurunya.
      *prilaku yang di gariskan dalam tujuan pengajaran secara khusus mampu dicapai oleh siswa secara indhividhu maupun kelompok, artinya guru memberikan materi secara rinci dan siswanya mampu mengerjakan tugas baik secara indhividhu maupun kelompok.
                            
2.keberhasilan penilaian
   a.tes formatif
penilaian ini digunakan untuk mengukur kemampuan para siswa hanya dalam satu atau beberapa bahasan, artinya siswa tidak menerima keseruhan mata pelajaran yang akan di evaluasi, supaya para siswa dapat memahami satu persatu tes yang di berikan dan supaya para siswa tidak bosen dalam tes formatif ini.
   b.tes subsumaif
tes ini meliputi sejumlah bahan pengajaran tertentu yang telah di jabarkan oleh gurunya, artinya untuk memperoleh gambaran daya serap siswa dan mengukur kemampuan prestasi siswa.
   c. tes sumatif
tes ini di adakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap bahan-bahan pokok bahasan yang telah di ajarkan selama satu semester, artinya untuk menetapkan tingkat atau tarap keberhasilan para siswa.

Keberhasilan belajar mengajar dan latihan di tandai dengan pemahaman dan kecakapan (patisambhida):
  1. Memahami maksud dan tujuan
Artinya parasiswa mampu memahami maksud dan tujuan yang di ajarkan oleh gurunya
     2.   Memahami intisari atau mampu meringkas
Artinya para siswa mampu memahami dan meringkas apa yang di berikan oleh gurunya sehingga para siswa bisa menjelaskan dan menjabarkan secara rinci
     3.menggunakan bahasa yang tepat
Artinya guru harus menggunakan bahasa yang tepat dalam system pembelajaran sehingga para siswa mudah mengerti apa yang di ajarkan oleh gurunya.

BAHAN EVALUASI
                                                                    
Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat dalam kurikulum yang sudah di pelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan. Biasanya bahan itu di kemas dalam buku paket untuk dikonsumsi oleh anak didik.setiap anak didik dan gurunya wajib mempunyai buku paket sehingga memudahkan dalam peruses belajar mengajar. Bila tiba masa ulangan, semua bahan yang di perogramkan dan harus selesai dalam jangka waktu tertentu, apabila tidak selesai maka meteri yang lain bisa tertinggal, dan guru bisa membuat soal sesuai dengan pembahasan tersebut.

SUASANA EVALUASI

Selain faktor tujuan, guru, anak didik, kegiatan pengajaran, serta bahan alat evaluasi, factor suasana evaluasi juga merupakan factor yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar karena pelaksanaan evaluasi biasanya didalam kelas. Semua anak didik di bagi menurut kelas masing-masing, misalnya kelas 1, 2, dan 3 dikumpul menurut tingkatan maasing- masing.
Besar kecilnya jumlah anak didik yang dikumpulkan didalam kelas dapat mempengaruhi suasana kelas. Artinya apabila terlalu banyak anak di dalam kelas tersebut maka sulit untuk di pantau dalam evaluasi.

Sikap yang merugikan dalam pelaksanaan evaluasi dari seorang pengawas adalah membiarkan anak didik melakukan kerjasama dengan anak didik yang di dekatnya.   Suasana yang demikian tentu saja, disadari atau tidak merugikan anak didik untuk bersikap jujur dengan sungguh-sungguh belajar di rumahdalam mempersiapkan diri dalam menghadapi ulangan. Dampak sikap pengawas yang demikian itu adalah mengakibatkan anak didik sebagian besar malas belajar dan memperhatikan penjelasan guru dalam proses belajar mengajar.

Sumber : strategi belajar mengajar. Drs. Syaiful bahri Djamarah, Drs. Aswan zain


PENDIDIKAN YANG IDEAL


PENDIDIKAN YANG IDEAL

Dalam Mensosialisasikan ajaran sang buddha menggunakan berbagai sistem pendekatan yang metodologis untuk pengajaran secara sederhana dan dapat diringkas sebagai berikut:

  1. PENDEKATAN YANG BERTAHAP
Untuk menyampaikan dhamma sang buddha menggunakan pendekatan psikologis,sesuai dengan latar belakang mereka dan menjelaskan  materi pokok secara mendalam, terperinci dan jelas sehingga tidak dapat menimbulkan keraguan yang dapat menyebabkan mereka mengabaikannya. dengan cara ini sang buddha mulai mangajar pada pendengarnya unyuk melakukan perbuatan kebajikan seperti kejujuran dan kedermawanan.sang buddha menjelaskan bahwa surga dapat dicapai dengan menjalankan kehidupan yang benar dan bersungguh-sungguh selama masih ada didunia ini,lalu sang buddha mengajarkan pada inti ajarannya yakni empat kebenaran mulia.setelah itu sang buddha memulai dengan tahap-tahap berikutnya tentang sebab awal dari penderitaannya yang di jelaskan dengan nyata, kemudian penyebab penderitaannya dan cara mengatasi penderitaan tersebut.

  1. PENDIDIKAN PENYESUAIAN
Kondisi dan situasi saat ini yang juga merupakan kondisi yang ideal dimana sesuai dengan sang buddha mengajarkan dhamma kepada masyarakat(jambudipa) pada wakyu itu.dengan cara pendekatan yang ideal kepada pendengarnya atau orang berlawanan pandangannya, sang buddha menggunakan pendekatan penyesuaian oleh: T.W. Rhys davids menyebutkan sebagai” menuang minuman anggur yang baru kedalam botol yang sudah usang. atau dengan kata lain sesuai dengan kondisi ideal yang digunakan oleh sang buddha ketika mengajarkan dhammanya pada saat itu. beliau menyesuaikan praktik dan gagasan yang sudah ada, dengan menyampaikan kotbahnya sesuai dengan karakter pendengarnya.suatu metode yang dikenal dengan : uppaya-kosalla.yaitu keterampilan yang bijaksana untuk mengubah cara pandang masyarakat, dengan demikian sang buddha mempunyai kemampuan untuk membaca karakter seseorang.yaitu dengan menjelaskan tentang “ dharma brahmavihara”. yaitu empat kebajikan luhur.

  1. PENDEKATAN ILUSTRASI
Pendekatan ini dengan menggumakan analogi,kiasan, cerita perumpamaan yang menggambarkan kehidupan ang buddha sehari-hari,hal ini sering dikatakan dalam teks: aku akian memberi kepada kalian suatu analogi, sebagai cara untuk menolong kapada seseorang yang memiliki kecerdasan agar dapat memahami arti dari apa yang telah dikatakan suatu kiasan agar menjadikan batin memahami ajaran dengan jernih.untuk mengajarkan arti dari jalan tengah,dengan analogi atau dengan cara-cara yang sama nafsu khayalan dan kebencian (raga, dosa,moha) dengan nafsu yang berapi-api digunakan dalam memberikan intruksi kepada jatila tiga bersaudara.dalam berbagai cara yang tertuang dalam kitab jataka dapat ditemukan bahwa pada setiap akhir kotbah sang budha dalam mengajar para siswanya menggunakan cerita atau dongeng/ gambaran.

  1. PENDEKATAN ANALISA
Cara ini adalah karateristik paling utama yang ditemukan dalm teks lebih awal.sang buddha menguraikan keseluruhan pengajaran sebagai syatu pola pandangan yang kritis dan analitis.agar dapat dibuktikan oleh mereka yang bijaksana,sang buddha sendiri memberikan suatu langkah analisa , karena tahapan tersebut bisa dalam suatu penjelasan secara absolut baik palsu atau benar sesuai dengan aturan yang sama untuk dipergunakan,menurut sang buddha,seorang guru harus memiliki 4 penguasaan analitis secara rinci dalam penjelasan kedua arti dan teori yang diajarkan sesuai dengan kapasitasnya, sebagai guru untuk menganalisis maksud dan arti atau alasan pelajaran (dhamma) media pendidikan (nirutti) dan keahlian dan intelektualnya (memahami secara mendalam dengan kesabaran, keyakinan diri yang mantap(pattibana) hal inilah yang akan mudah diserap secara analisa yang rinci dan sesuai dengan maksud dan maknanya.

  1. PENDEKATAN DENGAN PERCOBAAN

Sang buddha  tidak menghendaki orang yang menerima ajaran tidak mempunyai kemauan menyelidiki secara kritis.karena ajaran buddha secara prinsip dihormati sebagai pemikiran “prakmatisme” dan rasionalisme adalah suatu filosofi yang dapat dibuktikan melalui eksperimen yang ditemukan oleh sang buddha, dapat dipahami dari dua sudut pandang yaitu keberhasilan dan kegagalan dan dalam penyelidikan yang bersifat percobaan  pada kebenarannya sang buddha menunjukkan pada siswanya tentang cara dan metode yang praktis, oleh karena itu, keberhasilan beliau dalam mencapainya.untuk menerima ajaran yang bemar perlu diadakannya penyelidikan dan yang dapat dirasakan sendiri hasilnya setelah ajaran itu dipraktikan sendiri. sang buddha tidak ingin apa yang dikatakannya diterima begitu saja tanpa adanya penyelidikan terlebih dahulu tetapi mereka harus menguji kebenaran itu melalui pengalamannya sendiri bila tidak dengan cara demikian maka akan menemui kegagalan “seperti bunga yang indah berwarna-warni tetepi tidak memiliki aroma harum ” demikian juga dengan kata-kata yang baik,tidak ada maknanya tanpa ada pembuktiannya. dan berusahalah melakukan penyelidikan dengan merealisasikan atau menyadari hingga mereka menemukan dalam pengalamannya sendiri. 

STRATEGI PEMBELAJARAN

STRATEGI PEMBELAJARAN AGAMA BUDDHA

Agama Buddha adalah agama yang terbuka untuksiapa saja. Namun, sasaran pembabaran Dhamma atau ajaran-Nya yang sulit dimengerti, tidak mudah diterima oleh sembarangan orang yang sangat banyak nafsu belenggu. Dhamma  atau ajaran sang Buddha dapat mudah dimengerti oleh orang-orang yang sedikit debu dimatanya,  maksudnya orang yang dapat mengendalikan nafsu dan tetap sadar. Ajaran sang Buddha sangat meluas dan universal dan cukup rumit, maka dari itu strategi untuk memperlajari agama Buddha ini sangat perlu dipelajari agar tidak timbul  salah presepsi yang mengakibatkan orang-ornag berpandangan salah. Seperti sang Buddha ia tidak akan membabarkan dhamma dihadapan siapa saja yang ia temui, maka ia membuat strategi pembelajaran, yaitu perencanaan untuk mengajarkan dhamma.

Perencanaan

Suatu perencanaan merupakan unsure utama yang paling penting dalam melakukan suatu kegitan karena perencanaan mengandung tujuan, kebijaksanaan, dan cara mencapai tujuan itu sendiri. Dalam perencanaan Buddha mempertimbangkan situasi permasalahan dengan hambatan dan potensi-Nya. Ia menghindari ketidakpastian, dan sebaliknya memastikan prospek perkembangan pada masa yang akan datang. Dengan bahasa  kita sekarang lebih memilih alternatif yang terbaik sehingga dapat memanfaatkan sumber daya dengan efektif.
Setiap orang memiliki masalah sendiri, masing-masing bias berbeda pendapat dan Buddha tidak mengabaikannya. Setiap orang bisa berbeda kebutuhan dan keinginan, karena orang mempunyai keunikan sendiri. Buddha mempertimbangkan keunikan yang dimiliki setiap orang itu. Merencanakan pertolongan atau bantuan termasuk dalam bidang pendidikan, terutama pendidikan Buddhis. Saat kita membantu perlu memperhatikan pendapat dan keinginan orang yang perlu dibantu dan di didik, sedangkan peserta didik harus tahu mengapa ia ingin belajar dan diajar, hal seperti ini diperlukan motivasi, motivasi yang kuat dapat memberikan energi yang besar untuk melakukan kegiatan belajar. Suatu stretegi belajar pendidikan harus dimulai dengan memotivasi.

Agar kegiatan belajar dapat berjalan dengan baik, sangat diperlukan sebuah persiapan yang matang, ini juga merupakan faktor pendukung selain perencanaan diatas. Selain perencanaan dan persiapan, kondisi fisik dan pskologi juga saling berhubungan. Sedangkan faktor lingkungan juga faktor penting dalam melakukan suatu kegiatan belajar mengajar, baik lingkungan sosial, ekonomi, budaya, dan tempat yang terkait dengan situasi dan kondisi.

Strategi pendekatan

Karena setiap manusia memiliki keunikan dan berbeda keinginan dan kebutuhan. Pendekatan terhadap peserta didik sangat perlu diperhatikan, agar kita bisa mengerti berbagai potensi atau kapasitas, kebutuhan, sifat/karakter, dan minat peserta didik. Setiap orang wajib diterima sebagaimana adanya dengan kelebihan dan kekurangan dan kekuatan atau kelemahan., cara mendidik pun bermacam-macam agar peserta didik mendapat manfaat yang sebesar-besarnya.
Pendidikan diberikan secara sistematis dengan langkah bertahap. Suatu kegiatan harus dimulai dengan sasaran-sasaran yang mudah dicapai, agar memberi pengalaman berhasil yang mendorong langkah-langkah berikutnya. Cara bertahap seperti kita memperlakukan anak hilang yang baru kembali, perlu penyesuaian diri, selangkah demi selangkah diberi kesempatan untuk menenangkan diri. Keterampilan dalam cara pendekatan pun mempengaruhi dan berhubungan, karena menyangkut dengan apa yang dinamakan “Upaya Kausala” yang artinya cara untuk mencapai hal yang harus dicapai. Pengertian diatas merupakan cara untuk mencapai tujuan, yaitu Nibbana atau kebebasan. Istilah ini juga sering diartikan sebagai kepandaian atau keterampilan untuk membuat yang lain mencapai tujuan.
Belajar tidak hanya mengingat dan mengetahui tetapi harus dilaksanakan, seperti dalam Dhammapada (19) tertulis “ meskipun seseorang banyak membaca kitab suci, tetapi tidak sesuai dengan ajarannya, orang lengah itu sama seperti gembala yang menghitung sapi orang lain, ia tidak akan memperoleh kehidupan suci”. Dalam pendidikan membangun jiwa tidak mungkin tanpa membangun raga, dan membangun raga tidak mungkin tanpa membangun jiwa.
 untuk mendekati peserta didik strategi pendekatan harus diperhatikan seperti dibawah ini:
1.      Pendekatan halus atau positif, yaitu menunjukkan apa yang baik dan hasilnya menimbulkan kesenangan atau keuntungan.
2.      Pendekatan kasar atau negative, yaitu menunjukkan apa yang tidak baik dan menimbulkan penderitaan atau kesusahan.
3.      Gabungan dari pendekatan halus dan kasar.
Tentu saja peserta didik tidak kehilangan kebebasannya, tetapi mereka harus memahami konsekuensi yang akan dihadapi dan dipilihnya, agar tidak mengakibatkan seorang siswa didik merasa tidak diperhatikan atau dipedulikan atau dimasabodohkan.

Pendekatan halus memiliki beberapa sifat, yaitu pendekatan halus berupa fasilitasi yang bersifat informative, dan tujuan pencapaian ditetapkan sendiri oleh peserta didik. Yang kedua pendekatan berupa persuasive yang bersifat mengajak atau melalui argumentasi atau diskusi, dengan memberikan alasan dan prospek baik yang menyakinkan. Cara persuasif juga merupakan manipulasi, tetapi bukan manupulasi kecurangan atau dusta yang merugikan seseorang, melainkan manipulasi disini merupakan upaya untuk mempengaruhi perilaku, sikap, dan pendapat orang lain tanpa sepengetahuan atau disadari orang tersebut.

Demikian juga pendekatan kasar, pendekatan kasar memiliki sifat yaitu sifat koersi yang merupakan sifat memaksa, apakah itu intruksi, hokum, atau kontrak, selalu diikuti sanksi. Pendekatan kasar ditemukan pada ajaran tentang perbuatan yang menghasilkan perbuatan buruk dan kelahiran dialam-alam binatang atau pun neraka. Ini merupakan strategi-strategi pendekatan untuk para peserta didik. Tujuan dari strategi pendekatan dalam pendidikan ini merupakan untuk membuat fondasi yang kuat dalam bidang pendidikan Buddha terutamanya agar tidak terpengaruh dengan keadaan yang lebih mengutamakan materi dan budaya luar yang mengakibatkan ketinggalan dalam hal pendidikan.
Metode Pengajaran
Penyampaian ajaran dilakukan kepada siswa didik dengan pendekatan individu atau kelompok. Penyampaian meteri diberikan secara sistematis agar mudah dipahami dan diingat. Buddha sering mengulang khotbanya yang penting pada berbagai kesempatan. Pengungkapan konsep terkadang juga kekurangan kata-kata, karena itu memakai ungkapan atau perumpamaan, contoh-contoh, sinonim, visualisasi, atau dipergunakan juga dalam memberi penjelasan. Buddha jua mengizinkan orang yang mempelajari ajaran-Nya  untuk menggunakan bahasan masing-masing, tehnik-tehnik semacam ini memudahkan para peserta didik untuk memahami apa yang telah diajarkan. Selain itu, komunikasi yang baik akan membawa keberhasilan dalam proses belajar mengajar, dengan menggunakan diskusi dan debat merupakan cara yang efektif  untuk mengembangkan potensi selama tidak mengabaikan manfaatnya.
Agar memperoleh pengartian yang benar, diperlukan kesaksian dari orang lain dan pengamatan atau perenungan sendiri yang setepat-tepatnya secara bijaksana, sikap yang memiliki sifat suka dan tidak suka, kebencian, kegelapan batin, dan ketakutan dapat merintangi seseorang  untuk memahami kebenaran apa adanya. Setiap peserta didik memerlukan pengalaman belajar baik individu dan kelompok untuk dapat mengembangkan latihan sesuai denagn kebutuhan masing-masing agar memahami masalah dan dapat memecahkan masalah.

Dalam stetegi pendidikan cara-cara diatas sangat mempengaruhi kemajuan pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan agama Buddha agar para peserta didik dapat mengembangkan potensi yang ada didalam diri mereka masing-masing dan nantinya dapat meneruskan ajaran yang mereka dapatkan ke generasi selanjutnya.

LINGKUNGAN PENDIDIKAN

LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Pengembangan kesadaran terhadap  lingkungan hidup didasarkan pada sikap mental, sebagai rangkaian hubungan sebab akibat yang saling bergantungan secara utuh. Melalui pengembangan batin yang berdasarkan kebijaksanaan, perilaku moral (sila), konsentrasi, dan belas kasih. Menyadari betapa pentingnya keterkaitan antara  manusia dengan lingkungan secara luas, sehingga manusia tidak dapat hidup sendiri. Menjaga keseimbangan antara dunia kecil (diri manusia) dan dunia besar (lingkungan yang luas).
1.  Pengertian Fungsi Lingkungan Pendidikan
 Lingkungan mencakup segala hal disekeliling kita, yang terkait secara langsung maupun tidak langsung. Kegiatan kita berhubungan serta bergantung pada lingkungan. Lingkungan adalah faktor keseluruhan, kakas (force), atau keadaan yang mempengaruhi atau berperan atas hidup dan kehidupan kita.juga dikatakan bahwa lingkungan adalah segala gatra ekologi yang ditinjau dari segi manusia.
Dari pengertian di atas maka dapat diketahui secara pasti bahwa lingkungan memiliki fungsi yang fundamen dalam kehidupan manusia. Sebagai seorang Buddhisme, kita perlu mengetahui fungsi lingkungan pendidikan agar dalam melakukan segala sesuatu kita selalu berlandaskan pada ajaran Buddha yang selalu memperhatikan lingkungan.
2.  Wawasan Buddhis terhadap Kesatuan Lingkungan
Wawasan Buddhis terhadap kesatuan lingkungan mencakup faktor biotik (hidup) dan abiotik (mati). Yang termasuk dalam faktor biotik adalah makhluk hidup (manusia, hewan, tumbbuhan) sedangkan faktor abiotik adalah alam tempat makhluk hidup itu tinggal.  

a.      Pandangan ajaran Buddha terhadap alam(alam semesta)
Menurut sang Buddha, bahwa sifat segala sesuatu adalah terus berubah(anicca). Begitu pula dengan sifat alam. Alam bersifat dinamis dan kinetik, selalu berproses dengan seimbang. Unsur-unsur alam yang tampak dalam pandangan Buddha ada empat, yakni unsur padat(pathavi), cair(apo), panas(tejo), gerak(vayo).
Hukum yang berlaku pada alam(alam semesta) dapat dikategorikan dalam lima aturan yang disebut panca niyamadhamma, yaitu utuniyama(hukum fisika), bijaniyama(hukum biologi), cittaniyama(hukum psikologis), kammaniyama(hukum moral), dhammaniyama(hukum kausalitas).
b.      Pandangan ajaran Buddha terhadap makhluk hidup(manusia dan hewan)
Makhluk hidup dalam ajaran Buddha, terdiri dari manusia dan hewan. Tumbuhan tidak termasuk. Makhluk hidup (manusia dan hewan) tersusun atas lima kelompok kehidupan yang disebut lima khandha, yang terdiri dari rupa(wujud yang tampak/badan jasmani), vedana(perasaan), sanna (pencerapan,mengingat), sankhara (keadaan-keadaan pikiran), vinnana(kesadaran). Lima khandha ini secara ringkas disebut jasmani dan batin(rupa dan nama). Namun demikian, tidak berarti manusia dapat merusak tumbuh-tumbuhan dengan semaunya tanpa memperhatikan akibat yang akan terjadi nantinya.
Pandangan Buddhis mengenai lingkungan tercermin dari ayat suci ini: “bagai seekor lebah yang tidak merusak kuntum bunga, baik warna maupun baunya, pergi setelah memperoleh madu, begitulah hendaknya orang bijaksana mengembara dari desa ke desa” (Dhp. 49). Dalam ekosistem, lebah tidak hanya mengambil keuntungan dari bunga, tetapi juga sekaligus membayarnya dengan membantu penyerbukan. Perilaku lebah memberi inspirasi, bagaimana seharusnya menggunakan sumber daya alam yang terbatas (Wijaya-Mukti, 2004:418).
Agganna-sutta meriwayatkan hubungan timbal-balik antara perilaku manusia dan evolusi perkembangan tumbuh-tumbuhan. Jenis padi (sali) yang pertama dikenal berupa butiran yang bersih tanpa sekam. Padi dipetik pada sore hari, berbuah kembali keesokan harinya. Dipetik pagi-pagi, berbutir masak kembali di sore hari. Semula manu­sia mengumpulkan padi secukupnya untuk sekali makan. Kemudian timbul dalam pikiran manusia, bukankah lebih baik mengumpulkan padi yang cukup untuk makan siang dan makan malam sekaligus? Pikiran berikutnya yang timbul mudah diterka – lebih baik lagi kalau dikumpulkan untuk dua hari, empat hari, delapan hari, dan seterusnya. Sejak itu manusia mulai menimbun padi. Padi yang telah dituai tidak tumbuh kembali. Maka, akibat keserakahannya, manusia harus menanam dan menunggu cukup lama hingga padi yang ditanamnya berbuah. Batang-batang padi mulai tumbuh berumpun. Lalu butir-hutir padi pun berkulit sekam (D. III. 88-90).
Sikap yang terpusat pada diri manusia dan anggapan bahwa dunia ini disediakan untuknya saja tidak membuat hidup manusia menjadi lebih baik. Individualisme dan kapitalisme ataupun lawannya sosialisme dan komunisme membayar kemajuan duniawi dengan permasalahan lingkungan. Lingkungan hidup menjadi tidak terpelihara rusak dan justru mengancam kehidupan manusia sendiri. Hal itu terjadi karena kehidupan non-materi atau kemajuan rohani tidak memperoleh tempat yang wajar. Falsafah hidup Buddhis menghendaki keseimbangan antara pemenuhan kepentingan materi dan spiritual. Keseimbangan hidup semacam itu, menurut Cakkavatti-sihanada-sutta, sekalipun kepadatan penduduk bertambah karena tingkat kematian menurun atau harapan hidup manusia meningkat, manusia masih dapat cukup makan (D.Ill.75).
Tiga peristiwa utama menyangkut kehidupan Buddha, kelahiran, penerangan, dan kematian, mengambil tempat di bawah pohon terbuka. Buddha menasehatkan kepada biarawan untuk mencari-cari tempat yang luas di tengah hutan dan kaki pohon untuk praktek meditasi. Udara menyenangkan, tenang dalam suatu lingkungan alami dipertimbangkan sebagai sarana untuk pertumbuhan spiritual.
Perhatian Buddha untuk hutan dan pohon digarisbawahi dalam Vanaropa Sutta (S.I.32) di mana konon penanaman kebun (aramaropa) dan hutan (vanaropa) adalah tindakan yang berjasa, menganugerahkan jasa siang malam sebagai penolong. Dengan jelas Buddha menimbang rasa bagi aspek hutan dan pohon yang bermanfaat. ‘Vana‘ atau hutan dalam Dhammapada digunakan oleh Buddha sebagai perumpamaan kata-kata penuh arti diberlakukan bagi konteks dunia saat ini: tebanglah hutan (nafsu) sampai habis, jangan tinggalkan satu pohon pun. Dari hutan itulah tumbuh rasa takut (Dhp.283).
Bagaimanapun, menanam hutan (vanaropa) berkait dengan konsep menanam hutan, dipahami oleh ahli ilmu lingkungan hidup, dalam rangka menyelamatkan dunia dari penebangan hutan dan desertifikasi sebagai akibatnya. Biarawan dilarang dalam vinaya untuk menebang pohon, kepercayaan populer yang percaya bahwa dalam pohon sedang hidup organisma. Buddha, meletakkan aturan yang menjelaskan, “kenapa orang bodoh mengurangi dan menyebabkan yang lain memotong pohon. Tentu saja, orang percaya bahwa pohon hidup.”
Dalam Vinaya Buddha menetapkan bahwa seorang bhikkhu yang menyebabkan kerusakan pada tanaman dinyatakan bersalah. Ajaran Buddha mengenai sikap menghormati dan tanpa kekerasan, tidak hanya berlaku terhadap semua makhluk hidup, tetapi juga terhadap tumbuh-tumbuhan. Buddha Gotama dan siswa-Nya tidak merusak biji-bijian yang masih dapat tumbuh dan tidak akan merusak tumbuh-tumbuhan. (D.I.5). Di musim hujan (Vassa) para bhikkhu melakukan “rakatan dan tidak melakukan perjalanan menghindari kemungkinan dan menginjak tunas-tunas tanaman atau mengganggu kehidupan “binatang-binatang kecil yang muncul setelah hujan (Vin.I.137).
Peradaban menghendaki hidup ini memanfaatkan sumber alam yang tersedia. Namun karena hidup manusia bukan benalu, maka ia seharusnya berusaha memulihkan sumber alam yang telah dipakainya. Schumacher mengatakan setiap pengikut Buddha wajib menanam sebatang pohon setiap beberapa tahun dan menjaganya sampai sungguh-sungguh hidup. Orang yang pandai dan bijaksana akan berusaha meningkatkan kesejahteraan atau mencapai sukses yang sebesar-besamya hanya dengan menggunakan sumber daya yang mi­nimal, seperti ia meniupkan napasnya membuat api kecil menjadi besar(Ja.I.123).
Sumber daya alam yang penting adalah hutan. Hutan dengan segala isinya merupakan sumber kehidupan. Hutan diperlukan karena menghasilkan bahan baku bagi industri, tetapi juga merupakan paru-paru dunia. Lebih dari itu, hutan mendapat tempat yang khusus dalam agama Buddha. Hutan adalah tempat yang menyenangkan, baik untuk melakukan latihan meditasi. Di sana para petapa yang telah bebas dari nafsu dan menyukai kcsunyian akan menyepi dan merasa gembira (Dhp 99). Manusia sangat berkepentingan untuk selalu menjaga kelestarian hutan.
  1. Pendekatan Buddha Terhadap Masalah Lingkungan
Bidang permasalahan lingkungan, seperti masalah global, penghabisan lapisan ozon, penebangan hutan, dan pengurangan keanekaragaman makhluk. Permasalahannya disebabkan oleh pengurangan keanekaragaman makhluk sebagai bagian dari tantangan terbesar yang dihadapi manusia saat ini. Dampak dari pengurangan aneka ragam makhluk mempengaruhi ekosistem, dan kehidupan manusia.
Tujuan terakhir praktek Buddhisme adalah untuk mencapai Ke-Buddhaan, yang mana dalam terminologi modern berarti untuk menjadi apa yang ideal baik manusia sebagai Buddha. Praktek dalam Buddhisme ada enam macam praktek untuk mencapai ke-Buddhaan (sad paramita). Enam macam praktek terdiri dari memberi dana (dana-paramita), kesempurnaan moral (sila-paramita), kesabaran (ksanti-paramita), tekun/semangat (virya-paramita), praktek meditasi (dhyana-paramita), dan kebijaksanaan (prajna-paramita).
Praktek Buddhisme untuk pemecahan permasalahan lingkungan adalah langsung sesuai dengan harapan Buddhisme yang mengakibatkan pemindahan rasa sakit dari semua mahluk hidup. Alat-Alat yang dikembangkan sebagai rencana kegiatan dan norma-norma etis Buddha didasarkan pada praktek, tidak hanya memimpin ke arah memecahkan permasalahan lingkungan tetapi juga secara bersamaan memenuhi tujuan Buddhisme.
Permasalahan-permasalahan seperti penebangan hutan dan komersialisasi, pengembangan daratan dan penggunaan bahan kimia, managemen perlindungan lingkungan, binatang yang dipergunakan untuk eksperimen dan makanan. Keadaan ini memerlukan solusi dan pemecahan yang serious dari berbagai sudut pandang.
Pencapaian kebijaksanaan (prajna-paramita) menjadi bagian dari enam macam praktek dimana Bodhisattva mencapai penerangan (sad paramita). Konsep ini mula-mula menunjuk pencapaian kebijaksanaan absolut (prajna-paramita). Maksudnya menguji gagasan kebijaksanaan dalam hubungan dengan dua konsep pokok Buddha sebagai cara untuk memecahkan permasalahan lingkungan. Yaitu hukum sebab akibat yang saling bergantungan (pratityasamutpada) dan jalan tengah.
Doktrin hukum sebab akibat mengajarkan bahwa suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sebagai gantinya ditandai adanya saling behubungan dan saling ketergantungan pada semua penomena. Konsep pokok dari semua gejala ditandai adanya hubungan ruang (ontologi) dan waktu (formasi). Lingkungan ekologis saat ini adalah ruang dan waktu. Tingkah laku manusia yang merusak hubungan ekosistem, dipertimbangkan sebagai keadaan sakit apabila dihubungkan dengan konsep hukum sebab-akibat, yaitu: mengganggu hubungan historis dan ekologis, dengan demikian mengikis kelangsungan hidup itu sendiri.

3.  Manajemen Lingkungan dalam Buddhis
Mengenai manajemen lingkungan di dalam Buddhisme, suatu konsep basis dasar diuraikan dengan menekankan empat aspek yang berbeda:
a.       Buddhisme menerima kenyataan yang berhubungan dengan hukum alam sebagai basis antara manusia dan lingkungan; dengan konsep yang disebut “tilakkhana” atau ” tiga karakteristik” (segala sesuatu mengalami perubahan atau tidak abadi, sesuatu yang berkondisi mengalami bentuk penderitaan/tidak memuaskan, dan segalanya tanpa inti yang kekal dan abadi).
b.       Konsep pendekatan holistik, berdasar pada pola hubungan yang erat antara lingkungan dan manusia, dengan demikian adanya saling ketergantungan, yang menjadi dasar pertimbangan dalam usaha memecahkan permasalahan lingkungan.
c.        Suatu konsep lingkungan berdasar pada “empat kebenaran mulia”, yang mana masalah lingkungan yang akan dipecahkan sesuai dengan aturan yang sistematis:
Ø  Investigasi masalah lingkungan.
Ø  Pemahaman penyebab masalah dan penyebab atau kunci solusinya.
Ø  Merealisir sasaran dengan pemecahan masalah.
Ø  Suatu pemahaman benar terhadap cara pemecahan masalah untuk dikembangkan dan diikuti.

d.      Konsep “jalan tengah” ke arah manajemen lingkungan, melalui pelatihan hidup manusia pada atas tiga aspek inti:
Ø   pengembangan dan pelatihan etika/moral lingkungan.
Ø   pengembangan dan pelatihan suara hati terhadap lingkungan.
Ø   pengembangan dan pelatihan terhadap pemahaman dan kebijaksanaan lingkungan, seperti halnya pengertian yang mendalam terhadap kenyataan lingkungan.


Ada lima cara manajemen lingkungan dalam Buddhisme:
1        Menerima kenyataan alam dan menerapkannya sebagai basis dan tujuan manajemen lingkungan.
2        Mencoba untuk mempersatukan pengembangan manusia dan manajemen lingkungan dengan menggunakan pendekatan holistik dengan mempertimbangkan semua faktor-faktor manajemen yang terkait.
3        Mencoba untuk bebaskan hidup manusia dari berbagai pengotoran, seperti ketidak-tahuan, kasih sayang, dan keinginan serta bertindak mempromosikan lingkungan dengan praktek ajaran Buddha, keduanya adalah ajaran dan disiplin.
4        Suatu sistem manajemen lingkungan berdasar pada tiga langkah-langkah:
a.       Mempelajari sekitar permasalahan manajemen lingkungan
b.      Mengembangkan sistem manajemen lingkungan.
c.       Menemukan alat-alat untuk mengendalikan dan memeriksa manajemen lingkungan.
5.      Manajemen lingkungan dengan memasukan kehidupan biarawan dan petunjuk menurut aturannya sehingga menemukan keharmonisan dengan alam.
Ada tiga ukuran untuk diambil mengenai manajemen lingkungan:
a.       Mengembangkan pemahaman dan kebijaksanaan untuk kebenaran yang menguasai hubungan antara lingkungan dan manusia.
b.      Menanami lingkungan dengan suara hati dan pikiran.
c.       Menanami etika/moral mengenai lingkungan.

4.  Mengembamgkan Kesadaran terhadap Lingkungan Pendidikan Buddhis
Kesadaran dalam melindungi kehidupan dan lingkungan hidup telah dihasilkan sampai saat ini. Buddhisme telah memperkenalkannya sebagai salah satu hukum dasar utama sekitar 25 abad yang lalu untuk para pengikutnya. Buddhisme sesungguhnya menghadirkan jalan cinta kasih. Buddha menunjukkan rasa cinta kasihnya secara lengkap seperti yang terlihat ketika cinta kasih melindungi semua makhluk. Buddha mengajarkan bahwa bagi yang mengikuti ajaran-Nya perlu mempraktikkan cinta kasih yang tulus, tidak merugikan semua mahluk, tidak hanya untuk melindungi umat manusia, tetapi juga untuk melindungi tumbuh-tumbuhan dan binatang. Buddha dengan kebijaksanaan yang sempurna,melihat semua mahluk di alam semesta adalah sama secara alami, semua binatang, dan manusia hidup bekerja sama, satu sama lain menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Lingkungan eksternal benar-benar terkotori oleh karena itu lingkungan internal benar dirusak. Ketamakan telah mendorong umat manusia untuk mencukupi permintaan yang berlebihan, dan mengambilnya dalam persaingan yang tak ada akhirnya, mendorong ke arah perusakan diri dan lingkungan. Membandingkan pikiran yang tamak dan tak sehat dengan semangat hidup sederhana dan dengan puas berlatih seperti yang diajarkan Buddha.
Hidup dalam keselarasan bukan berarti penghapusan kebenaran dan pengetahuan, tetapi untuk tinggal dalam keselarasan dengan semua mahluk dan alam. Pada dasarnya bagi yang memahami pengajaran Buddha akan membatasi keakuan, untuk tinggal selaras dengan alam, tanpa merugikan lingkungan. Kemudian akan melihat tingkat mana yang sebaiknya diteliti dan dilindungi untuk digunakan pada masa datang oleh generasi berikutnya dan makhluk lain. Keserakhan yang berlebihan untuk memiliki segalanya bagi dirinya, atau untuk kelompok sendiri, membuat buta. Disiapkan untuk berkelahi, berperang, menyebabkan kematian, penyakit, kelaparan, membinasakan semua jenis makhluk hidup, secara berangsur-angsur memperburuk lingkungan hidup. Mencoba untuk memaksimalkan keuntungan, tanpa terkait dengan dampak eksplorasi negatif yang mendorong kearah penghabisan sumber alam, melepaskan zat beracun ke udara, air, bumi, mendorong ke arah polusi lingkungan, membinasakan keuntungan ekologis.
Banyak vihara hutan yang didirikan di pegunungan menunjukkan penyesuaian diri yang harmonis dengan alam. Hidup tenang dalam hutan membantu praktek ajaran Buddhis untuk meningkatkan batin, dan pada waktu yang sama, juga melindungi binatang tinggal di daerah itu. Pengikut Buddha dengan pikiran yang bersikap toleran dan penuh kasih menyesuaikan diri dengan tumbuh-tumbuhan yang alami, binatang buas di hutan, dengan keselarasan dan berhubungan timbal balik. Orang menggunakan oksigen yang sebagian besar dihasilkan oleh pohon, dan sebagai imbalannya, orang memelihara pohon itu. Binatang buas mungkin datang untuk makan tanaman panenan yang ditanam oleh vihara tanpa memikirkan resiko untuk dibunuh. Buddhisme hidup harmonis dengan sepenuhnya, berbeda dari yang kompetitif, menentang kehidupan dan memberantas alam.
Keyakinan yang seksama, secara teknis nampak paham lingkungan merupakan suatu ungkapan efektif pada pandangan hidup Buddha. Mengundang untuk mempertimbangkan lima hubungan antara praktek dan kesehatan hidup secara umum. Hubungan dengan kesehatan, konsentrasi, etika, dan kebijaksanaan.
Hubungan dengan kesehatan: praktek adalah jalan meningkatkan kesehatan pribadi, dan menghubungkan kesehatan pribadi lingkungan. Praktek Buddha mengarahkan pikiran; itu sesungguhnya sebagai bentuk kesehatan mental. Kemudian kesehatan mental berpengaruh terhadap kesehatan phisik. Sedanglah melakukan kesehatan seseorang pribadi mempimpin tak bisa diacuhkan untuk suatu perhatian dengan kesehatan lingkungan. Bagaimana kesehatan makanan yang kamu makan, air yang kamu minum, atau udara yang kamu hirup? sebagian besar jawaban, tergantung pada bagaimana lingkungan yang sehat. Adalah bukan sukar untuk melihat mengapa orang menjadi sangat peka terhadap kerusakan lingkungan: perbedaan antara dirimu dan lingkungan seperti menyesatkan sebagai perbedaan antara mengurus pikiran dan badan.
Hubungan dengan konsentrasi, belajar dari diri sendiri, dapat membersihkan pikiran; belajar dari diri sendiri, dapat membantu makhluk lain. Biarawan Zen berkata praktek adalah “tidak ada yang khusus”? tidak ada tambahan” Tujuan belajar Buddhisme bukan untuk belajar Buddhisme, tetapi untuk belajar diri sendiri,” menurut Shunryu Suzuki, Master Zen dari Jepang. Pertanyaan yang sama menjadi dasar bekerja pada lingkungan, sebab banyak permasalahan lingkungan sedikitnya dapat dikurangi ke berbagai pilihan pribadi.
Kesusilaan adalah penting untuk praktek, dan kesusilaan menuntut suatu perhatian untuk kesehatan makhluk lain. Buddha menjelaskan delapan usur jalan utama yaitu pandangan, pikiran, ucapan, perbuatan, pencaharian, usaha, perhatian, dan konsentrasi yang benar.

Kebijaksanaan dapat menunjukkan hidup dan hidup dapat menunjukkan kebijaksanaan. Latihan ini adalah salah satu dari tugas ekologi, studi bagaimana ekosistem berfungsi. Pemikiran lewat dari sini akan sungguh-sungguh menghasilkan kebijaksanaan, tetapi bukan jenis kebijaksanaan yang dicari dalam praktek Buddha. Ekologi, seperti umumnya ilmu pengetahuan lain, analitis, penerangan, pada sisi lain, cara terbaik diuraikan sebagai intuitif. Tetapi ilmu lingkungan, dengan memperhatikan hubungan antara hal-hal, yang dibangun semacam resonansi dari segi pandangan Buddha.