Asal Mula Hubungan Seksual
Melakukan
hubungan kelamin dapat menyebabkan kelahiran seorang anak manusia. Itulah
pandangan umum yang berlaku. Sudah menjadi pandangan umum bahwa kelahiran
seorang anak manusia itu adalah akibat dari hubungan kelamin sepasang manusia,
lelaki dan perempuan. Karenanya,
dalam pandangan tradisional hubungan kelamin hanya dibenarkan dalam rangka
reproduksi manusia atau prokreasi;yang diawali terlebih dahulu oleh pasangan
yang bersangkutan dengan pernikahan. Suatu ikatan bahwa tubuh perempuan yang
subur itu hanya akan melahirkan anaknya dari lelaki yang menjadi pasangannya.
Namun,
pandangan umun bahwa hubungan kelamin menyebabkan munculnya manusia, bisa juga
berlaku kebalikannya bila dilihat dalam pandangan Buddhis tentang munculnya manusia.
Kemunculan manusia, seiring dengan terbentuknya bumi yang menjadi tempat
penghuninya ini, juga menjadi awal atau asal mula terjadinya hubungan kelamin. Dalam Aganna
Sutta yang mengisahkan tentang munculnya bumi dan manusia itu terungkap
bahwa justru dengan adanya manusia terlebih dahulu melalui proses
pembentukkannya seperti adanya kelamin yang menjadikan dua jenis makhluk
berbeda lelaki dan perempuan, barulah kemudian muncul niat berhubungan kelamin
antara sesama manusia. Kemunculan manusia menjadi awal mula hubungan kelamin.
Pandangan
agama Buddha tentang munculnya manusia tidak bisa dilepaskan dengan terjadinya
bumi itu. Peristiwa itu sekaligus mengungkapkan tentang awal mula terjadinya
hubungan kelamin, sebagaimana yang terungkap di dalam Aganna Sutta di
bawah. ini. (Wowor, Corneles, (1984), Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Agama
Buddha, Jakarta: Akademi Buddhis Nalanda). Vasetta, terdapat suatu saat,
cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini
hancur. Dan ketika hal ini terjadi, umumnya makhluk-makhluk terlahir kembali di
Abhassara (alam cahaya); di sana mereka hidup dari ciptaan batin (mono
maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di
angkasa, hidup dalam kemegahan. Mereka hidup demikian dalam masa yang lama
sekali. Pada waktu itu (bumi kita ini) semuanya terdiri dari air, gelap gulita.
Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang maupun
konstelasi-konstelasiyang kelihatan; siang maupun malam belum ada,... laki-laki
maupun wanita belum ada. Makhluk-makhluk hanya dikenal sebagai makhluk-makhluk
saja.
Vasettha,
cepat atau lambat setelah suatu masa yang lama sekali bagi makhluk-makhluk
tersebut, tanah dengan sarinya muncul keluar dan dalam air. Sama seperti
bentuk-bentuk buih (busa) di permukaan nasi susu masak yang mendingin.
Demikianlah munculnya tanah itu. Tanah itu memiliki wama, bau dan rasa. Sama
seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warna tanah itu; sama seperti
madu tawon murni, demikianlah manis tanah itu. Kemudian
Vasettha, di antara makhluk-makhluk yang memiliki sifat serakah (lokajatiko)
berkata: O apakah ini? Dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan
mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk dalam
dirinya. Makhluk-makhluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari
tanah itu dengan jari-jari ... makhluk-makhluk itu mulai makan sari tanah,
memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka. Dan
dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh makhluk-makhluk itu lenyap. Dengan
lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan
konstelasi-konstelasi nampak... siang dan malam... terjadi. Demikian, Vasettha,
sejauh itu bumi terbentuk kembali.
Vasettha,
selanjutnya makhluk-makhluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup
dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan
atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan
terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh
yang indah dan sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh yang buruk. Dan karena
keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh yang indah memandang lendah
mereka yang memiliki bentuk tubuh yang buruk .... maka sari tanah itu pun
lenyap... Ketika
sari tanah lenyap... muncullah tumbuhan dari tanah (bhumipapatiko). Cara
tumbuhnya seperti cendawan ... Mereka menikmati, mendapatkan makanan, hidup
dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung
demikian dalam masa yang lama sekali......Sementara mereka bangga akan
keindahan diri mereka, mereka menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang
muncul dari tanah itu pun lenyap. Selanjutnya tumbuhan menjalar (badalatd)
muncul ... warnanya seperti dadi susu atau mentega murni, manisnya seperti madu
tawan murni.
Mereka
menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar itu... maka
tubuh mereka menjadi lebih padat; dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak
lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk.Dan karena keadaan
ini, maka mereka yang memiliki tubuh indah memandang rendah kepada mereka yang
memiliki bentuk tubuh buruk... Sementara mereka bangga akan keindahan tubuh
mereka sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itu pun
lenyap Kemudian
Vasettha, ketika tumbuhan menjalar lenyap.... muncullah tumbuhan padi (sola)
yang masak di alam terbuka, tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir
bersih. Pada sore hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam.
Pada keesokan paginya padi itu telah tumbuh dan masak kembali, demikian terus
menerus padi itu muncul.
Vasettha,
selanjumya makhluk-makhluk itu menikmati padi (masak dari alam terbuka,
mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini
berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang
mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan
perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. Bagi
wanita nampak jelas kewanitaannya (itthilinga) dan bagi laki-laki nampak
jelas kelaki-lakiannya (purisalinga). Kemudian wanita sangat
memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-laki pun sangat memperhatikan
keadaan wanita. Karena mereka terlalu sering saling memperhatikan keadaan mereka
satu sama lain, maka timbullah nafsu indriya yang membakar tubuh mereka. Dan
sebagai akibat adanya nafsu indiriya tersebut, mereka melakukan hubungan
kelamin.
Vasettha,
ketika makhluk-makhtuk lain melihat mereka melakukan hubungan kelamin..., maka
mereka pun kemudian mengikutinya! Seterusnya
sampai kini, manusia yang katanya semakin beradab dan banyak mewujudkan
berbagai ragam kebudayaan ini, sampai yang secanggih bom nuklir, pesawat
antariksa, komunikasi interaktif internet dan lain sebagainya, tetap saja tak
luput dari persoalan seksualitas, terutama yang bertumpu pada hubungan kelamin. Apakah,
sampai menjelang akhir hayatnya, ketika nafas kehidupan yang mendiami tubuhnya
akan berakhir, persoalan seksualitas dalam kehidupan manusia itu tetap saja
tidak terselesaikan? Apakah sungguh karena hubungan seksualitas itu mengawali
manusia, dan munculnya manusia mengawali terjadinya hubungan seksualitas,
persoalan seksualitas akan selalu menyertai kehidupan manusia?
Bagaimanakah
dengan langkah kemanusiaan, ketika kebahagiaan sejati itu ternyata sungguh
terdapat di dalam padamnya dan berakhirnya hawa nafsu atau Nirvana? Bila
api tanha belum berakhir dan terus menyala, maka ini berarti kisah dan cerita
suka-duka perjalanan hidup manusia yang berkenan dengan seksualitas itu akan
masih terus hadir dan berkelanjutan.
0 komentar:
Posting Komentar